Kamis, 28 Juni 2012

ADAKAH MAKHLUK LAIN DARI ANGKASA LUAR?

ADAKAH MAKHLUK LAIN DARI ANGKASA LUAR?

Oleh : Erich von Däniken

KATA PENGANTAR
CHARIOTS OF THE GODS
Untuk menulis buku ini diperlukan keberanian; demikian pula untuk membacanya. Mengapa? Karena teoriteorinya
serta pembuktian dari teori-teori itu tidak cocok dengan mosaik arkeologi tradisionil yang telah dengan
susah
payah disemen dengan tangguhnya. Para sarjana akan
menyebutnya omong kosong dan akan
memasukkannya
ke dalam buku daftar kata-kata yang sebaiknya tak usah disebut di sini. Orang awam akan
menyembunyikan
dirinya bila mereka dihadapkan kepada kemungkinan untuk menyelidiki masa lampau. Bahkan
penyelidikan
tentang masa depan pun akan
dianggapnya lebih misterius dan lebih bertualang lagi.
Namun demikian, ada satu hal yang sudah pasti yakni sesuatu yang tidak konsisten, tentang masa lampau kita
itu; tentang masa lampau ribuan juta tahun yang telah silam. Masa lampau yang penuh dengan dewa yang
pernah mengunjungi bumi ini dengan mengendarai kapal ruang angkasa. Kemajuan tehnik tak terbilang
pesatnya di masa yang telah silam itu. Banyak sekali pengetahuan masa lampau itu yang sekarang baru
sebagian saja yang dapat kita temukan kembali. Ada sesuatu yang tidak tetap teratur. Pula mengenai arkeologi
kita, mengapa? Karena manusia telah menemukan atau mengetahui batere sumber listrik; ribuan tahun yang
lalu. Karena kita telah menemukan makhluk aneh berpakaian ruang angkasa yang sempurna dengan kancingkancing
plating.
Karena kita telah menemukan bilangan berbaris lima belas, suatu basis bilangan yang belum pernah digunakan
orang dalam komputer jenis manapun. Tetapi bagaimana manusia pertama ini bisa mendapat kemampuan untuk
menciptakan kesemuanya ?
Terdapat pula inkonsistensi, ketidakteraturan secara tetap mengenai agama kita. Ciri dari setiap agama ialah
bahwa agama itu menjanjikan bantuan dan keselamatan kepada manusia. Dewa-dewa primitip pun memberikan
janji-janji demikian. Mengapa para dewa primitip itu tidak menepati janji-janjinya ? Mengapa mereka telah
menggunakan senjata ultra modern terhadap manusia primitip? Mengapa para dewa itu merencanakan
pemusnahan manusia primitip ? Mari kita membiasakan diri berpikir bahwa alam khayalan yang telah tumbuh
dalam ribuan tahun ini suatu waktu akan ambruk.
Penelitian yang tepat selama beberapa tahun saja telah meruntuhkan bangunan mental kita yang kokoh itu. Ilmu
pengetahuan yang tersembunyi dalam perpustakaan masyarakat yang serba rahasia itu sekarang telah banyak
yang ditemukan. Abad penjelajahan angkasa luar sudah bukan lagi abad serba rahasia. Kita sekarang telah
dapat mendaratkan manusia di bulan. Dengan penjelajahan mengangkasa, kita mencita-citakan untuk mencapai
matahari dan bintang-bintang. Dengan itu pula kita menduga atau mengukur kedalaman “Jurang-jurang” masa
lampau kita.
Para dewa, para pendeta, raja-raja serta pahlawan-pahlawan bermunculan dari kegelapan. Kita harus
menentang supaya mereka membuka tabir rahasia mereka, kalau kita mau mempunyai cara untuk mengungkap
masa lampau kita tanpa meninggalkan jurang pemisah. Laboratorium modern harus mengambil alih tugas
penelitian arkeologi kita. Para akhli arkeologi harus mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang telah rusak dan
hancur dengan membawa alat-alat pengukur yang sangat peka. Para pendeta yang mencari kebenaran harus
mulai lagi meragukan kebenaran-kebenaran yang telah ditetapkan pasti benarnya.
Para dewa dari masa silam yang kelam suram itu telah meninggalkan bekas serta jejak yang tak terhitung
banyaknya, yang baru sekarang untuk pertama kalinya dapat kita baca dan terjemahkan karena bagi manusia di
masa ribuan tahun yang lalu, persoalan penjelajahan angkasa bukanlah masalah melainkan suatu pernyataan
saja. Saya berani mengatakan bahwa nenek moyang saya di masa yang baru silam, pernah mendapat
kunjungan tamu dari alam semesta; sekalipun saya sendiri belum dapat mengetahui siapakah cendekiawan bumi
luar ini dan dari planet mana datangnya. Namun demikian saya menyatakan bahwa “orang-orang asing” ini telah
menghancurkan sebagian dari kemanusiaan yang ada pada waktu itu dan menciptakan yang baru, yakni homo
sapiens alias makhluk berakal, yang mungkin sekali untuk pertama kali.
Pernyataan yang tegas ini, adalah revolusioner. Pernyataan ini menghancurkan landasan “bangunan mental”
yang seolah-olah telah dibangun secara sempurna itu. Adalah tujuan saya untuk menyiapkan bukti dari
pernyataan ini. Buku saya ini tak akan pernah ditulis jika tidak ada dorongan dari dan kerja sama dengan banyak
pihak. Saya sangat berterimakasih kepada isteri saya yang selama beberapa tahun terakhir ini jarang sekali
menjumpai saya di rumah, atas segala pengertiannya. Juga saya ucapkan terimakasih kepada teman
seperjalanan saya Hans Neuner yang telah turut meng adakan perjalanan bersama saya beribu-ribu mil jauhnya
atas segala bantuannya yang sangat berharga dan tak henti-hentinya. Saya berterimakasih pula kepada Dr.
Stehlin dan Louis Emrich atas ban tuan mereka yang walaupun tak terusmenerus. Terimakasih saya sampaikan
pula kepada segenap pegawai NASA di Houston, Cape Kennedy dan Hunt sville yang telah mengizinkan saya
mengadakan pengamatan di pusat-pusat tehnik penelitian ilmiah mereka yang hebat itu. Saya menyatakan
terima kasih pula kepada Wernher Oon Braun, Willy Ley dan Bert Slattery. Saya ucapkan pula banyak teri
makasih kepada pria dan wanita yang tak terhitung banyaknya di muka bumi ini, atas bantuan mereka yang
praktis, atas dorongan mereka dan percakapan-percakapan dengan mereka yang memungkinkan penulisan
buku ini.
Erich von Däniken


ADAKAH MAKHLUK CERDAS Dl KOSMOS?

Apakah masuk akal kalau dikatakan bahwa kita penduduk dunia pada abad ke duapuluh ini bukanlah satusatunya
makhluk hidup jenis manusia yang ada di alam semesta ini
? Oleh karena
tidak ada musium yang
dapat
kita kunjungi, yang memamerkan manusia kerdil dari planet lain, maka jawaban atas pertanyaan itu:
“Dunia
kita ini adalah satu-satunya planet yang dihuni manusia”
agaknya masih merupakan jawaban yang
resmi
dan meyakinkan. Tetapi setelah kita menyelidiki hasil penemuan dan penelitian terakhir, maka perta
nyaan
seperti itu akan
semakin banyak jumlah dan ragamnya.
“Di malam hari yang cerah dengan mata telanjang, orang akan dapat melihat kira-kira 4.500 bintang”, demikian
dikatakan para astronom. Tetapi dengan menggunakan teleskop dari observatorium terkecil akan tampak
hampir 2.000.000 bintang, sedangkan teleskop pantul yang modern dapat menampakkan cahaya dari ribuan
juta
bin tang lebih kepada pengamat, yang berupa bintik-bintik cahaya dari bimasakti. Tetapi kalau dibandingkan
dengan besarnya dimensi alam semesta ini, susunan bintang-bintang yang kita lihat itu hanya merupakan
bagian terkecil dari susunan bintang-bintang lainnya yang luasnya tak terbandingkan lagi. Jadi dapat dikatakan
bahwa bima sakti kita itu hanya merupakan suatu kelompok kecil dari bima sakti yang terdiri dari kira-kira dua
pu luh galaksi atau lebih, yang tersebar dalam radius 1.500.000 tahun cahaya. (1 tahun cahaya = jarak yang di
tempuh cahaya dalam waktu satu tahun yakni: 60 x 60 x 24 x 365,25 x 300000 Km). Kelom pok bintang yang
besar inipun akan kecil pula adanya kalau dibandingkan dengan ribuan nebula, yaitu sekelompok bintang yang
nampak dengan mata telanjang seperti kabut bercahaya; yang berbentuk spiral, seperti yang dapat dilihat
dengan teleskop elektronik. Saya ingin menegaskan di sini, bahwa kalau pun dikemukakan pada zaman
sekarang, penelitian semacam ini barulah merupakan permulaan semata.
Menurut taksiran astronom Harlow Shapley, dalam daya jangkau fokus teleskop kita terdapat sekitar sepuluh
pangkat dua puluh bintang. Kalau Shapley menghubungkan suatu susunan planet hanya dengan satu dalam
seribu bintang, maka kita dapat menganggap taksiran itu sebagai suatu taksiran yang dibuat dengan sangat
hati-hati. Kalau kita teruskan spekulasi kita atas dasar taksiran ini, dan mencurigai bahwa kondisi yang tidak
memenuhi syarat untuk adanya kehidupan hanya pada sebuah bintang dalam tiap seribu bintang,
maka perhitungan itu masih akan memberikan bilangan sepuluh pangkat empat belas. Shapley bertanya:
“Berapa banyaknya bintang dari bilangan ‘ Astronomis” ini yang mempunyai udara memenuhi syarat bagi
kehidupan ? Satu dalam seribu?” Tokh masih luar biasa yakni sepuluh pangkat sebelas bintang mempunyai
persyaratan untuk kehidupan. Bahkan kalau misalnya saja hanya pada tiap planet yang keseribu dari jumlah itu
terdapat kehidupan, masih akan terdapat 100.000.000 planet di mana kita masih mengspekulasikan akan
adanya kehidupan. Perhitungan ini dibuat berdasarkan pengamatan dengan penggunaan teleskop yang
menggunakan tehnik mutakhir. Tetapi kita jangan lupa, bahwa teleskop-teleskop itu terus-menerus diperbaiki.
Jika kita ikuti hipotesa biokimiawan Dr. Stanley Miller, maka dapat disimpulkan bahwa kehidupan dan syaratsyaratnya
yang diperlukan; di mana pada sebagian dari sejumlah planet itu, te
lah dapat berkembang lebih
pesat
dari pada di atas bumi kita ini. Jika
kita terima asumsi yang amat berani ini, maka dapat disimpulkan
bahwa
peradaban pada 100.000 planet adalah jauh lebih maju dari pada di atas bumi kita ini.
Mendiang Willy Ley penulis ilmiah yang terkenal itu, dan teman dari Wernher Von Braun mengatakan kepada
saya di New York: “Banyaknya bintang di bima sakti kita saja di taksir ada 30 milyar buah. Assumsi bahwa bima
saksi kita berisi 16 milyar susunan planet masih dianggap dapat diterima oleh para astronom masa kini. Kalau
kita sekarang mencoba mengurangi jumlah itu sebanyak mungkin dan memisalkan jarak antara susunansusunan
planet itu diatur sedemikian rupa sehingga di antara seratus, hanya satu planet yang mengorbit di
sekitar
mataharinya masing-masing, maka masih akan terdapat 180 juta planet yang mampu mendukung
kehidupan.
Kalau kita misalkan lagi bahwa hanya satu planet di antara seratus yang memungkinkan adanya
kehidupan
itu benar-benar ada kehidupan di sana,
maka masih akan terdapat 1,8 juta planet di mana terdapat
kehidupan. Selanjutnya kita misalkan bahwa dari tiap seratus planet di mana terdapat kehidupan itu hanya
pada satu planet saja terdapat makhluk hidup yang tingkat kecerdasannya sama dengan “homo sapiens”,
maka bima sakti kita masih mempunyai sejumlah 18.000 planet yang dihuni makhluk hidup seperti kita.
Oleh karena menurut perhitungan terakhir, dalam bima saksi kita terdapat 100 ribu juta bintang yang tetap
tempatnya, maka angka yang di sebut Dr. Ley dengan hati-hati itu jauh di bawah kenyataan sekarang. Tanpa
menyebut bilangan-bilangan fantastis atau memperhitungkan galaksi-galaksi yang belum dikenal, kita masih
dapat menduga bahwa ada 18.000 planet yang terhitung dekat pada bumi kita di mana terdapat keadaan yang
memenuhi persyaratan kehidupan seperti pada planet yang kita huni ini. Namun demikian kita masih dapat
berspekulasi lebih lanjut, bila hanya satu persen saja dari 18.000 planet itu yang benar-benar dihuni oleh
makhluk hidup, maka masih akan terdapat 180 buah planet yang bermakhluk hidup.
Tiada keraguan tentang adanya planet-planet yang serupa dengan bumi kita dan mempunyai campuran gasgas
atmosfir, gravitasi, tetumbuhan bahkan mungkin margasatwa yang semuanya serupa dengan yang ada di
bumi
kita ini. Tetapi apakah perlu bagi planet-planet yang memungkinkan adanya kehidupan itu mempunyai
persyaratan
hidup yang segala-galanya sama
seperti yang ada di bumi ini? Anggapan bahwa
kehidupan hanya
dapat
tumbuh subur dalam keadaan seperti di bumi ini seka rang dengan adanya penelitian telah ketinggalan
zaman.
Salah sekali jika orang menduga bahwa ke hidupan tak mungkin tanpa air dan oksigen, sebab di bumi
kita
pun terdapat bentuk kehidupan yang tidak memerlukan oksigen, yakni yang di sebut bakteri-bakteri
anaerobik.
Oksigen
dalam jumlah tertentu dapat meracuni bakteri-bakteri semacam ini. Mengapa
tidak
mungkin
ada kehidupan yang lebih tinggi tingkatnya, yang tidak memerlukan oksigen?
Dengan adanya dorongan dari ilmu pengetahuan baru yang dicapai tiap hari, kita harus berusaha supaya alam
pikiran kita tetap uptodate. Penyelidikan-penyelidikan yang paling mutakhir menunjukkan bahwa bumi kita ini
adalah yang paing ideal, karena tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, airnya berlimpah-limpah; persediaan
oksigennya tak terbatas, alamnya senantiasa di remajakan kembali oleh proses-proses organis.
Assumsi bahwa kehidupan hanya dapat ada dan berkembang di atas planet seperti bumi ini, sudah tak dapat
dipertahankan lagi. Menurut tafsiran, di bumi kita ini terdapat 2.000.000 jenis  makhluk hidup. Dari jumlah ini,
ditaksir (lagi-lagi ditaksir) hanya 1.200.000 yang telah dikenal secara ilmiah. Dari jumlah yang telah dikenal ini
terdapat beberapa ribu yang menurut alam pikiran sekarang, seharusnya tidak mampu untuk hidup. Dasar
pemikiran tentang kehidupan perlu dipertimbangkan kembali dan diuji lagi kebenarannya. Sebagai contoh
misalnya orang menduga bahwa air yang diradioaktif akan bebas hama. Tetapi kenyataan membuktikan
bahwa ada beberapa jenis kuman yang dapat menyesuaikan diri pada air maut yang ada di sekeliling reaktor
nuklir. Eksperimen yang dibuat oleh Dr. Sandford Siegel kedengarannya mengerikan. Di dalam
laboratoriumnya dia menciptakan keadaan atmosfir tiruan dari atmosfir sekitar planet Jupiter, dan membiarkan
bakteri dan tungau di dalamnya di mana sama sekali terasing dari segala syarat “kehidupan” yang sampai
sekarang masih menjadi pegangan. Amoniak, methan dan hidrogen tak dapat mematikan bakteri dan tungau
ini.
Eksperimen-eksperimen yang dibuat oleh Dr. Howard Hinton dan Dr. Blum dari Bristol University sama-sama
memberikan hasil yang mengejutkan. Kedua sarjana ini telah mengeringkan sejenis unggas beberapa jam
lamanya dalam suhu 100 C, yang segera setelah itu dicelupkan ke dalam helium cair, yang sebagaimana kita
ketahui dingin sekali sedingin ruang angkasa. Setelah diradiasi dengan kuat sekali, kemudian dikembalikan lagi
kepada keadaan kehidupan yang normal; serangga itu ternyata dapat meneruskan fungsi biologis vitalnya dan
sehat.
Kita juga pernah mendengar tentang adanya bakteri-bakteri yang hidup di dalam gunung berapi, bakteri yang
memakan batu-batuan, dan bakteri yang menghasilkan besi. Maka bertambah pulalah pertanyaan yang
menunggu jawaban.
Eksperimen masih terus diadakan di pusat-pusat penelitian. Bukti-bukti baru yang menunjukkan bahwa
kehidupan itu sama sekali tidak terikat ketat kepada persyaratan kehidupan yang ada di planet kita ini terusmenerus
bertambah. Berabad-abad
sudah dunia kita ini berputar di sekitar hukum dan kondisi yang mengatur
kehidupan
di permukaan bumi. Keyakinan
ini mengubah dan mengaburkan cara kita melihat keadaan.
Keyakinan
ini menghalangi penglihatan para penyelidik ilmiah yang tanpa ragu-ragu telah menerima cara dan
standar
cara berpikir dalam memandang alam semesta ini.
Teilhard de Chardin akhli pikir yang membuka zaman baru itu berpendapat bahwa hanya yang fantastis saja
yang dapat menjadi kenyataan di dalam kosmos. Kalau jalan pikiran kita berjalan lain dari pada yang biasa, ini
berarti bahwa intelegensi di planet lain menggunakan kondisi kehidupan mereka sebagai patokan, dan sebagai
norma. Kalau mereka hidup pada suhu 150-200 C, mereka akan mengira bahwa suhu di bawah 0 yang bagi
kita dapat merusak kehidupan itu di planet lain malah disyaratkan untuk dapat hidup. Dan ini justru akan cocok
dengan logika yang kita gunakan untuk membuat kegelapan masa lampau kita menjadi terang. Logika itu
semata-mata berkat rasa harga diri kita dan berkat sifat kita yang serba rasionil dan serba obyektif.
Pada suatu waktu setiap teorl yang mengandung keberanian kadang-kadang dianggap khayalan ataupun
suatu utopi. Betapa banyak khayalan yang sekarang sudah menjadi kenyataan sehari-hari.
Memang contoh-contoh yang dikemukakan di sini dimaksudkan untuk menunjukkan kemungkinankemungkinan
yang masuk akal. Namun
demikian, sekali kemungkinan yang sebelumnya tak masuk akal itu
terbukti
nyata, dan memang akan menjadi kenyataan, maka segala rintangan akan roboh; dan kita akan
sampai
kepada suatu keadaan di mana tabir ketidak mungkinan itu oleh kosmos akan menjadi kenyataan,
maka
segala rintangan akan roboh; dan kita akan sampai kepada suatu keadaan di mana tabir ketidak
mungkinan
itu oleh kosmos akan dibuka lebar-lebar. Generasi mendatang akan
menemukan segala jenis
kehidupan
yang sebelumnya tak pernah terimpikan dalam alam semesta ini. Sekalipun kita tidak akan
mengalami
semua itu, mereka harus menerima kenyataan bahwa mereka bukanlah satu-satunya intelegensi
dan
sudah tentu bukan intelegensi tertua dalam kosmos.
Alam semesta ini ditaksir telah berusia dua belas ribu juta tahun. Di bawah mikroskop, batu-batu meteor
membuktikan adanya bekas zat organik di dalamnya. Bakteri yang telah berusia jutaan tahun bangun dan
menunjukkan kehidupan baru. Spora-spora yang melayang-layang di ruang angkasa melintasi alam semesta
dan kadang-kadang tertangkap oleh lapangan gravitasi dari sesuatu planet. Kehidupan baru telah berjalan dan
berkembang dalam siklus abadi dari penciptaan selama berjuta-juta tahun.
Sekian banyak penelitian yang berhati-hati atas jenis batu-batuan dari segenap penjuru dunia, membuktikan
bahwa kerak bumi ini telah terbentuk empat ribu juta tahun yang lalu. Dan dari segala apa yang diungkapkan
oleh ilmu pengetahuan itu di antaranya diketahui bahwa sesuatu makhluk hidup yang menyerupai manusia
telah ada sejak 1.000.000 tahun yang lalu. Dari masa satu juta tahun itu hanya 7.000 tahun saja yang dikenal
sebagai sejarah hidup manusia. Itupun dicapai dengan banyak mengorbankan tenaga, petualangan dan
sebagian besar karena kepenasaran. Tetapi apa artinya 7.000 tahun sejarah hidup menusia jika dibandingkan
dengan ribuan juta tahun sejarah alam semesta ?
Kita telah membutuhkan waktu 400.000 tahun untuk mencapai kemajuan keadaan sekarang ini. Adakah
orang yang dapat membuktikan secara kongkrit mengapa planet lain tidak dapat memberikan keadaan yang
lebih menguntungkan bagi perkembangan intelegensi yang lain dari pada yang ada di muka bumi kita. Adakah
alasan bahwa kita tidak mungkin mempunyai saingan di planet lain yang dapat menyamai atau melebihi kita?
Berhakkah kita untuk meniadakan kemungkinan ini? Yakni kemungkinan adanya saingan? Padahal sampai
sekarang kita telah berbuat atau beranggapan demikian. Sampai sekarang kita telah beranggapan bahwa di
planet lain tidak ada “saingan” kita. Beberapa kali sudah sokoguru kearifan kita ambruk remuk menjadi debu ?
Beratus-ratus generasi menduga bahwa dunia ini dulunya pipih. Hukum yang menetapkan bahwa matahari
beredar mengitari bumi, tetap tak boleh dibantah selama ribuan tahun yang lalu. Kita masih tetap yakin bahwa
dunia kita ini adalah pusat dari segala-galanya, walaupun telah dibuktikan bahwa dunia ini hanyalah suatu
bintang biasa semata yang besarnya tak berarti dan yang letaknya sejauh 30.000 tahun cahaya dari titik pusat
bima sakti.
Telah tiba waktunya bagi kita untuk mengetahui kesepelean kita dengan jalan membuat penemuan-penemuan
dalam kosmos yang belum terselidiki dan tak terbatas luasnya. Hanya dengan cara itulah nanti kita akan sadar
bahwa kita ini bukan apa-apa melainkan hanya merupakan semut-semut dalam alam semesta yang amat luas
ini. Namun demikian masa depan dan kesempatan-kesempatan kita terletak di dalam alam semesta itu di
mana para dewa telah menjanjikannya. Jauh sebelum kita sempat melihat masa depan kita, kita harus sudah
cukup kuat dan cukup berani untuk menyelidiki masa lalu kita dengan jujur dan adil.
KETIKA KAPAL RUANG ANGKASA KITA MENDARAT Dl BUMI
Julius Verne kakek dari semua penulis novel khayalan ilmiah itu telah menjadi penulis yang di terima oleh
umum. Fantasi-fantasinya sudah bukan lagi khayalan ilmiah. Para astronot sekarang berkeliling dunia bukan
dalam tempo 80 hari melainkan dalam 86 menit.
Kita sekarang akan menguraikan apa yang mungkin akan terjadi pada suatu penerbangan imajiner dengan
kapal ruang angkasa; namun penerbangan khayalan ini kemungkinannya untuk diadakan akan lebih pendek
waktunya dari pada waktu yang diperlukan untuk menyingkat waktu perjalanan keliling dunia gagasan Julius
Verne, dari 80 hari menjadi perjalanan kilat 86 menit. Tetapi sebaliknya kita tidak menggunakan ukuran waktu
yang sesingkat itu. Lebih baik kalau kita misalkan bahwa kapal ruang angkasa kita akan berangkat menuju ke
suatu matahari yang belum dikenal, yang jauhnya membutuhkan waktu penerbangan 150 tahun. Kapal ruang
angkasa itu ukurannya sebesar kapal Samudra zaman sekarang dan karenanya berat luncurnya akan seberat
100.000 ton dengan membawa bahan bakar seberat 99.800 ton. jadi berat perlengkapannya 200 ton. Tidak
mungkin ?.
Kita telah mampu merakit kapal ruang angkasa sesuku demi sesuku sambil mengorbitkannya mengitari suatu
planit. Namun dalam waktu kurang dari dua puluh tahun, hasil rakitan ini sudah tidak diperlukan lagi, karena
ada kemungkinan bagi kita untuk menyiapkan sebuah kapal ruang angkasa raksasa yang akan diluncurkan ke
bulan. Di samping itu, penelitian untuk membuat roket pendorong sedang berjalan dengan giatnya, mesinmesin
roket mendatang akan
digerakkan oleh tenaga nuklir dan akan bergerak dengan kecepatan yang
hampir
mendekati kecepatan cahaya.
Suatu metode baru yang hebat dalam peroketan yakni “roket photon” yang akan dicoba. Kemungkinan
pelaksanaannya telah dibuktikan dengan mengadakan experimen uji fisik partikel-partikel utamanya satu demi
satu. Bahan bakar yang dibawa oleh roket photon akan memungkinkan kecepatan roket mendekati kecepatan
cahaya sedemikian rupa, sehingga efek dari relativitas, terutama variasi waktu antara tempat peluncuran dan
kapal ruang angkasa dapat bekerja sepenuhnya. Penembakan bahan bakar akan ditransformasikan menjadi
radiasi elektromagnit dan di pancarkan dalam bentuk pancaran daya dorong yang berkelompok-kelompok
dengan kecepatan cahaya. Secara teori kapal ruang angkasa yang diperlengkapi dengan daya dorong photon
dapat mencapai kecepatan 99 persen dari kecepatan cahaya. Dengan kecepatan ini batas-batas pinggiran tata
surya kita akan dapat didobrak.
Suatu khayalan yang benar-benar dapat membuat cita-cita menjadi kenyataan. Tetapi kita yang sekarang
sedang ada di ambang abad baru hendaknya tidak lupa bahwa langkah-langkah kemajuan teknologi yang
dialami kakek nenek kita seperti: “Kereta api, listrik, telegrap, mobil pertama, kapal udara pertama; cukup
mengejutkan mereka pada waktu itu. Kita sendiri beberapa tahun atau beberapa puluh tahun yang lalu, baru
untuk pertama kalinya mendengar musik lewat radio, melihat TV, berwarna, melihat peluncuran pesawat ruang
angkasa, dan melihat para astronot Amerika benar-benar berjalan-jalan di permukaan bulan dan menerima
berita serta foto-foto dari satelit yang sedang mengorbit mengitari bumi. Cucu dan cicit kita akan mengadakan
wisata antar bintang dan mengadakan penyelidikan kosmos di Perguruan-perguruan Tinggi.
Mari kita ikuti penerbangan kapal ruang angkasa imajiner kita yang sedang menuju ke bintang yang tetap
tempatnya dan jauh. Barangkali akan lucu pula kalau kita mencoba membayangkan apa yang dilakukan awak
kapal itu untuk menghilangkan waktu lama dalam penerbangan. Mengapa? Karena betapa pun jauhnya jarak
yang mereka tempuh dan betapa lambat pun waktu merayap bagi mereka yang tertinggal di bumi, teori
relativitas dari Einstein masih tetap berlaku. Mungkin kedengarannya aneh dan tidak masuk akal tapi benar
bahwa waktu itu merayap lambat sekali dalam pesawat ruang angkasa yang terbang dengan kecepatan di
bawah kecepatan cahaya, bahkan lebih lambat dari pada di bumi. Sebagai contoh, waktu 108 tahun bagi
orang di bumi, bagi awak kapal dalam penerbangan alam semesta hanya 10 tahun. Perbedaan waktu antara
wisatawan ruang angkasa dan orang di bumi dapat dihitung dengan persamaan dasar roket yang diuraikan
oleh Profesor Acheret
VW     1-1(1-t)2 w/c
WC 11+(1-t) 2 w/c 1
di mana V = kecepatan; W = kecepatan jet; C = kecepatan cahaya; t = berat bahan bakar pada waktu lepas
landas.
Pada saat kapal ruang angkasa kita itu mendekati bintang tujuannya, para awak kapal akan mengamati planetplanet;
membetulkan posisi mereka, melakukan analisa spektrum, mengukur gravitasi dan menghitung
beberapa
orbit. Dan akhirnya mereka akan
menemukan planet tempat pendaratan yang keadaannya paling
menyerupai
keadaan di bumi.
Kalau kapal ruang angkasa kita itu hanya terdiri dari alat-alat perlengkapan saja, maka setelah penerbangan
sejauh katakanlah 80 tahun cahaya karena semua energi telah habis terpakai, para awaknya harus mengisi
kembali tangki bahan bakarnya dengan bahan-bahan yang dapat diuraikan secara kimiawi. Kemudian
misalnya saja planet yang dipilih sebagai tempat pendaratan itu segala-galanya sama dengan di bumi kita.
Seperti telah saya katakan permisalan ini sama sekali bukanlah tidak mungkin. Kemudian kita memberanikan
diri pula untuk memisalkan bahwa peradaban di planet yang dikunjungi ini perkembangannya sudah setaraf
dengan keadaan bumi kita 8.000 tahun yang lalu. Keadaan ini sudah tentu ditetapkan dengan menggunakan
instrumen-instrumen dalam kapal ruang angkasa sebelum mendarat. Para wisatawan ruang angkasa ini sudah
tentu dalam penerbangannya pernah singgah di tempat yang dekat sekali kepada persediaan bahan-bahan
yang dapat diuraikan secara kimiawi untuk mengisi energi instrumen-instrumen mereka dengan cepat, dan
dengan tepat menunjukkan di pegunungan mana bisa didapat uranium.
Pendaratan dilakukan sesuai dengan rencana. Parawisatawan angkasa itu melihat makhluk hidup sedang
membuat alat-alat dari batu; dilihatnya pula mereka sedang memburu dan membunuh marga satwa dengan
menggunakan tombak; biri-biri dan kambing kelihatan bergerombol sedang merumput di padang rumput; para
perajin kelihatan sedang membuat alat-alat sederhana untuk keperluan rumah tangga. Wajah aneh
menyambut kedatangan para astronot kita. Tetapi apa yang dipikirkan oleh makhluk primitif dari planet itu
tentang benda aneh yang baru saja mendarat di sana, dan sosok-sosok tubuh yang ke luar dari benda aneh
itu dianggapnya apa ?
Hendaknya kita tidak lupa bahwa kita pun 8.000 tahun yang lalu pernah menjadi makhluk setengah biadab.
Oleh karena itu tidaklah mengejutkan kalau makhluk setengah biadab yang mengalami peristiwa ini
menyembunyikan mukanya ke tanah dan tak berani memandang para astronot itu. Sampai sekarang mereka
itu masih menyembah matahari dan bulan. Dan sekarang terjadilah goncangan bumi, para dewa turun dari
langit; demikian pikir makhluk-makhluk primitif di planet itu.
Penghuni planet itu sambil sembunyi di tempat mau mengamati para wisatawan ruang angkasa kita, yang
memakai topi aneh, topi bertanduk sebatang logam, helm berantena; mereka keheran-heranan ketika malam
gelap gulita menjadi terang benderang seperti siang oleh lampu-lampu sorot/pencari; mereka ngeri melihat
orang asing itu di mana dapat dengan mudahnya membumbung ke atas dengan sabuk roket, mereka
menyembunyikan lagi kepalanya ke dalam tanah ketika helikopter menderu, mendengus dan mendengung,
membumbung tinggi ke atas; dan akhirnya mereka lari menuju tempat pengungsian dalam gua-gua ketika
terdengar suara menggelegar dan menakutkan dari gunung-gunung karena ledakan percobaan. Tak ayal lagi
para astronot kita itu pasti dianggap dewa yang sakti oleh manusia primitif ini!
Sehari-harian para wisatawan ruang angkasa kita ini melakukan pekerjaan mereka yang sulit rumit itu, dan
setelah lewat beberapa waktu, barangkali datanglah delegasi yang terdiri dari para pendeta dan dukun-dukun
mendekati para astronot itu dengan maksud mengadakan hubungan langsung dengan para dewa. Mereka
membawa sesajen-sesajen untuk menghormati atau menyembah para tamu mereka. Masuk akal kiranya kalau
angkasawan kita itu akan dengan cepat mempelajari bahasa penduduk setempat dengan menggunakan
komputer, sehingga mereka dapat mengucapkan terimakasih atas keramahan tuan rumah.
Namun walaupun diterangkan kepada manusia setengah beradab ini dalam bahasa mereka, bah wa
sebenarnya tidak ada dewa yang datang mendarat, bahwa tidak ada makhluk dari yang datang berkunjung ke
sana yang lebih tinggi derajatnya dan patut dikagumi; tetap tidak berhasil. Teman-teman primitip kita itu tetap
tidak percaya.
Para wisatawan ruang angkasa itu datang dari bintang-bintang lain, mereka nyata sekali mempunyai kekuatan
yang dahsyat dan mampu untuk memperlihatkan kekuatan-kekuatan gaib. Mereka itu pasti para dewa,
demikian anggapan penduduk planet itu. Dalam usaha para angkasawan itu untuk menjelaskan segala
sesuatunya tak berhasil mencapai titik temu pembicaraan untuk dapat menawarkan bantuan apa saja kepada
penduduk itu. Pokok pembicaraan semacam itu sama sekali tak terpikirkan oleh penduduk yang telah
dikejutkan oleh kedatangan para wisatawan ruang angkasa itu.
Sekalipun tak mungkin untuk membayangkan semua hal yang bakal terjadi, tetapi sejak hari pendaratan hal
berikut ini kiranya dapat memberikan gambaran tentang rencana yang telah dipikirkan sebelumnya. Sebagian
dari penduduk dapat dibujuk dan dilatih untuk membantu dalam penelitian sebuah kawah yang terjadi karena
ledakan untuk mendapatkan bahan-bahan yang dapat diuraikan secara kimiawi, sehingga dapat digunakan,
sebagai bahan bakar untuk pulang ke bumi. Orang yang paling cerdas di antara penduduk mungkin dipilih
menjadi “Raja”. Sebagai ciri yang dilihat tentang kemampuannya, mungkin ia diberi sebuah pesawat radio
sebagai alat untuk berkomunikasi dengan para dewa itu. Para astronot kita itu mungkin mencoba mengajarkan
bentuk-bentuk peradaban sederhana dan konsep-konsep moral kepada mereka, untuk memudahkan
perkembangan tatasosial. Beberapa wanita pilihan mungkin dinikahi oleh para astronot. Jadi mungkin timbul
suatu ras baru yang melompati suatu fase atau tahap dalam evolusi bangsa secara alamiah.
Dari perkembangan kita sendiri dapat kita ketahui berapa lamanya waktu yang diperlukan untuk mendidik ras
ini menjadi akhli ruang angkasa. Karena itu sebelum para astronot kita terbang kembali ke bumi, mungkin
mereka meninggalkan suatu tanda yang dapat dilihat dengan jelas dan yang hanya dapat dipahami jauh di
masa mendatang oleh masyarakat yang taraf pengetahuannya di bidang tehnik dan matematika sudah tinggi.
Tiap usaha untuk mengingatkan anak didik kita itu akan bahaya yang terkandung di dalamnya sedikit sekali
kemungkinannya untuk berhasil. Sekalipun kita perlihatkan kepada mereka film-film yang mengerikan tentang
peperangan antara planet dan ledakan ledakan atom, usaha itu tak akan dapat mencegah makhluk-makhluk
yang hidup di planet ini berbuat ketololan yang sama: seperti terus-menerus bermain dengan nyala api
peperangan yang dapat membakar itu.
Sementara kapal ruang angkasa kita menghilang ke dalam kabut alam semesta, teman kita di planet itu akan
berceritera tentang keajaiban yang baru terjadi; “Para dewa itu pernah ada di sini”. Mereka akan
menterjemahkan keajaiban itu ke dalam bahasa mereka yang sederhana dan menjadikannya sebagai suatu
hikayat yang akan diwariskan turun-temurun kepada anak cucu mereka; akan menjadi tanda kenangkenangan,
dan segala apa yang ditinggalkan para wisatawan ruang angkasa itu akan mereka jadikan sebagai
benda
pusaka yang keramat.
Andaikata teman kita itu pandai menulis, mungkin mereka akan membuat catatan tentang apa yang telah
terjadi: “Gaib, mengerikan, menakjubkan”. Tulisan mereka akan menceritakan dan menggambarkan bahwa
para dewa yang berpakaian emas pernah ada di sana dalam kapal terbang yang mendarat dengan gaduh
yang dahsyat. Mereka akan menulis ceritera tentang kendaraan perang yang di kendarai para dewa di darat
dan di laut, dan tentang senjata-senjata yang mengerikan menyerupai petir, dan akan menceritakan bahwa
para dewa itu berjanji akan datang kembali. Apa yang telah mereka lihat itu akan mereka abadikan pada batubatu
atau karang dengan Dahat dan Dalu; seperti raksasa tanpa bentuk, berhelm dan bertanduk sebatang
logam,
dan memakai kotak pada dadanya. Bola-bola yang dikendarai di udara oleh makhluk-makhluk yang tak
dapat
dilukiskan; batangan-batangan yang dapat menembakkan sinar bagaikan matahari;
bentuk-bentuk aneh
menyerupai
serangga raksasa yang sebenarnya tak lain dari pada sejenis kendaraan.
Fantasi dari lukisan tentang kunjungan kapal ruang angkasa kita itu tak terbatas banyaknya. Nanti akan kita
lihat bekas apa saja yang diukir atau di pahat para dewa yang telah mengunjungi bumi di zaman purbakala
yang telah silam, pada batu-batu bertuliskan sejarah masa lampau.
Sangatlah mudah untuk membuat sketsa tentang perkembangan berikutnya dari planet yang dikunjungi kapal
ruang angkasa kita. Penduduknya telah banyak belajar dengan jalan mengintip para dewa; tempat di mana
kapal ruang angkasa pernah berdiri, akan dijadikan tanah suci, suatu tempat orang berziarah; perbuatanperbuatan
heroik dari para dewa akan disanjung dalam nyanyian. Di atas tanah itu akan
didirikan piramida dan
kuil
yang sudah tentu sesuai dengan hukum-hukum astronomis.
Penduduk bertambah, peperangan menghancurkan tempat para dewa. Kemudian muncul generasi baru yang
menemukan kembali dan menggali tempat-tempat suci itu, dan mencoba menginterpretasikan tanda-tanda
yang ditinggalkan para astronot kita.
Inilah tingkat yang kita capai sampai sekarang. Sekarang setelah kita mendaratkan manusia di permukaan
bulan, alam pikiran kita terbuka bagi wisatawan ruang angkasa. Kita mengetahui efek dari kedatangan kapal
samudra yang mendadak kepada rakyat primitif misalnya di Kepulauan South Sea. Kita mengetahui efek yang
merusak datang dari peradaban lain, seperti Corfes pada Amerika Selatan. Maka dengan demikian kita dapat
mengerti sekalipun samar-samar tentang pengaruh yang kuat dan fantastis dari kedatangan pesawat ruang
angkasa di zaman pra sejarah.
Kita harus melihat sekali lagi pada deretan pertanyaan-pertanyaan itu yakni pada serentetan misteri atau
kegaiban yang tak terjelaskan itu.
Dapatkah semua itu kita mengerti, seperti halnya dengan sisa-sisa peninggalan dari para wisatawan ruang
angkasa dari zaman pra sejarah? Apakah semua itu dapat membawa kita ke masa silam tetapi tetap ada
kaitannya dengan rencana-rencana kita untuk masa depan?
ALAM MUSTAHIL YANG TIDAK DIJELASKAN
Keterangan tentang masa lampau kita yang bersejarah itu kita kumpulkan dari pengetahuan tidak langsung.
Kita telah menggunakan hasil-hasil penggalian, naskah-naskah kuno. Iukisan-lukisan dalam gua, legendalegenda
dan lain sebagainya untuk menyusun suatu hipotesa kerja. Dari semua bahan itu telah dibuat mosaik
yang
mengesankan dan menarik, Tetapi mosaik itu merupakan produk da ri
pola pemikiran yang telah
dipertimbangkan
terlebih dahulu. Bagian-bagiannya
selalu dapat kita pasang ke dalam pola itu sekalipun sering
sekali
harus menggunakan perekat yang terlalu jelas terlihat.
Suatu peristiwa pasti telah terjadi dengan sesuatu cara tertentu. Dan hanya dengan cara tertentu itu sajalah,
tidak dengan cara lain. Lihatlah kalau memang itu yang dikehendaki oleh para sarjana memang dengan cara
itulah terjadinya peris tiwa tersebut. Kita memang berhak untuk meragukan setiap pola pemikiran yang diterima
atau suatu hipotesa kerja, karena jika sesuatu gagasan tidak dipertanyakan, berarti penelitian telah selesai.
Karena itu kebenaran dari masa lampau kita yang bersejarah itu, hanyalah relatif sifatnya. Bila dari masa
lampau muncul aspek baru maka betapa pun populernya, hipotesa kerja itu harus diganti dengan yang baru.
Kiranya sekarang telah tiba saatnya untuk memperkenalkan suatu hipotesa kerja baru yang akan kita
tempatkan di pusat penelitian tentang masa lampau kita.
Pengetahuan baru tentang tatasurya dan alam semesta, tentang makro kosmos dan mikro kosmos, kemajuankemajuan
hebat dalam teknologi dan pengobatan, dalam biologi dan geologi, awal wisata ruang angkasa dan
hal-hal
lain; kesemuanya ini sama sekali mengubah gambaran dunia kita hanya dalam waktu kurang dari lima
puluh
tahun.
Sekarang kita mengetahui bahwa ada kemungkinan untuk membuat pakaian ruang angkasa yang dapat
menahan perbedaan walau besar se kali antara panas dan dingin. Sekarang kita mengetahui, bahwa wisata
ruang angkasa bukan lagi merupakan gagasan utopis. Kita telah mengenal keajaiban televisi berwarna seperti
pengetahuan kita tentang bagaimana mengukur kecepatan cahaya dan menghitung konsekwensi dari teori
relativitas.
Gambaran dunia kita yang sudah membeku itu sekarang mencair kembali. Hipotesa-hipotesa kerja baru
memerlukan norma, memerlukan patokan. Misalnya, di kemudian hari arkeologi kita tidak lagi hanya persoalan
penggalinya. Pengumpulan dan penggolongan penemuan-penemuan arkeologis semata, tidak akan memadai.
Kalau ingin mendapatkan gambaran yang dapat dipercaya tentang masa silam kita dari arkeologi itu, cabang
ilmu pengetahuan lain harus diikut sertakan dalam penelitian.
Mari kita masuki alam mustahil itu dengan pikiran terbuka dan penuh dengan rasa ingin tahu. Mari kita coba
untuk mengambil dan menguasai harta peninggalan yang diwariskan oleh para dewa itu.
Pada awal abad ke delapan belas, di istana Topkapi Turki, ditemukan peta-peta kuno. Peta itu adalah milik
seorang perwira tinggi Angkatan Laut Turki Laksamana Piri Reis. Dua buah atlas yang disimpan di
perpustakaan negara di Berlin yang memuat gambar tang tepat dari laut Tengah dan daerah sekitar laut Mati,
juga berasal dari Laksamana Piri Reis ini.
Semua peta ini telah diserahkan kepada Arlington H. Mallerey seorang Kartograf Amerika untuk diteliti. Mallerey
memperkuat fakta yang luar biasa bahwa semua data geografi terdapat pada peta-peta itu, tetapi tidak
digambar pada tempat yang semestinya. Ia minta bantuan dari Walters seorang kartograf dari Biro Hidrografi
Angkatan Laut Amerika Serikat. Mallerey dan Walters bersama-sama menyusun suatu skala dan
mentransformasikan peta itu menjadi bola dunia. Mereka membuat penemuan yang menggemparkan. Petanya
memang cermat, bukan hanya mengenai Laut Tengah dan Laut Mati saja melainkan pantai-pantai Amerika
Utara dan Selatan bahkan garis-garis tinggi Permukaan Samudra Antartika pun dilukiskan dengan persis sekali
pada peta Piri Reis itu. Peta itu bukan hanya memproduksikan garis besarnya benua-benua melainkan juga
topografi dari daerah-daerah pedalaman. Pegunungan, puncak gunung, pulau, sungai dan dataran tinggi;
semuanya digambarkan de ngan ketepatan yang luar biasa.
Dalam tahun 1957 Tahun Geografis, peta-peta itu diserahkan kepada Bapak Jesnit Lineham, yang menjabat
direktur dari Weston Observatory merangkap juru potret pada Angkatan Laut Amerika Serikat. Setelah
memeriksanya dengan cermat, Bapak Lineham pun hanya dapat memperkuat ketepatannya yang fantastis itu
bahkan sampai mengenai daerah daerah yang di masa sekarang jarang se kali dipelajari. Yang paling
menonjol ialah bahwa pegunungan di Antartika yang baru ditemukan pada tahun 1952, dalam peta Reis telah
terdapat. Pegunungan itu telah tertutup oleh es beratus-ratus tahun lamanya . Peta kita sekarang dibuat
berdasar kan hasil pemetaan dengan menggunakan alat-alat gema suara.
Penyelidikan terakhir yang dilakukan oleh Profesor Charles. H. Hapgood dan akhli matematika Richard W.
Strachan telah memberikan informasi yang lebih mengherankan lagi. Setelah diadakan perbandingan dengan
hasil pemotretan bulatan dunia kita yang di lakukan secara modern dari satelit, perbandingan itu menunjukkan
bahwa peta aslinya dari Piri Reis itu pasti telah dibuat berdasarkan hasil pemotretan dari udara dengan keting
gian yang jauh sekali, Nah ! Bagaimana menjelaskan hal demikian itu?
Sebuah kapal ruang angkasa terbang diam di atas Kairo dan membidikkan kameranya lurus ke bawah.
Setelah filmnya dicuci maka akan terdapat gambaran ini; segala sesuatu yang ada dalam radius kira-kira 5.000
mil dari Kairo akan direproduksikan secara tepat, karena semuanya ada di bawah lensa. Tetapi negara-negara
dan benua-benua di luar radius itu akan berubah reproduksinya dari keadaan sebenarnya. Semakin jauh
pandangan kita dari titik pusat gambar, semakin banyak penyimpangan atau perubahan gambarnya. Mengapa
ini semua? karena bumi ini berbentuk bulatan, benua-benua yang jauh dari titik pusat “tenggelam ke bawah”.
Amerika Selatan misalnya, tampaknya berubah dengan janggal sekali pada ukuran memanjangnya, persis
seperti perubahan pada peta Piri Reis ! Dan juga persis seperti hasil-hasil pemotretan yang dilakukan satelit
bukan dari Amerika.
Ada satu atau dua pertanyaan yang dapat dijawab dengan cepat. Tak dapat disangsikan, bahwa nenek
moyang kita tak pernah membuat peta-peta itu. Namun demikian tak dapat disangsikan pula,bahwa peta-peta
itu telah dibuat dengan menggunakan bantuan teknik modern yakni dari udara.
Harus bagaimana kita menerangkan itu? Haruskah kita merasa puas dengan legenda yang di ceritakan oleh
seorang dewa kepada seorang pendeta tinggi? Atau tak usah kita perdulikan semua itu dan tak usah
mengindahkan keajaiban karena peta-peta itu cocok dengan gambaran dunia mental kita? Atau kita harus
berani mengusik sarang tawon dan menyatakan bahwa kartografi dari bola dunia kita itu dibuat dari pesawat
udara yang terbang tinggi atau dari suatu kapal ruang angkasa? Diakui bahwa peta milik Laksamana Turki itu
tidak originil. Peta itu entah merupakan salinan keberapa kalinya. Namun demikian sekalipun misalnya peta itu
telah ada sejak abad ke delapan belas, jadi ketika ditemukan baru saja selesai dibuat, kenyataan-kenyataan ini
semua sama saja, tidak dapat dijelaskan. Siapapun yang telah membuatnya, orang itu pasti telah pernah
mampu mengudara dan mampu memotret dari udara.
Tidak  jauh dari laut, pada punggung gunung Peruvia di Andes, terletak suatu kota kuno Nazca. Di lembah
Palpa terdapat sebidang tanah datar yang panjangnya 37 mil, lebar 1 mil bertaburkan batu-batu kecil yang
menyerupai besi berkarat. Penduduk setempat menyebut daerah ini “pampa” (=daerah tak berpohonpohonan),
walau tetumbuhan apapun tak mungkin hidup di sana. Jika anda terbang di atas wilayah ini yakni
dataran
Nazca anda akan dapat melihat garis besar-besar, yang dirancang secara geometris; beberapa
diantaranya
sejajar sedangkan yang lainnya saling berpotongan atau dikelilingi oleh bidang-bidang trapesoidal.
Para
arkeologis menyebut garis-garis ini “Jalan
Inca”
Gagasan tak masuk akal ! Apa manfaatnya bagi orang Inca jalan yang satu sama lainnya se jajar ini? Apa lagi
yang saling berpotongan? Semuanya dirancang di atas tanah datar lalu tiba-ti ba buntu? Tentu saja tembikar
dan barang-barang keramik lainnya ditemukan juga di sini.
Tetapi menghubung-hubungkan garis yang di susun secara geometris itu dengan kebudayaan Nazca, hanya
karena alasan itu saja, sudah tentu merupakan penyederhanaan sesuatu secara berlebih-lebihan.
Sampai tahun 1952 tidak ada penggalian yang serius di daerah ini. Tidak ada urutan waktu yang nyata tentang
penemuan-penemuan itu. Baru sekarang garis-garis dan bentuk-bentuk geometris itu telah diukur. Hasilnya
menetapkan bahwa garis-garis itu telah dirancang sesuai dengan rencana astronomis. Profesor Alden Mason
seorang akhli dalam kepurbakalaan Peruvia, menduga bahwa dalam jajaran garis itu terdapat tanda-tanda
semacam agama dan juga semacam kalender.
Dilihat dari udara, dataran Nazca yang 37 mil panjangnya itu, kesan saya jelas sekali bagaikan sebuah
lapangan terbang.
Bagian yang manakah tentang gagasan ini yang tak masuk akal atau yang dibuat-buat? Penelitian tidak
mungkin terwujud sebelum obyek yang harus diteliti ditemukan ! Sekali ditemukan, maka barang itu digosok,
dipotong dan diratakan pinggir-pinggirnya sampai menjadi batu yang cukup ajaib, cocok dan sesuai dengan
mosaik yang telah ada. Arkeologi klasik tidak membenarkan bahwa rakyat pra-Inca pernah mempunyai teknik
peng ukuran tanah yang sempurna.Dan teori yang mengatakan bahwa di zaman purbakala pernah ada
pesawat udara adalah omong kosong belaka. Lalu dalam hal itu, apa gunanya garis-garis di Nazca itu?
Dugaan saya, garis-garis itu mungkin dirancang secara besar-besaran menurut sesuatu model, dan
menggunakan suatu sistem koordinator, atau mungkin juga dirancang menurut instruksi yang datang dari
sebuah pesawat udara. Untuk mengatakan dengan pasti, bahwa apakah dataran rendah di Nazca itu dulunya
adalah sebuah lapangan terbang, juga belum memungkinkan. Jika besi pernah dipergunakan, tentu sudah tak
akan ditemukan lagi di sana, karena besi pra sejarah tak dikenal orang. Logam akan berkarat dalam beberapa
tahun saja; sedangkan batu tak pernah berkarat. Apakah salah tentang gagasan bahwa garis-garis itu
dirancang untuk seolah-olah mengatakan kepada para dewa: “Mendaratlah di sini. Segala sesuatunya telah
kami buat sesuai dengan perintahmu?”.
Para pembuat garis berbentuk geometris mungkin tak pernah memahami apa yang mereka lakukan. Tetapi
barangkali mereka tahu benar apa yang para dewa butuhkan untuk mendarat.
Gambar-gambar besar yang tak dapat disangsikan bahwa semuanya telah dibuat sebagai isyarat bagi makhluk
yang melayang-layang di udara, banyak ditemukan di lereng-lereng pegunungan di Peru. Adakah guna lain
dari kesemuanya itu? Satu di antara gambar-gambar yang paling aneh ialah yang diukir pada dinding tinggi
dari batu karang terjal berwarna merah di Teluk Pisco. Jika anda datang ke tempat itu dengan kapal laut, dari
jarak 12 mil lebih anda akan dapat melihat suatu bentuk yang tingginya hampir 820 kaki, dan jika secara mainmain
anda berkata: “Itu
seperti .......”
maka reaksi anda ialah bahwa karya pemahat patung ini seperti suatu
tangkai
kail raksasa atau seperti sebatang tempat lilin raksasa. Seutas tambang yang panjang ditemukan pula
pada
pilar tengah dari batu ini. Apakah ini dulu digunakan sebagai pendulum?
Secara jujur harus kita akui bahwa bagaikan meraba-raba di dalam kegelapan apa bila kita mencoba
menjelaskannnya. Hal ini tak dapat pula dimasukkan ke dalam dogma-dogma yang telah ada. Ini bukan berarti
bahwa tidak mungkin ada suatu muslihat yang diperoleh dari cara berpikir arkeologis yang dapat diterima,
untuk digunakan oleh para sarjana menyusun phenomena ini ke da lam mosaik besar. Tetapi apa yang
mungkin telah mendorong rakyat pra Inca untuk membuat garis-garis fantastis atau landasan-landasan
pendaratan itu di Nazca? Otak miring apa yang mendorong mereka untuk menciptakan tanda dari batu
setinggi 820 kaki itu pada dinding batu karang merah di Lima Selatan?
Tugas untuk membuat kesemuanya itu akan memakan waktu berpuluh-puluh tahun apabila dilaksanakan
tanpa mesin dan peralatan modern. Seluruh kegiatan mereka tidak akan berguna jika hasil dari segala
upayanya bukan dimaksudkan sebagai isyarat kepada makhluk yang datang dari langit. Pertanyaan yang
masih harus dijawab ialah; Mengapa mereka berbuat demikian, kalau bukan karena mereka mengetahui
bahwa makhluk terbang itu benar-benar ada?.
Pengenalan hasil penemuan tidak lagi hanya masalah arkeologi. Suatu dewan yang terdiri dari sarjana-sarjana
dari berbagai bidang penelitian pasti dapat membawa kita pada pendekatan pemecahan teka-teki itu.
Pertukaran pendapat menghasilkan wawasan yang terang. Oleh karena para sarjana tidak menanggapi
persoalan demikian secara serius, maka terdapat bahaya bahwa penelitian tidak menghasilkan kesimpulan
yang pasti.
Adakah wisatawan ruang angkasa dalam kabut kelabu? Suatu pertanyaan yang tidak dapat diterima bagi para
akademisi. Setiap orang yang bertanya demikian perlu minta pertolongan doktor penyakit jiwa. Tetapi
pertanyaan tetap pertanyaan dan tetap mengiang di telinga sampai terjawab. Dan pertanyaan yang tak dapat
diterima seperti itu masih banyak. Sebagai contoh, apa kiranya yang akan dikatakan orang, kalau ada kalender
yang menunjukkan hari atau tanggal di mana siang dan malam sama panjang, menunjuk kan musim-musim
astronomis, posisi bulan tiap jam dan juga peredaran bulan, bahkan sampai memperhitungkan rotasi bumi?
Pertanyaan itu tidak hanya hipotetis. Kalender semacam ini ada. Kalender ini telah ditemukan dalam lumpur
kering di Tiahuanaco. Suatu penemuan yang membingungkan. Penemuan yang mengandung fakta yang tak
dapat dibantah, dan membuktikan bahwa makhluk hidup yang membuat, yang menemukan (menciptakan)
dan menggu nakan kalender itu mempunyai kebudayaan yang lebih tinggi dari pada kita.
Penemuan lain yang fantastis sekali ialah “Berhala Besar”, terbuat dari satu balok tunggal batu pasir yang
panjangnya lebih dari 24 kaki, seberat 20 ton. Berhala itu ditemukan di dalam Kuil Tua. Di sinipun dijumpai lagi
suatu kontradiksi antara mutu tinggi serta presisi beratus-ratus simbol yang terdapat pada seluruh tubuh
berhala itu dengan teknik primitif pembuatan bangunan di mana berhala itu ditempatkan. Memang nama Kuil
Tua itu cocok karena teknik pembuatannya yang primitif itu.
H.S. Bellamy dan P. Allan dalam bukunya yang berjudul “The Great Idol Tiahuanaco” telah membuat suatu
interpretasi yang cukup beralasan tentang simbol-simbol itu. Mereka berkesimpulan bahwa simbol-simbol itu
merupakan catatan kumpulan yang sangat banyak tentang pengetahuan astronomis, yang sebetulnya
didasarkan ke pada bentuk bumi yang bulat ini. Selanjutnya mereka simpulkan bahwa cacatan itu cocok sekali
dengan Teori tentang satelit, karya Hoerbiger yang di terbitkan tahun 1927, lima tahun sebelum patung berhala
itu ditemukan. Teori ini mendalilkan bahwa sebuah satelit pernah tertangkap oleh bumi. Karena satelit itu ditarik
mendekat ke bumi, maka satelit itu memperlambat perputaran bumi pada sumbunya. Akhirnya satelit itu
hancur dan diganti oleh bulan.
Simbol-simbol pada badan berhala itu mencatat dengan tepat phenomena yang dapat sejalan dengan teori ini
pada waktu satelit itu sedang mengorbit mengitari bumi sebanyak 425 kali putaran dalam satu tahun yang
berumur 288 hari. Mereka terpaksa berkesimpulan bahwa berhala itu mencatat keadaan benda-benda langit
pada 27.000 tahun yang lalu. Mereka menulis: “Pada umumnya prasasti pada patung berhala itu memberikan
kesan bahwa prasasti itu diciptakan juga sebagai catatan untuk generasi-generasi mendatang. Memang di sini
terdapat suatu benda purbakala yang perlu diterangkan lebih jelas dari pada hanya disebut “Seorang Dewa
Kuno”. Jika interpretasi tentang simbol-simbol ini dapat diperkuat, bila pertanyaan: “Apakah pengetahun
tentang astronomi ini benar-benar dikumpulkan oleh rakyat yang masih harus lebih banyak belajar tentang
bangunan, ataukah datang dari sumber yang ada di luar bumi ini?”. Bilamana salah satu saja dari ke dua hal itu
tergali adanya kumpulan pengetahuan yang cerdik dan jlimet pada 27.000 tahun yang lalu itu (yang
ditunjukkan baik oleh patung berhala maupun oleh kalender), adalah suatu gagasan yang mengagetkan.
Kota Tiahuanaco itu penuh dengan rahasia. Kota itu terletak pada ketinggian lebih dari 13.000 kaki dan bermilmil
jauhnya dari kota-kota lain. Jika anda berangkat dari Cuzco, Peru, anda akan mencapai kota dan tempattempat
penggalian itu setelah mengadakan perjalanan beberapa hari dengan kereta api dan kapal laut Dataran
tingginya
mirip dengan suatu pemandangan di planet yang belum dikenal. Kerja tangan adalah siksaan Wagi
siapa
saja yang bukan penduduk asli di sana. Tekanan udaranya kira-kira setengah dari tekanan udara di atas
permukaan
laut dan sehubungan dengan itu kandungan oksigen dalam udaranya sudah tentu sedikit sekali.
Namun
demikian di atas dataran tinggi ini berdiri suatu kota yang besar sekali.
Tidak ada tradisi otentik mengenai Tiahuanaco ini. Dalam hal ini barang kali kita harus merasa gembira bahwa
jawaban-jawaban yang dapat diterima tidak dapat dicapai dengan bersandar kepada cara belajar kuno yang
turun-temurun itu. Di atas reruntuhan yang sangat tua itu (kita tidak tahu berapa ribu tahun tuanya),
mengapunglah kabut masa lampau, kedunguan dari misteri atau kegaiban. Balok-balok batu pasir seberat 100
ton yang ditumpungi dengan balok-balok lain seberat 60 ton dijadikan dinding. Bidang-bidang lain yang bertepi
dan bersudut tepat pada persambungan dengan batu-batu persegi lainnya, yang disatukan oleh jepitan yang
terbuat dari tembaga. Di samping itu, semua susunan batu itu telah dikerjakan secara rapi sekali. Lubanglubang
sedalam 8 kaki yang sampai sekarang belum dijelaskan untuk apa terdapat dalam balok batu yang
beratnya
10 ton. Batu ubin yang sudah aus, yang panjangnya 16 ½ kaki dan merupakan satu potong batu
tanpa
sambungan juga tidak membantu memecahkan teka-teki yang terdapat di Tiahuanaco itu. Saluran air
yang
terbuat dari batu sepanjang 6 kaki dan lebar 1 ½ kaki, terdapat bertebaran di atas lantai bagaikan
mainan.
Tebaran benda-benda itu pasti disebabkan oleh bencana alam yang dahsyat. Penemuan ini telah mengejutkan
kita karena hasil karyanya yang begitu cermat. Apakah nenek moyang kita di Tiahuanaco tidak dapat berbuat
sesuatu yang lebih baik dari pada menghabiskan waktu bertahun tahun membuat saluran seperti itu tanpa
peralatan sedemikian cermatnya, sehingga kalau dibanding kan maka saluran air kita yang modern dan terbuat
dari beton itu seolah-olah hanyalah hasil pekerjaan yang ceroboh belaka?
Di halaman kuil yang sekarang telah dipugar, terdapat sekumpulan patung kepala campur aduk, yang kalau
diperhatikan dari dekat adalah merupakan kumpulan dari berbagai ras; karena sebagian mukanya ada yang
berbibir tipis, ada yang berbibir tebal; sebagian ada yang berhidung panjang, ada yang berhidung lengkung;
sebagian ada yang berkuping tipis bagus, ada yang berkuping tebal; sebagian berwajah lembut, ada yang
wajahnya ber sudut-sudut. Dan sebagian dari kepala-kepala itu berhelm aneh. Apakah bentuk-bentuk wajah
yang tak dikenal ini dimaksudkan untuk mencoba menyampaikan pesan kepada kita bahwa kita tidak dapat
dan tidak akan mengerti karena dicegah oleh sikap kita yang keras kepala dan berprasangka?.
Salah satu keajaiban arkeologi dari Amerika Selatan ialah Gerbang Monolitas Matahari di Tia huanaco yakni
suatu patung raksasa yang tingginya hampir 10 kaki, lebarnya 16 ½ kaki, dipahat dari satu balok batu tunggal.
Beratnya ditaksir lebih dari 10 ton. Empatpuluh delapan buah bujursangkar yang disusun dalam tiga deretan,
mengapit patung yang menggambarkan dewa terbang. Apakah yang diceritakan legenda tentang kota
Tiahuanaco yang misterius itu?
Alkisah, dikatakan orang bahwa sebuah kapal ruang angkasa terbuat dari emas pernah datang dari bintang; di
dalamnya terdapat seorang wanita yang bernama Oryana, yang akan melaksanakan tugas di bumi ini yakni
menjadi Ibu Agung. Oryana hanya mempunyai empat jari yang di sela-selanya berselaput seperti jari-jari kaki
bebek. Ibu Agung Oryana melahirkan 70 orang anak bumi, setelah itu ia kembali ke bintang tempat asalnya.
Memang di Tiahuanaco ditemukan pahatan-pahatan batu karang yang menggambarkan makhluk hidup yang
berjari empat. Abadnya tak dapat di tentukan. Tiada seorang pun dan dari abad mana pun yang telah kita
ketahui pernah melihat Tiahuanaco dalam keadaan utuh.
Rahasia apakah yang disembunyikan kota ini? Pesan apakah yang dikirim dari dunia lain, yang menanti
pemecahannya pada dataran tinggi di Bolivia itu? Tidak ada penjelasan yang masuk akal mengenai awal dan
akhir kebudayaan ini. Hal ini sudah tentu tidak akan menghentikan beberapa arkeologis membuat ketentuan
yang berani dan berkeyakinan pribadi menetapkan bahwa tempat re runtuhan itu telah berumur 3.000 tahun.
Mereka menentukan zaman ini berdasarkan beberapa patung yang menggelikan terbuat dari tanah dan yang
tak mungkin mempunyai sangkut paut dengan zaman monilit. Para sarjana mempermudah sesuatunya demi
kepentingan mereka. Mereka persatukan sejumlah pecahan-pecahan tembikar, men cari dan meneliti
kebudayaan dari satu atau dua zaman yang berdekatan, Kemudian label dipasang pada penemuan yang telah
dipersatukan tadi, dan dengan demikian cocoklah segala sesuatunya pada pola pemikiran yang telah disetujui.
Cara ini nyata sekali lebih mudah dari pada mencoba gagasan tentang adanya suatu keterampilan tehnik yang
diperlukan di suatu zaman,atau gagasan tentang adanya wisatawan ruang angkasa dari zaman yang telah
lama silam. Percobaan gagasan demikian dianggap hanya akan mempersulit persoalan, tanpa guna.
Kita juga jangan melupakan Sacsahuaman! Di sini saya tidak mengingatkan anda kembali kepada sistem
pertahanan Inca yang fantastis, yang terletak beberapa kaki di atas Cuzco sekarang; juga tidak kepada balokbalok
monolit yang berat semuanya lebih dari 100 ton; juga tidak kepada dinding-dinding teras yang
panjangnya
lebih dari 1.500 kaki, dan lebarnya 54 kaki, yang di depannya sekarang para wisatawan suka
membuat
foto untuk suvenir. Saya menunjukkan Sacsahuaman yang tidak dikenal, yang terletak hanya
setengah
mil atau lebih dari benteng Inca yang terkenal itu.
Khayalan kita tak mampu memahami sumber tehnik apa yang telah digunakan nenek moyang kita untuk
menambang karang-karang monolit seberat 100 ton lebih sebuah, kemudian mengangkutnya dan
mengolahnya di tempat yang jauh dari tambang.
Tetapi jika kita dihadapkan kepada suatu balok yang beratnya ditaksir 20.000 ton, maka khayalan kita yang
sudah dibuat agak jemu oleh kemajuan teknik zaman sekarang, mendapat kejutan yang paling dahsyat. Pada
perjalanan pulang dari pertahanan Sacsahuaman, di dalam suatu kawah gunung, beberapa ratus yard jauhnya
dari benteng, pengunjung dapat melihat sesuatu yang bentuknya aneh. Itu adalah suatu balok batu tunggal
sebesar rumah bertingkat empat. Balok itu telah dihias sempurna sekali dengan seni yang paling tinggi;
mempunyai anak-anak tangga dan jalan-jalan melandai, serta di hiasi dengan spiral-spiral dan lubang-lubang.
Pembentukan balok batu yang belum pernah terjadi sebelumnya sudah tentu tidak hanya sekelumit kegiatan di
waktu santai belaka bagi sekelumit orang-orang Inca, bukan?
Adakah kemungkinan bahwa kegiatan itu untuk maksud yang belum dapat dijelaskan? Pemecahan teka-teki
itu dipersulit lagi oleh kenyataan bahwa balok itu berdiri hanya terbalik alias ter jungkir. Jadi anak-anak tangga
itu menurun dari atap; lubang-lubangnya menghadap kejurusan yang berlainan. Bagaikan lekukan-lekukan
pada granat. Cekungan-cekungan yang aneh, yang dibentuk seperti kursi kelihatan seperti melayang di udara.
Siapa yang dapat membayangkan bahwa tangan manusia, usaha menusialah yang menggali, mengangkut,
lalu membentuk balok batu ini? Kekuatan apakah yang telah menjungkirbalikkannya? Kekuatan raksasa
semacam apakah yang dipekerjakan di sini? Dan untuk maksud apa?
Masih dalam keadaan keheran-heranan karena batu yang aneh bentuknya itu, hanya 900 Yard dari sana,
pengunjung akan menemukan vitrifikasi karang, yakni perubahan karang menjadi semacam kaca yang hanya
mungkin dapat terjadi dengan jalan melabur batu pada suhu yang sangat tinggi. Para pengunjung diberi tahu
dengan tepat bahwa batu karang itu diturunkan ke bawah oleh gletsiergletsier. Keterangan ini menggelikan.
Gletsier seperti halnya dapat mengalir, akan mengalir ke bawah hanya ke satu sisi saja. Sifat zat ini hampir
tidak mungkin berubah justru pada saat terjadinya vitrifikasi. Bagaimanapun, tak dapat diterima akal, bahwa
gletsier mengalir turun ke enam arah yang berbeda-beda di atas areal sekitar 18.000 yard persegi.
Sacsahuaman dan Tiahuanaco menyembunyikan banyak sekali misteri pra sejarah. Keterangan-keterangan
yang beredar mengenai misteri itu sangat dangkal dan tidak meyakinkan. Selain itu vitrifikasi pasir terdapat pula
di gurun Gobi di sekitar tempat arkeologis tua di Irak. Siapakah yang dapat menjelaskan mengapa vitrifikasi
pasir ini sama benar dengan vitrifikasi yang terjadi di Gurun Nevada yang disebabkan oleh ledakan atom?
Bilakah akan dikerjakan sesuatu yang menentukan untuk memberikan jawaban yang meyakinkan kepada
teka-teki prasejarah itu? Di Tiahuanaco terdapat bukit-bukit buatan yang penuh tetumbuhan, yang
permukaannya rata benar, seluas 4.748 yard persegi. Agaknya sangat mungkin bahwa di bawahnya
tersembunyi bangunan-bangunan. Selama belum digali orang parit sepanjang deretan bukit-bukit itu, misteri itu
tidak akan terpecahkan. Tak dapat di sangkal bahwa uang adalah kurang. Namun demikian para wisatawan
sering melihat prajurit-prajurit dan para perwira yang nyata-nyata tidak mengerti pekerjaan apa yang berguna
dan harus dikerjakan. Apa salahnya kalau penggalian dilakukan oleh satu kompi tentara di bawah pengawasan
seorang akhli?
Uang tersedia untuk sekian banyak hal lain di dunia. Penelitian sangatlah penting bagi masa depan. Selama
masa silam kita belum terungkap maka buku catatan untuk masa depan tetap kosong. Tak dapatkah masa
silam menolong kita mencapai pemecahan teknis, di mana untuk pertama kalinya pemecahan itu telah ada di
zaman purbakala?
Jika dorongan untuk menemukan masa silam kita tidak cukup merangsang untuk menggerakkan pekerjaan
penelitian modern yang mendalam, barangkali mistar hitung dapat digunakan. Sebegitu jauh, pada segala
peristiwa belum ada seorang sarjanapun yang pernah diminta supaya menggunakan pesawat terbang modern
untuk menyelidiki radiasi di Tiahuanaco, di Sacsahuaman, Sodom yang ada dalam dongeng, atau di Gurun
Gobi. Naskah-naskah dongeng, atau yang bertulisan kuno dan lembaran sejarah dari buku tertua tentang
manusia; menceriterakan tanpa kecuali tentang para dewa yang mengendarai kapal sorga, para dewa yang
datang dari bintang, yang mempunyai senjata yang mengerikan, dan kembali lagi ke bintang asalnya. Mengapa
kita tidak mencari “dewa” tua itu? Para astronom radio kita mengirim isyarat-isyarat ke alam semesta untuk
mengadakan kontak dengan cendekiawan-cendekiawan yang belum dikenal. Mengapa kita tidak lebih dulu
mencari atau tidak sekaligus jejak-jejak dari para cendekiawan yang belum dikenal di bumi kita yang lebih
dekat? Bila kita tidak meraba-raba dengan membabi buta dalam kegelapan, jejak-jejak itu dapat dilihat oleh
semua orang.
Kira-kira 2.000 tahun sebelum zaman kita, orang-orang Sumeria telah mulai mencatat masa lampau rakyatnya
yang gemilang. Sampai sekarang kita masih belum mengetahui dari mana orang ini berasal. Tapi kita
mengetahui bahwa orang Sumeria ini membawa kebudayaan yang sudah maju dan tinggi, yang mereka
paksakan kepada rakyat Semit yang masih setengah biadab. Kita juga tahu bahwa mereka selalu mencari
dewa mereka di puncak-puncak gunung, dan jika tidak ada puncak gunung di daerah itu, mereka menduduki
dan mendirikan gunung-gunung buatan pada dataran-dataran rendah. Astronomi mereka telah berkembang
luar biasa. Observatorium mereka telah mencapai perkiraan rotasi bulan yang hanya berbeda 0,4 detik dari
perkiraan masa sekarang.
Di samping syair kepahlawanan yang menakjubkan dari Gilgamesh, mereka telah meninggalkan sesuatu yang
sensasionil sekali. Tentang syair kepahlawanan itu nanti akan saya ceritakan lebih banyak lagi. Di atas bukit
Kuyunjik (dahulu Ni niveh) terdapat suatu perhitungan dengan hasil akhirnya yang dalam notasi kita ialah:
195.995.200.000.000. Suatu bilangan terdiri dari lima be las angka. Keturunan dari kebudayaan Barat kita;
Junani, yang sering disebut sebagai telah belajar secara intensif, tak pernah meningkat di atas 10.000 selama
masa jayanya peradaban mereka. Segala yang di luar itu dengan se derhana dilukiskan sebagai “tak terbatas”.
Tulisan-tulisan kuno memberikan kehormatan secara harafiah dengan jenjang kehidupan yang fantastis
kepada orang Sumeria. Jadi, kesepuluh raja permulaan seluruhnya memerintah selama 456.000 tahun,
sedangkan kedua puluh raja yang mendapat tugas sulit untuk membangun negara kembali setelah banjir,
masih tetap dapat mempertahankan tampuk pimpinan pemerintahan seluruhnya selama 24.510 tahun 3 bulan
3 ½ hari.
Ada masa beberapa tahun yang tak dapat di mengerti oleh cara berpikir kita sekalipun nama-nama dari semua
penguasa tercantum pada daftar panjang, dan secara rapi diabadikan pada materai dan mata uang. Apakah
yang akan terjadi bila di sini pun kita memberanikan diri membuka tutup mata kita dan melihat pada hal yang
tua dengan mata yang segar masa kini?
Mari kita misalkan bahwa astronot-astronot asing telah mengunjungi wilayah orang Sumeria ribuan tahun yang
lalu. Misalnya lagi bahwa mereka telah meletakkan dasar-dasar peradaban dan kebudayaan rakyat. Dan
kemudian mereka kembali ke planet asal mereka setelah memberikan stimulan untuk perkembangan ini.
Selanjutnya mari kita membuat dalil bahwa kepenasaran mendorong mereka kembali kepada pemandangan
pekerjaan yang mereka rintis setiap seratus tahun bumi sekali untuk mencek hasil dari eksperimen mereka.
Menurut patokan harapan ke kehidupan kita masa sekarang, para astronot itu dengan mudah sekali dapat
lolos dari kepunahan selama 500 tahun bumi lagi. Menurut teori relativitas, para astronot itu selama
penerbangan pulang pergi dalam pesawat ruang angkasa yang terbang dengan kecepatan cahaya, hanya
mungkin dapat hidup selama empat puluh tahun. Selama abad itu orang-orang Sumeria mungkin telah
membangun menara, piramida-piramida, dan rumahrumah dengan segala kelengkapannya; mungkin telah
berkorban kepada para dewa mereka dan menantikan kedatangannya kembali. Dan setelah beratus-ratus
tahun bumi, para dewa itu betul-betul datang kembali. “Dan kemudian datanglah banjir, dan setelah banjir
maka datanglah kapal dewa turun dari langit sekali lagi”, demikian ditulis dalam tulisan kuno bangsa Sumeria.
Dalam bentuk apakah bangsa Sumeria itu mengkhayalkan dan menggambarkan dewa mereka Mitologi
bangsa Sumeria dan beberapa lembaran sejarah serta gambaran bangsa Akadia memberikan keterangan
tentang ini. “dewa” bangsa Sumeria tidak Antrophormophis dan tiap simbol dari seorang dewa juga ada
hubungannya dengan sebuah bintang.
Dalam lembaran sejarah bergambar bangsa Akadia, bintang-bintang dilukiskan seperti yang mungkin akan
digambarkan oleh manusia sekarang. Satu-satunya hal yang luar biasa ialah bahwa bintang-bintang ini
dikelilingi oleh planet-planet dari berbagai ukuran. Bagaimana bangsa Sumeria yang tidak mempunyai teknik
pengamatan langit seperti yang kita miliki sekarang mengetahui bahwa sebuah bintang yang tak berubah
tempatnya mempunyai sejumlah planet? Banyak terdapat corat-coret yang menggambarkan orang dengan
bintang di kepalanya, sedangkan yang lainnya meng gambarkan orang sedang mengendarai bola bersayap.
Ada pula suatu gambar yang seketika akan mengingatkan orang pada suatu model dari atom yakni suatu
lingkaran terdiri dari bola-bola yang disusun berdekatan dengan yang lain yang memancar, tetapi tidak dikitari
oleh sinar.
Jika kita melihat pusaka dari bangsa Sumeria dengan “mata ruang angkasa”, pusaka itu penuh dengan
pernyataan dan teka-teki; di samping itu, bagian-bagian yang dalam dan yang aneh-aneh dari langit semakin
berkurang artinya.
Berikut ini adalah sebagian dari yang aneh-aneh pada bidang geografi yang sama.
1. Gambar-gambar Spiral dari 6.000 tahun yang  lalu di Geoy Tepe, suatu hal yang jarang terjadi.
2. Suatu industri batu api, yang dipercaya telah berumur 40.000 tahun di Gar Kobeh.
3. Penemuan-penemuan serupa di Baradostian ditaksir sudah berumur 30.000 tahun.
4. Benda-benda dari batu, pusara-pusara dan perlengkapan-perlengkapan dari batu di Tepe Asiab dari
13.000 tahun yang lalu.
5. Kotoran yang telah membatu. mungkin bukan kotoran manusia, ditemukan di tempat yang sama.
6. Alat-alat dan pengukir-pengukir batu ditemukan di Karim, Shahir. Senjatasenjata, geretan dan alat lain
ditemukan dari galian diBarda Balka. Kerangka-kerangka orang dewasa dan kanak-kanak ditemukan
dalam gua di Shandiar. Kerangka-kerangka ini ditetapkan dengan metoda (-14) berasal kira-kira dari
45.000 sebelum masehi.
Daftar itu dapat diperluas lagi, dan tiap fakta mungkin memperkuat penentuan bahwa di wilayah geografis
Tumer kira-kira 40.000 tahun yang lalu pernah hidup suatu campuran orang-orang primitif. Tetapi tiba-tiba
dengan alasan yang sampai saat ini tak dapat dijelaskan, bangsa Sumeria muncul di sana dengan
astronominya, dengan kebudayaannya dan teknologinya.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari kehadiran para pengunjung yang tidak dikenal sebelumnya, yang datang
dari langit masih bersifat spekulatif. Kita dapat mengkhayalkan bahwa para “dewa ini mengumpulkan orangorang
yang setengah biadab di Tumer itu, di sekitar para dewa, dan memindahkan pengetahuannya kepada
mereka.
Patung kecil maupun besar di musium menunjukkan adanya campuran ras, ada yang bermata terbelalak, ada
yang dahinya menonjol, ada yang bibirnya tipis, ada yang hidungnya panjang dan lurus. Suatu gambaran yang
sukar sekali untuk di cocokkan ke dalam sistem pemikiran yang skematis, dan konsepsinya tentang orangorang
primitif. Para pengunjung dari langit di zaman pur bakala yang baru saja silam?
Di Libanon terdapat batu karang yang mirip kaca, yang disebut tekstite, di mana telah ditemukan isotop
alumunium yang radioaktif.
Di Mesir dan Irak ditemukan lensa-lensa kristal yang telah dipotong, yang kalau sekarang hanya mungkin
dilakukan dengan menggunakan oksida sesium; dengan perkataan lain suatu oksida yang harus dibuat
dengan proses kimia elektrolitis.
Di Helwan terdapat sehelai kain, suatu tenunan yang sedemikian halusnya sehingga kalau sekarang hanya
mungkin bisa ditenun oleh suatu pabrik tekstil yang mempunyai kecakapan teknis dan pengalaman.
Batere-batere kering, yang bekerja berdasarkan prinsip-prinsip galiano dipamerkan di Museum Baghdad. Di
tempat itu juga pengunjung dapat melihat elemen-elemen listrik dengan elektroda-elektroda dan elektrolit yang
tak dikenal.
Di daerah pegunungan Kohistan di Asia, suatu lukisan dalam gua, menggambarkan posisi bintang bintang
yang tepat, seperti keadaannya pada 1.000 tahun yang lalu. Venus dan bumi dihubung kan dengan beberapa
garis.
Perhiasan-perhiasan terbuat dari platina yang dilebur ditemukan di dataran tinggi Peruvia.
Bagian-bagian dari sabuk yang dibuat dari alumunium terdapat di sebuah makam di Fung Yen Cina.
Di Delhi terdapat pilar kuno terbuat dari besi, tetapi tidak rusak oleh phosphat, belerang, atau oleh efek cuaca.
Urutan-urutan aneh dari “kemustahilan “ ini seharusnya membuat kita menjadi penasaran dan gelisah. Dengan
alat dan intuisi apa penghuni gua yang masih primitif itu dapat menggambarkan bintang-bintang dalam
posisinya yang tepat itu? Di bengkel presisi manakah lensa itu di potong? Bagaimana orang pada waktu itu
dapat melebur dan mencetak platina, yang bertitik lebur 1.800º C itu? Dan bagaimana orang-orang Cina kuno
dapat membuat alumunium, sejenis logam yang harus diekstraksikan dari bauxite dengan tek nik kimiawi yang
sangat rumit. Pertanyaan-pertanyaan yang mustahil, tetapi apakah ini berarti bahwa kita tidak perlu
menanyakannya?
Oleh karena kita tidak bersedia untuk menerima atau membenarkan bahwa sebelum teknologi dan
kebudayaan kita sendiri pernah ada teknologi dan kebudayaan yang lebih tinggi dan lebih sempurna, maka
yang tertinggal hanyalah tentang kunjungan dari angkasa luar. Selama arkeologi disalurkan seperti yang telah
dijalankan sampai sekarang, kita tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk menemukan apakah masa
lampau kita yang samar-samar itu benar-benar samar ataukah cerah sekali.
Suatu tahun arkeologi utopi telah tiba saatnya di mana para arkeologis, para akhli fisika, para kimiawan, para
geologis, para akhli metalurgi; para akhli dari segala cabang ilmu pengetahuan ini harus memusatkan daya
upaya kepada satu-satunya pertanyaan : “Benarkah nenek moyang kita pernah menerima kunjungan dari
angkasa luar?”. Sebagai contoh misalnya, seorang akhli metalurgi mungkin dapat menerangkan dengan cepat
dan singkat betapa rumitnya memproduksikan alumunium. Apakah tidak masuk di akal bahwa seorang akhli
fisika dapat segera mengenali suatu rumus dalam suatu lukisan pada batu karang? Seorang kimiawan dengan
perkakas-perkakasnya yang sangat sempurna mungkin dapat memperkuat asumsi bahwa tugu dibuat dari
batu karang dengan jalan membasahi seratan-seratan kayu atau menggunakan asam-asam yang tak dikenal.
Para geologis harus menjawab sederetan pertanyaan-pertanyaan tentang hal apa yang penting dari endapanendapan
pada Abad Es. Team bagi tahun arkeologis utopia, selayaknya pula meliputi sekelompok penyelam
yang
akan menyelidiki Laut Mati, apakah di dasarnya terdapat bekas-bekas ledakan atom yang radioaktif di
atas
Sodom dan Gommorah.
Mengapa perpustakaan tertua itu malah adanya dalam perpustakaan rahasia dunia? Apakah sebenarnya yang
ditakuti orang? Apakah mereka cemas akan kebenaran yang sampai sekarang masih dilindungi dan ditutupi
selama beribu-ribu tahun akhirnya terungkap?
Penelitian dan kemajuan tak akan dapat di tarik mundur. Selama 4.000 tahun orang Mesir menganggap dewa
mereka sebagai makhluk hidup yang sebenarnya. Dalam Abad pertengahan, kita telah memberantas “Sihir”
dari semangat ideologi kita yang menyala-nyala. Kepercayaan orang Yunani bahwa mereka dapat meramalkan
masa depan dari isi perut angsa, sekarang sudah sama kunonya dengan keyakinan dari orang yang
ultrakonservatif bahwa nasionalisme masih mempunyai arti yang paling penting.
Kita harus memperbaiki seribu satu macam kesalahan tentang masa lampau. Keyakinan diri sendiri yang
sudah usang itu, sebenarnya hanyalah suatu penyakit kepala batu yang sudah parah sekali. Di meja
konferensi,para sarjana ortodoks masih diliputi oleh khayalan bahwa sesuatu harus dibuktikan sebelum orang
yang serius dapat atau boleh memperhatikannya.
Di masa lampau siapa saja yang mengajukan suatu pendapat baru yang orisinil pasti menerima hinaan dan
siksaan batin dari gereja dan rekan-rekannya. Orang mengira bahwa sesuatu akan menjadi mudah dengan
sendirinya. Sekarang sudah tidak ada lagi kutukan, dan api pada tiang penyiksa sudah tidak dijalankan. Yang
menjadi halangan sekarang hanyalah tinggal caranya, yakni cara yang tidak spektakuler, sekalipun hampir
tidak begitu menghalangi kemampuan. Sekarang segala sesuatunya sudah agak “beradab” tidak “cerewet”
seperti dulu-dulu. Teori-teori yang terlalu berani dan gagasan yang tak dapat ditolelir, segera dibungkam atau
diberangus oleh ungkapan-ungkapan seperti:
1. Bertentangan dengan peraturan ! (selalu yang baik).
2. Kurang klasik (harus berkesan).
3. Terlalu revolusioner !(tidak ada duanya dalam efek menghambatnya).
4. Universitas-Universitas tak akan sependapat! (bersifat menghukum).
5. Orang lain sudah pernah mencobanya !(tetapi apakah berhasil).
6. Kita dapat melihat manfaatnya ! (justru itulah adanya).
7. Itu belum pernah dibuktikan !(itulah yang justru harus dibuktikan).
Lima ratus tahun yang lalu seorang sarjana berteriak di dalam sidang peradilan: “Hanya orang gila yang
mengatakan bahwa dunia itu mungkin bentuknya bulat. Sebab kalau demikian segala apa yang ada di belahan
bawahnya akan berjatuhan ke dalam ruang kekosongan, kehampaan!”. Sedangkan yang lain memperkuatnya
dengan mengatakan: “Tidak ada disebut dalam Injil, bahwa bumi berputar mengelilingi matahari! Karena itu
setiap ketetapan demikian, pasti perbuatan setan!”.
Agaknya sudah merupakan ciri khas zaman itu, bahwa setiap gagasan baru dihadapi dengan kepicikan. Tetapi
di ambang abad ke duapuluh satu mendatang ini pekerja penelitian harus sudah siap dengan kenyataan,
dengan realitas. Ia harus berkeinginan kuat untuk mengubah hukum dan pengetahuan yang sudah
berabadabad lamanya dianggap sangat keramat. Tetapi oleh pengetahuan baru disangsikan kebenarannya
sekalipun ada sepasukan tentara yang berusaha menggagalkannya.Dunia baru harus ditundukkan demi
kebenaran dan realitas.
Dua puluh tahun yang lalu setiap orang dari kalangan ilmiawan membicarakan satelit, kelihatannya bagaikan
sedang melakukan bunuh diri dalam arti akademis. Sekarang sudah tidak terhitung ba nyaknya satelit buatan
manusia yang mengitari planet-planet lain, mengitari matahari bersama-sama planet alamiah, mendarat di
bulan; memotret planet venus, mars; dan dengan radio mengirimkan potret-potret yang prima ke bumi, tentang
pemandangan yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Ketika potret-potret itu dikirim ke bumi dalam tahun
1958, tenaga yang dibuttchkan untuk itu hanyalah 0,000,000,000,000,000,01watt Suatu jumlah yang tak
terkatakan lagi kecilnya.
Sekarang semua itu sudah tidak dianggap luar biasa. Kata “mustahil” sekarang harus secara harafiah mustahil
ada, dengan perkataan lain para sarjana harus tidak mengenal “mustahil”. Setiap orang yang sekarang tidak
mau menerima kenyataan ini besok akan tergilas oleh kenyataan itu sendiri. Oleh karena itu mari kita
berpegang teguh kepada teori yang menetapkan bahwa beribu-ribu tahun yang lalu, bumi kita pernah
dikunjungi oleh astronot-astronot dari planet lain yang jauh sekali.
Kita mengetahui bahwa nenek moyang kita yang dungu dan primitif itu tidak mengetahui apa yang harus
mereka lakukan dengan teknologi yang hebat yang dibawa oleh para astronot itu.Para astronot itu dianggap
“dewa” yang datang dari bintang-bintang lain dan disembahnya. Para astronot itu tak dapat berbuat lain,
kecuali menerima saja dengan sabar pendewaan itu. Para astronot itu di planetnya sendiri barangkali sekalisekali
mau menerima penghormatan yang berupa sanjungan itu.
Sebagian bumi kita masih dihuni oleh orang-orang yang masih primitif yang masih menganggap senapan
mesin sebagai senjata setan. Sedangkan pesawat udara jet sebaliknya. Mungkin mereka anggap sebagai
kendaraan malaikat. Suara yang ke luar dari pesawat penerima radio mungkin dianggapnya suara dewa.
Orang-orang primitif terakhir ini pun akan mewariskan kesan-kesan mereka secara turun-temurun dalam
hikayatnya, tentang kemajuan teknik yang kita sendiri mengganggapnya sebagai sesuatu yang sudah
seharusnya demikian. Mereka masih menggambarkan dewa mereka dan kapal-kapal ajaib yang datang dari
langit dengan corat coret pada batu karang di dinding gua. Dengan cara ini mereka telah menyimpan apa yang
kita capai sekarang. Gambar-gambar dalam gua di Kohistan Perancis, di Sahara dan Peru, di Amerika Utara,
dan Rhodesia Selatan maupun yang di Chili; semuanya membenarkan teori kita.
Henry Lhote seorang sarjana Perancis, menemukan beberapa ribu lukisan dinding dengan cat di TassiliZahara,
yaitu mengenai bintang dan orang yang diantaranya ada orang berpakaian indah tetapi pendek. Orang
itu
dilukis membawa tongkat yang diujungnya terdapat kotak yang sukar dijelaskan. Berdekatan dengan
gambar
bintang-bintang terdapat makhluk yang memakai semacam pakaian menyelam. Makhluk ini yang oleh
Lhote
di sebut dewa Mars, tingginya 18 kaki. Kalau semua gambar-gambar itu harus cocok dengan pola
pemikiran
kuno, maka orang-orang yang mewariskan gambar-gambar itu kepada kita tidak mungkin
keadaannya
seprimitif yang kita duga. Tetapi bagaimana pun juga, untuk membuat gambar setinggi 18 kaki itu
orang pasti telah menggunakan peran cah, sebab tanah di dalam gua itu dalam jutaan tahun terakhir ini tidak
ada tanda-tanda pernah di garuk atau digali.
Tanpa melebih-lebihi khayalan, saya mendapat kesan bahwa dewa Mars itu telah dibuat dengan
menggunakan pakaian menyelam (jadi waktu itu gua dan sekitarnya masih terendam dalam air) atau dengan
menggunakan pakaian terbang. Di pundaknya, dewa Mars itu memikul semacam helm yang dihubungkan
dengan batang tubuhnya oleh semacam penyambung. Pada helm itu terdapat banyak lubang atau celah
seperti lubang hidung atau lubang mulut. Gambar ini memang unik tetapi gambar-gambar yang aneh seperti ini
banyak pula terdapat di Tassili.
Di tempat-tempat lain seperti Amerika Serikat, di Tulare suatu daerah di California, terdapat pula gambargambar
serupa. Saya juga ingin percaya bahwa seniman-seniman primitif itu tidak teram pil dan bahwa hanya
cara
itulah yang dapat mereka lakukan dalam menggambarkan makhluk-makhluk atau benda-benda. Tetapi
dalam
hal dewa Mars itu bagaimana mungkin bagi penghuni gua yang masih setengah beradab itu untuk
menggambarkan
manusia sesempurna itu. Jadi mungkin gambar itu telah dibuat oleh seniman-seniman yang
cukup
cakap untuk melukiskan apa yang benar-benar telah mereka lihat, bukan khayalan. Di propinsi Inyo di
California,
terdapat gambar suatu bentuk geometris yang menyerupai mistar hitung berangka ganda. Para
arkeologis
berpendapat bahwa gambar itu melukiskan angka-angka dari para dewa. Di Siyak, Perancis, pada
jambangan
tembikar terdapat gambar binatang yang tak diketahui orang dari jenis apa yang mempunyai
tanduk
tegak lurus dan besar sekali. Betapa tidak aneh binatang itu? Ke dua tanduknya mempunyai spiralspiral
yang menuju ke kiri dan kanan. Kalau anda ingin mengetahui bagaimana gambar itu rupanya,
bayangkan
saja dua batang logam yang dibungkus dengan isolasi pos lain seperti yang sering kita lihat di
gardu-gardu
PLN. Apakah yang dikatakan para arkeologis tentang itu? Dengan mudahnya mereka
mengatakan
bahwa gambar itu adalah simbol dari pada dewa.
Dewa-dewa itu tinggi nilainya. Orang lain menerangkan bahwa sebagian besar mungkin segala yang tidak
diketahuinya benar-benar dilakukan dengan cara menghubungkannya dengan yang gaib-gaib saja. Di alam
yang serba gaib ini orang mendapatkan ketentraman batin dan dapat hidup damai. Setiap patung kecil, setiap
benda hasil budaya yang terkumpulkan, setiap benda hasil penyatuan pecahan-pecahan barang purbakala,
selalu mereka hubungkan-hubungkan dengan sesuatu kepercayaan atau sebangsanya. Tetapi kalau ada
sesuatu benda yang tidak cocok dengan ketentuan agama yang ada, sekalipun dengan paksa dicocokcocokkan,
maka disulaplah suatu cara pemujaan orang sinting, seperti halnya tukang sulap menyulap kelinci
dari
dalam kayu. Maka terpecahlah persoalannya.
Tetapi bagaimana kalau gambar-gambar dinding di Tassili, atau di Amerika Serikat atau di Perancis benarbenar
mereproduksikan apa yang pernah dilihat orang-orang primitif? Apa yang harus kita ka takan, jika spiral
pada
tanduk dewa Mars itu benar-benar menggambarkan antena, tepat seperti apa yang dilihat orang-orang
primitif
pada dewa yang tidak dikenalnya? Apakah tidak mungkin bahwa apa yang seharusnya tidak ada,
kenyataannya
memang pernah ada?
Jadi, seorang semi beradab yang namun cukup terampil untuk membuat lukisan-lukisan dinding, sebenarnya
tak mungkin setengah beradab.
Gambar dinding yang melukiskan wanita putih di Brandenberg, Afrika Selatan,mungkin gambar dari abad ke
duapuluh ini. Wanita itu bercelana ketat, memakai sarung tangan tali, kaos kaki dan selop. Wanita itu tidak
sendirian, di belakangnya ada seorang lelaki kurus membawa tongkat berduri, ia memakai helm yang berkelap
menadah sinar matahari. Dengan mudah gambar ini dianggap gambar modern, tetapi yang menjadi persoalan
ialah bahwa gambar itu terdapat dalam gua. Semua dewa yang digambarkan pada lukisan dalam gua di
Swedia dan Norwegia berkepala sama dan aneh. Para arkeologis menyebutnva kepala binatang. Tetapi
apakah tidak menggelikan kalau ada umat yang menyembah kepala binatang. Dan apakah tidak menggelikan
kalau ada umat yang me nyembah makhluk yang juga mereka sembelih untuk dimakan? Kita sering melihat
kapal terbang dan lebih sering lagi yang berantena khas.
Patung-patung berpakaian berat terdapat lagi di Val Camonica, Brescia Itali. Patung-patung itu juga bertanduk.
Saya bukan hendak bersikeras menyatakan bahwa para penghuni gua Itali itu bepergian pulang pergi antara
Itali dan Amerika Utara atau Swedia, atau antara Sahara dan Spanyol untuk mengajarkan pembawaan dan
daya cipta mereka. Namun demikian pertanyaan tetap mengiang di telinga : “Mengapa manusia primitif di
berbagai tempat yang berjauhan satu sama lain dan masing-masing bebas dari satu sama lain, membuat
patung-patung yang serupa ; yakni makhluk berpakaian berat dan berantena di kepalanya. Kalau patungpatung
demikian itu hanya terdapat di suatu tempat, saya tidak akan membuang-buang waktu untuk
mempersoalkannya.
Tetapi, seperti dikatakan di atas, benda-benda ganjil dan aneh itu terdapat hampir
dimana-mana.
Setelah kita melihat jauh ke belakang ke masa silam kita dengan pandangan zaman sekarang dan
menggunakan fantasi zaman teknologi sekarang untuk mengisi jurang pemisah antara kedua zaman itu, maka
kerudung yang menyelubungi kegelapan mulailah tersingkap.
KERETA PERANG YANG MENYALA-NYALA DARI LANGIT
Kira-kira pada awal abad ini terjadi suatu penemuan yang menggemparkan, yakni penemuan lembaranlembaran
hikayat terbuat dari tanah liat, yang memuat sanjak kepahlawanan yang sangat ekspresif. Bendabenda
itu milik perpustakaan Raja Asria, Ashurbanipal. Sanjak itu ditulis dalam bahasa Akadia. Setelah itu
ditemukan
lagi salinan keduanya yang berasal dari raja Murabi.
Telah terbukti dengan nyata bahwa versi asli dari sanjak kepahlawanan Gilgamesh itu berasal dari bangsa
Sumeria, suatu bangsa yang asal-usulnya tidak dikenal, tetapi pernah meninggalkan bilangan yang terdiri dari
lima belas angka itu dan astronomi yang sudah maju. Jelas juga kiranya bahwa garis besar dari sanjak
kepahlawanan Gilgamesh itu sejajar dengan kitab Injil tentang Kejadian. Lembaran hikayat pertama yang
ditemukan di Kuyunjik ada hubungannya dengan pembangunan tembok sekeliling Uruk oleh pahlawan
Gilgamesh. Lembaran hikayat itu dapat dibaca bahwa “Dewa dari Sorga” hidup dalam istana negara yang
mempunyai banyak lumbung dan bahwa pengawal istana berjaga-jaga di atas tembok itu. Dari hikayat itu
dapat diketahui pula bahwa Gilgamesh adalah balatentara yang tubuhnya dua pertiga dewa dan sepertiga
manusia. Para pengarak yang datang ke Uruk dan menatap pada Gilga mesh, menggigil ketakutan karena
wajahnya jauh dari tampan dan gagah. Dengan perkataan lain, keterangan pertama dari hikayat itu sekali lagi
mengandung gagasan tentang keturunan campuran antara “dewa” dan manusia.
Lembaran ke dua dari hikayat itu menceriterakan bahwa seorang tokoh lain, yakni Enkidu telah diciptakan oleh
seorang “dewi “ dari sorga bernama Auru. Enkidu diterangkan terperinci sekali dalam hikayat itu. Badannya
berbulu lebat, bajunya dari kulit binatang, makanannya rumput dan minumannya air dari tempat minum ternak.
Ia suka bersenang-senang di bawah air terjun yang deras. Ketika Gigamesh, raja dari Uruk mendengar
tingkahlaku Enkidu yang aneh ini, ia menyarankan supaya Enkidu dikasih wanita cantik agar dia ke luar dari
lingkungan ternak. Enkidu yang tak berdosa itu telah terjebak oleh muslihat raja, dan hidup bersama dengan
wanita setengah dewi yang cantik jelita selama enam hari enam malam. Sekelumit peristiwa mesum dalam
istana ini, menyebabkan kita menduga bahwa perkawinan silang antara makhluk setengah dewa dan makhluk
setengah binatang tidaklah menjadi persoalan su sila dalam dunia yang biadab ini.
Lembaran ke tiga dari hikayat itu, mengkhabarkan kepada kita tentang adanya awan debu yang datang dari
jauh. Sorga meraung -raung, bumi goncang dan akhirnya “dewa matahari” datang dan menyergap Enkidu
dengan sayapnya, dan badan Enkidu yang menjadi amat berat itu menggeletak bagaikan batu besar.Demikian
yang dapat kita baca.
Sekalipun kita anggap ceritera itu hanya khayalan belaka dari pengarangnya namun hal-hal yang
mengherankan masih tetap ada. Bagaimana para pengkisah lama itu mengetahui bahwa Enkidu itu dengan
mendadak menjadi berat bagaikan timah?
Sekarang kita mengetahui gaya tarik bumi dan gaya akselerasi kecepatan benda yang jatuh bebas dari atas.
Beberapa besar gaya tarik bumi yang menekan badan astronot kepada kursinya pada waktu lepas landas
dapat diperhitungkan sebelumnya. Tetapi, bagaimana gagasan ini timbul pada para pengkisah hikayat
purbakala?
Lembaran ke lima dari hikayat itu menerangkan bagaimana Gilgamesh dan Enkidu berangkat bersama-sama
berkunjung ke tempat bersemayam “para dewa”. Menara tempat kedudukan dewi Irninis dari jauh dapat dilihat
bersinar. Anak panah dan peluru yang menghujani Gilgamesh dan Enkidu yang sangat berhati-hati dalam
perjalanannya itu, semua tak ada yang membahayakan, semuanya mental. Dan ketika mereka sampai di
wilayah “para dewa” terdengar suara menggema: “Kembali ke tempatmu ! Tak seorang manusia pun
diperkenankan datang ke gunung suci tempat tinggal para dewa, barangsiapa menatap wajah para dewa pasti
mati”. Pun dalam Exodus dapat kita baca
“Engkau tidak akan melihat wajahku karena tiada seorang manusia melihat daku dan hidup”.
Lembaran ketujuh melaporkan pengalaman penerbangan Enkidu ke ruang angkasa. Ia dibawa terbang oleh
seekor garuda selama empat jam. Ia dibawa terbang dalam cakar garuda. Ia melaporkannya secara harafiah
sebagai berikut “Garuda itu berkata kepadaku: ‘Lihatlah ke bawah, ke tanah ! Seperti apa rupanya? Lihatlah ke
laut ! Kelihatannya seperti apa?’ Dan tanah bagaikan sebuah gunung dan laut bagaikan sebuah danau. Dan
dia terbang lagi selama empat jam dan berkata kepadaku: ‘Lihatlah ke bawah, ke tanah ! Seperti apa rupanya?
Lihatlah ke laut. Kelihatannya seperti apa?’Dan bumi seperti kebun dan laut seperti saluran air dari tukang
kebun. Dan ia terbang lebih tinggi selama empat jam lagi dan berkata ‘Lihatlah ke bawah, ke tanah. Seperti
apa rupa nya? Lihatlah ke laut. Kelihatannya seperti apa?’ Dan tanah kelihatannya seperti bubur dan laut
seperti air minum ternak”
Berdasarkan laporan ini pasti ada beberapa makhluk hidup yang pernah melihat bumi dari angkasa, dari
ketinggian yang tinggi sekali. Laporan ini, karena begitu tepat, sukar untuk disebut kha yalan. Bagaimana
orang dapat melaporkan bahwa tanah bagaikan bubur dan laut bagaikan bak air minum ternak, kalau tidak
pernah ada gambaran tentang bola dunia dilihat dari ketinggian.
Apabila lembaran hikayat itu juga menceri terakan tentang pintu yang dapat berbicara bagaikan manusia
hidup, kita segera akan menyebutnya pengeras suara. Sedangkan pada lembaran, kedelapan, Enkidu yang
telah melihat bumi dari ruang angkasa itu, dilaporkan meninggal dunia secara misterius; sedemikian
misteriusnya sehing ga Gilgamesh menduga bahwa Enkidu telah dihantam oleh hembusan beracun binatang
buas dari sorga. Tetapi dari mana Gilgamesh tahu bahwa hembusan beracun dari binatang buas sorga itu
dapat menyebabkan penyakit yang fatal dan tak tersembuhkan?
Lembaran ke sembilan dari hikayat itu melukiskan duka cita Gilgamesh. Ia berniat mengadakan perjalanan
jauh untuk menemui para dewa, karena ia selalu digoda oleh pikiran bahwa ia pun mungkin akan mati karena
penyakit yang sama, seperti yang diderita oleh Enkidu. Lukisan itu menjelaskan bahwa Gilgamesh mendatangi
dua buah gunung yang menopang sorga dan merupakan ger bang ke matahari. Di pintu gerbang ini ia
bertemu dengan dua raksasa, dan setelah lama berunding dengan mereka, ia diizinkan masuk; karena ia
sendiri sebenarnya dua pertiga dewa. Akhirnya Gilgamesh dapat menemukan taman para dewa, yang
dikelilingi oleh lautan luas tanpa batas.
Ketika Gilgamesh masih dalam perjalanan, para dewa memperingatkannya dua kali: “Gilgamesh, hendak ke
mana engkau bergegas? Engkau tidak akan menemukan kehidupan yang kau cari. Ketika para dewa
menciptakan manusia, mereka sudah menentukan kematiannya. Tetapi nyawa yang ia miliki ada dalam
pemeliharaan para dewa”. Tetapi Gilgamesh tidak mau diperingatkan, ia ingin bertemu dengan Utnapishtin
bapak dari segenap manusia, tak perduli apapun bahaya yang akan mengancam. Namun Utnapishtin hidup di
seberang laut luas tanpa batas; tak ada jalan menuju ke sana, tak ada kapal yang terbang melintasi laut itu,
kecuali kapal milik dewa matahari. Gilgamesh memberanikan diri menantang segala bahaya dan menyeberangi
lautan luas itu. Maka bertemulah ia dengan Utnapishtin. Pertemuan itu diuraikan dalam lembaran ke sebelas.
Gilgamesh berpendapat bahwa bapak segenap manusia itu tubuhnya sama besar dan sama tinggi dengan
tubuhnya sendiri. Ia mengatakan bahwa ia dengan Utnapishtin bagaikan ayah dan anak kandung. Kemudian
Utnapishtin menceriterakan riwayat hidupnya sendiri. Sungguh aneh, ia menceriterakannya kepada manusia
pertama. Lebih mengherankan lagi ialah uraian yang mendetail tentang banjir besar itu: Utnapisthin
menceriterakan kembali bahwa “para dewa” telah memperingatkannya akan adanya air bah besar itu, dan
memerintahkan nya untuk membuat kapal bahtera, untuk menye lamatkan wanita dan anak-anak, keluarganya
sendiri, dan para pengrajin dari segala bidang. Uraiannya tentang badai yang dahsyat, tentang kegelapan,
tentang air bah yang terus-menerus meningkat dan tentang kesedihan orang-orang yang tidak dapat
diselamatkannya.
Kita juga mendengar dari hikayat ini seperti halnya dalam injil tentang nabi Nuh, tentang burung gagak dan
burung merpati yang dilepaskan, dan tentang bagaimana akhirnya setelah air surut; kapal itu kandas di atas
sebuah gunung.
Kesesuaian antara ceritera tentang banjir besar dalam  sanjak kepahlawanan Gilgamesh dan yang diuraikan
dalam Injil, tak dapat diragukan, sehingga tak ada seorang sarjanapun yang membuat keterangan tandingan
terhadap itu. Yang menarik dari kesesuaian ini ialah bahwa dalam hal ini kita berurusan dengan pertanda atau
alamat, dan “Tuhan” atau “dewa” yang berlainan sama sekali. Andaikata keterangan tentang banjir besar itu
dalam Injil tidak orisinil, maka keterangan yang diuraikan oleh Utnapishtin itu merupakan keterangan dari orang
pertama yang selamat dan yang telah mengalami dan melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Telah dibuktikan dengan jelas sekali bahwa malapetaka banjir besar itu telah terjadi di Timur kuno beberapa
ribu tahun yang lalu. Tulisan-tulisan kuno di Babilonia kuno menunjukkan dengan tepat sekali tempat di mana
sisa-sisa kapal itu akan dapat ditemukan. Dan ternyata di sebelah Selatan puncak gunung Arafat, para
penyelidik telah menemukan tiga potong kayu yang diduga keras dapat menunjukkan tempat di mana kapal
bahtera itu dahulu kandas. Amat kebetulan sekali bahwa tempat di mana ditemukan bekas-bekas kapal kayu
yang lolos dari amukan air bah lebih 6000 tahun yang lalu itu amat dekat dari tempat yang ditunjuk itu.
Selain dari merupakan laporan tangan pertama, sanjak kepahlawanan Gilgamesh itu memuat uraian tentang
hal-hal luar biasa yang tidak mungkin lagi dikarang oleh para cendekiawan dari zaman penulisan sanjak itu,
selain yang diciptakan oleh para penterjemah dan para penjiplak yang merusak sanjak itu selama berabadabad.
Ini terbukti dari adanya fakta-fakta terpendam di antara uraian-uraian yang seharusnya diketahui oleh
para
penulis sanjak kepahlawanan Gilgamesh dan yang hanya mungkin dapat kita temukan sekarang me lihat
kecerahan
ilmu pengetahun masa sekarang.
Barangkali beberapa pertanyaan baru berikut akan menyinari sedikit kegelapan itu. Apakah mungkin bahwa
sanjak kepahlawanan Gilgamesh itu sama sekali bukan berasal dari Timur kuno, melainkan dari daerah
Tiahuanaco? Masuk akalkah kalau dikatakan bahwa anak cucu keturunan Gilgamesh berasal dari Amerika
Selatan, dan yang membawa pindah sanjak kepahlawanan itu ke Timur kuno? jawaban atas pertanyaan itu
paling-paling hanya akan menjelaskan sebutan tentang Gerbang Matahari, tentang penyeberangan laut luas
oleh Gilgamesh dan tentang sekonyong-konyong munculnya bangsa Sumeria. pada waktu yang bersamaan
dengan adanya Gerbang Matahari itu dan lain sebagainya.
Kita telah sama-sama mengetahui bahwa segala karya cipta dari Babilon yang terjadi kemudian, telah terjadi di
zaman bangsa Sumeria itu. Tak dapat diragukan lagi bahwa kebudayaan Mesir yang telah maju dari zaman
Fir’aun itu memiliki perpustakaan di mana rahasia-rahasia purbakala itu di pelihara, diajarkan, dipelajari dan
dikutip.
Sebagaimana telah disebut di Injil, Nabi Musa dibesarkan dalam istana di Mesir. Ia pasti dapat memasuki ruang
perpustakaan yang dimuliakan itu. Nabi Musa adalah orang terpelajar dan terbuka bagi gagasan baru. Dan
Memang ia diduga telah menulis lima buku tentang dirinya walaupun sampai sekarang masih merupakan teka teki
yang tak terpecahkan dalam bahasa apakah ia telah menulis buku-buku itu.
Jika karya tentang hipotesa bahwa sanjak ke pahlawanan didatangkan ke Mesir oleh bangsa Sumeria melalui
bangsa Assyiria dan bangsa Babilonia; bahwa Nabi Musa itu menemukan di sana, dan kemudian
menyadurnya untuk kepentingannya sendiri; maka ceritera tentang banjir besar itu yang dari Sumerialah yang
orisinil, bukan yang ada dalam Injil. Tidak patutkah kita mempertanyakan masalah itu?
Metode klasik tentang penyelidikan kepurbakalaan telah macet, dan karena itu tidak dapat sampai kepada
kesimpulan yang tak dapat dibantah. Metode itu terlalu terikat kepada pola pemi kiran yang stereo type dan
tidak memberikan peluang untuk gagasan-gagasan imajinatif dan spekulatif. Padahal hanya gagasan-gagasan
dan spekulasi inilah yang dapat menghasilkan gerak yang kreatif. Kebanyakan kesempatan untuk menyelidiki
Timur kuno telah tenggelam ke dalam kedudukan Injil yang tak dapat diganggugugat itu. Orang dahulu kala
tidak ada yang berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang ini, dan mengatakan keraguannya di depan
larangan untuk bertanya itu. Bahkan para cendekiawan dari abad ke sembilanbelas dan kedua puluh yang
kelihatannya pura-pura mengetahui kebenaran, pun masih tercekam oleh belenggu-belenggu mental yang
telah menyelimuti kesalahan-kesalahan dalam beribu-ribu tahun lamanya ini. Tetapi karena pengusutan
kembali timbul, mau tidak mau tentu akan mengundang pertanyaan tentang bagian-bagian dari ceritera dalam
Injil. Tetapi orang Kristen yang paling alim pun pasti telah menyadari bahwa banyak hal-hal yang diuraikan
dalam Perjanjian Lama sebenarnya tidak cocok dengan sifat-sifat keagungan, kebesaran dan kehadiran
Tuhan di mana-mana.
Orang yang memelihara keutuhan dogma-dogma dari Injil harus mempunyai minat untuk menjelaskan
siapakah sebenarnya yang mendidik manusia di zaman purbakala, siapa yang mengajarkan norma-norma
pertama tentang kehidupan sosial kepada mereka, siapa yang mewariskan undang-undang pertama tentang
keberhasilan, siapa yang membinasakan keturunan manusia yang durhaka. Kalau kita berpikir demikian dan
mengajukan pertanyaan semacam ini, tidak berarti bahwa kita tidak beragama. Saya sendiri yakin sekali bahwa
kalau pertanyaan terakhir di atas telah terjawab dengan sungguh-sungguh dan meyakinkan, maka ayat yang
saya sebut, Tuhan itu kekal dan abadi sifatnya. Tetapi hipotesa yang menyatakan bahwa Tuhan yang tak dapat
dibayang kan bagaimana bentuk dan rupanya itu, memerlukan kendaraan beroda dan bersayap untuk
bergerak ke sana ke mari, bersahabat dengan manusia primitif, dan tidak mau melepaskan topengnya; akan
tetap merupakan suatu anggapan yang menghina selama hipotesa itu tidak didukung oleh bukti-bukti.
Jawaban dari para akhli teologi bahwa Tuhan itu arif dan bijaksana, dan bahwa kita tidak akan dapat
membayangkan dengan cara bagaimana ia memperlihatkan dirinya dan bagaimana ia membuat manusia
rendah hati; hanyalah mengelak terhadap pertanyaan kita, dan karenanya tidak memuaskan.
Orang juga ingin menutup mata terhadap kenyataan baru. Tetapi hari depan kita dari hari ke hari selalu
menggerogoti masa silam kita. Di masa mendatang yang tidak akan begitu lama lagi, untuk pertamakali
manusia akan mendarat di planet Mars. Jika di sana ditemukan bangunan kuno yang telah lama ditinggalkan
walau sebuah saja, atau benda yang menunjukkan adanya kecendekiawan di masa lampau, atau satu lukisan
pada batu karang yang masih dapat dikenal; maka penemuan ini akan menggoyahkan landasan-landasan
agama kita, dan akan membuat masa lampau kita menjadi membingungkan. Satu saja yang ditemukan
semacam itu akan menyebabkan revolusi dan reformasi yang paling besar dalam sejarah umat manusia.
Mengingat masa depan yang mau tidak mau harus kita hadapi, apakah tidak lebih baik kalau kita
menggunakan gagasan-gagasan baru yang imajinatif dalam menyulap masa silam kita? Tanpa mengurangi
kepercayaan kita, kita tidak dapat lebih lama lagi mudah puas. Setiap agama punya konsepsi sendiri-sendiri
tentang ketuhanannya;
orang terpaksa harus berpikir dan percaya dalam rangka konsepsi agamanya. Sementara itu bersamaan
dengan zaman ruang angkasa, hari kiamat kecendikiaan semakin mendekat. Awan teologi akan menguap
bercerai-berai bagaikan gumpalan kabut. Dengan langkah yang menentukan ke dalam alam semesta, kita
akan harus mengakui hanya satu Tuhan, satu agama dan satu mashab saja; tidak lagi 2.000.000 dewa,
20.000 mashab, 10 agama-agama besar; tetapi mari kita teruskan pembentukan hipotesa dari masa silam
umat manusia yang utopis itu. Inilah gambarannya.
Samar-samar, kira-kira entah berapa abad yang lalu, sebuah kapal ruang angkasa tak dikenal telah
menemukan planet kita. Para awak kapal itu segera mengatakan,” Kami ini memiliki persyaratan bagi
kehidupan inteligensi yang dapat dikembangkan.”
Nyata sekali,bahwa orang di zaman itu bukanlah homo sapiens, melainkan sesuatu yang agak berbeda. Awak
kapal itu mengadakan insiminasi buatan terhadap beberapa anggota betina dari jenis “orang” itu, dibuatnya
supaya tidur nyenyak, kemudian ditinggalnya. Demikian menurut dongeng-dongeng kuno.
Beribu-ribu tahun kemudian para wisatawan ruang angkasa datang kembali dan mendapati contoh-contoh dari
homo sapiens induk terpencar di sana-sini. Mereka mengulangi experimen pembiakannya beberapa kali lagi
sampai akhirnya di hasilkan suatu makhluk hidup yang cukup cerdas untuk menerima norma-norma hidup
bermasyarakat. Manusia pada zaman itu masih biadab. Oleh karena ada bahaya bahwa manusia ini akan
mundur kemanusiaannya dan lalu bergaul kembali dengan binatang, para wisatawan ruang angkasa itu
memus nahkan umat yang gagal atau membawa mereka untuk ditempatkan di benua lain.
Maka sekarang timbullah masyarakat pertama dan ketrampilan-ketrampilan pertama. Permukaan-permukaan
batu karang dan dinding-dinding gua digambari, cara pembuatan tembikar ditemukan, dan percobaanpercobaan
arsitektur pertama di buat. Manusia pertama ini mempunyai respek yang besar terhadap para
wisatawan
ruang angkasa. Oleh karena para wisatawan ini datang dari tempat yang tak dikenal, mereka
dijadikan
dewa. Dengan alasan yang misterius para dewa ini sekarang senang sekali mengajarkan
inteligensinya
kepada penduduk pribumi. Para dewa ini memelihara keturunannya baik-baik. Mereka ingin me
lindunginya
agar terhindar dari korupsi dan kejahatan-kejahatan lainnya. Mereka ingin supaya masyarakat itu
berkembang
secara konstruktif. Yang sinting-sinting dimusnahkan sedangkan sisanya di usahakan supaya
mendapat
persyaratan pokok bagi kemasyarakatan yang akan mampu berkembang.
Tak dapat disangkal, bahwa spekulasi ini masih mempunyai banyak kekurangan-kekurangan. Harus diakui
bahwa pembuktiannya tak terdapat sama sekali. Masa depanlah yang akan memperlihatkan bagaimana
kekurangan-kekurangan itu dapat dipenuhi. Buku ini menyajikan hipotesa yang terdiri dari spekulasi-spekulasi.
Oleh karena itu hipotesa ini pasti tidak “benar”. Namun demikian kalau saya bandingkan hipotesa ini dengan
teori-teori yang memungkinkan banyak agama untuk hidup tanpa diganggu-gugat dalam persembunyiannya di
balik larangan-larangan, saya ingin sekali memberikan suatu persentasi kemungkinan kebenarannya kepada
hipotesa saya ini.
Barangkali ada baiknya kalau diucapkan sepatah dua patah kata tentang kebenaran itu. Setiap orang yang
percaya akan agama dan tak pernah mendapat sanggahan dari pihak manapun, akan yakin pada
kebenarannya. Hal ini tidak hanya berlaku bagi kaum Nasrani, melainkan berlaku pula bagi penganut-penganut
agama lain, baik kecil maupun besar. Para teosophis, teologis, filsuf, semuanya telah mencerminkan ajarannya
masing-masing; mereka semuanya yakin bahwa mereka telah menemukan kebenaran.
Tentu saja tiap agama mempunyai sejarah dan janji-janjinya sendiri dari Tuhan. perjanjian-perjanjian sendiri
dengan Tuhan. Rasul-rasulnya sendiri dan ulama-ulamanya sendiri yang pernah mengatakan Pembuktian
“Kebenaran” selalu dimulai dari tengah agama seseorang dan bekerja ke luar. Hasilnya ialah cara berpikir
dengan prasangka, suatu cara yang harus kita terima sejak masa kanak-kanak. Namun demikian generasi
penerus terus ada dengan keyakinan bahwa mereka mempunyai kebenaran. Dengan segala kerendahan hati,
saya nyatakan bahwa kita tak dapat memiliki “kebenaran “. Paling-paling kita hanya percaya akan adanya
“kebenaran” Siapa saja yang benar-benar mencari kebenaran tak akan dapat dan selayaknya tidak mencarinya
di bawah perlindungan dan dalam batas-batas agamanya sendiri. Apakah tujuan hidup itu sebenarnya? Untuk
mempercayai “kebenaran” atau untuk mencarinya?
Sekalipun misalnya fakta-fakta yang terdapat dalam Perjanjian lama dapat dibuktikan secara arkeologis di
Mesopotamia, tetapi fakta-fakta yang telah diperiksa itu belumlah menjadi bukti dari agama yang bersangkutan.
Jika dengan penggalian-penggalian ditemukan kota-kota kuno, perkampungan-perkampungan kuno, sumursumur
bekas, tulisan-tulisan kuno, di daerah tertentu; maka hal itu menunjukkan bahwa rakyat yang pernah
hidup
di daerah itu adalah suatu fakta nyata. Tetapi penemuan-penemuan itu tidak membuktikan bahwa Tuhan
dari
rakyat itu adalah satu-satunya Tuhan, dan bukan wisatawan ruang angkasa.
Sekarang penggalian-penggalian di seluruh dunia menunjukkan bahwa tradisi-tradisi cocok dengan faktafaktanya.Tetapi
apakah mungkin terjadi bahwa seorang Kristen mengakui Tuhan dari kebudayaan praInca
sebagai
Tuhan asli yang dihasilkan oleh penggalian di Peru? Yang saya maksud adalah sederhana; yaitu
bahwa
segala sesuatu baik ceritera isapan jempol maupun pengalaman, dapat membentuk sejarah sesuatu
bangsa.
Tak kurang, tak lebih. Dengan demikian siapa saja yang mencari kebenaran tak dapat mengabaikan
pandangan-pandangan
baru dan berani, tetapi belum dibuktikan ha nya karena tidak cocok dengan pola
pemikirannya
atau kepercayaannya. Oleh karena seratus tahun yang lalu tak ada persoalan perjalanan ke
ruang
angkasa,para ayah dan kakek kita tak pernah memikirkan dengan sungguh-sungguh apakah nenek
moyang
kita dahulu pernah mendapat kunjungan dari angkasa luar.
Mari kita berspekulasi dengan gagasan, misalkan peradaban kita sekarang ini suatu waktu dihancurkan oleh
suatu peperangan bom hidrogen. Peperangan ini memang mengerikan tetapi kemungkinan terjadinya selalu
ada. Lima ribu tahun kemudian para arkeologis akan menemukan pecahan pecahan dari Patung
Kemerdekaan di New York. Menurut jalan pikiran kita sekarang, para arkeologis itu harus menentukan bahwa
mereka menghadapi persoalan ketuhanan; barangkali dewa api (karena diannya) atau dewa matahari (karena
pancaran sinar di sekeliling kepala patung itu). Mereka tak akan berani mengatakan bahwa patung itu sematamata
hasil karya manusia belaka yakni patung kemerdekaan.
Sekarang sudah tidak mungkin lagi untuk menutup jalan ke masa silam dengan dogma-dogma. Kalau kita
ingin menuju penyelidikan untuk mencari kebenaran, kita harus mempunyai keberanian untuk meninggalkan
garis cara berpikir yang kita ikuti sampai sekarang, dan sebagai langkah pertamanya kita harus berani
meragukan segala apa yang sebelumnya telah kita anggap benar. Apakah kita masih dapat menutup mata dan
telinga karena gagasan-gagasan baru dianggap bertentangan atau menggelikan? Bagaimanapun juga lima
puluh tahun yang lalu, pendaratan manusia dipermukaan bulan adalah menggelikan.
KHAYALAN DAN DONGENG KUNO ATAU REALITAS?
Sebagaimana telah saya lihat sebelumnya, dalam kepurbakalaan terdapat hal-hal yang kalau menurut gagasan
sekarang tak perlu ada. Tetapi kegiatan saya untuk mengumpulkannya sama sekali tidak turut habis bersamasama
dengan habisnya penemuan-penemuan yang telah terkumpulkan. Mengapa? Karena mitologi orangorang
Ekskimo-pun mengatakan bahwa bangsa pengembara pertama dibawa ke Utara oleh para “dewa”
yang
bersayap
kuningan. Hikayat orang-orang Indian menyebut seekor burung guntur memperkenalkan api dan
buah-buahan
kepada mereka. Dongeng orang Mayan-Popol Nuh, menyatakan bahwa para “dewa”
mampu
mengenali
segala macam hal alam semesta, keempat arah pokok dari kompas,dan bahkan bentuk bulat dari
bumi.
Mengapa orang-orang Ekskimo berbicara tentang burung logam? Mengapa orang-orang Indian menyebut
burung guntur? Bagaimana kiranya para nenek moyang orang Maya mengetahui bahwa bumi itu bulat ?
Orang maya itu cerdas-cerdas dan mempunyai kebudayaan yang sudah maju.
Mereka bukan hanya meninggalkan kalender yang menakjubkan, melainkan juga teori-teori berhitung yang
luar biasa. Mereka mengetahui hitungan tahun Venus yang berumur 584 hari dan memperkirakan tahun bumi
berumur 365.2420 hari yang menurut perhitungan sebenarnya sekarang: 365 2422 hari. Semua itu mereka
tinggalkan, untuk dapat dipergunakan selama 64.000.000. tahun. Tulisan-tulisan kuno berikutnya menyangkut
satuan-satuan yang mungkin mendekati 400.000.000 tahun. Rumus Venusi yang terkenal itu mungkin telah
dihitung dengan otak elektronik. Bagaimanapun sukar untuk dipercaya bahwa rumus itu berasal dari orang
pedalaman. Rumus Venus dari orang Maya itu jalannya sebagai berikut: Tahun Tzolkin mempunyai 260 hari,
tahun bumi 365 hari, sedangkan tahun Venus 584 hari. Bilangan-bilangan ini menyembunyikan kemungkinan
pembagian bilangan 365 dapat dibagi habiskan oleh 73 dan hasil baginya 5. Sedangkan 584 adalah 8 x 73.
Maka rumus yang luar biasa itu bentuk nya sebagai berikut:
(bulan) 20 x 13 = 260 x 2 x 73 = 37.960
(matahari)  8 x 13 = 104 x 5 x 73 = 37.960
(venus) 5 x 13 = 65 x 8 x 73 = 37.960
Dengan perkataan lain semua siklus bertepatan kembali satu sama lain setelah 37.960 hari. Mitologi orangorang
Maya menyatakan bahwa pada saat itu para “dewa”
akan sampai di tempat istirahat besar.
Dongeng-dongeng keagamaan dari orang pra Inca mengatakan bahwa bintang-bintangpun mempunyai
penghuni dan bahwa para “dewa” turun datang kepada mereka dari konstelasi Pleiades. Tulisan kuno di
Sumeria, Assyria, Babilonia, dan Mesir terus-menerus menyajikan gambaran yang sama; yakni bahwa para
dewa datang dari dan pulang ke bintang-bintang, mereka bepergian menjelajahi langit dengan kendaraan api
atau kapal yang menyerupai senjata mengerikan; menjanjikan kekekalan kepada pria.
Adalah wajar dan alamiah bagi orang-orang purbakala kalau mereka mencari Tuhan mereka di langit dan
dalam melukiskan kebesaran Tuhan itu mereka mengkhayal secara bebas. Namun kalau semuanya itu kita
terima dengan baik, masih saja ada hal-hal yang aneh; misalnya saja bagaimana penutur ceritera Mahabarata
tahu bahwa ada senjata yang dapat digunakan untuk menimbulkan kekeringan di suatu negara musuh selama
dua belas tahun? Dan cukup ampuh untuk membunuh bayi yang belum lahir ? Dalam sanjak kepahlawanan
India purbakala, Mahabarata ini lebih luas isinya daripada Injil. Inti aslinya, Mahabarata itu secara konservatif
saja ditaksir sudah berumur 5.000 tahun. Mahabarata ini bermanfaat juga kalau di baca dalam rangka ilmu
pengetahuan masa kini.
Kita tidak akan terlalu terkejut kalau kita membaca dalam Ramayana bahwa ada vimana, yakni pesawat
terbang yang diterbangkan tinggi sekali dengan bantuan air raksa dan angin buritan yang kencang. Vimana itu
dapat terbang jauh sekali dan dapat terbang maju ke atas dan ke bawah. Pendeknya suatu kendaraan ruang
angkasa yang dapat digunakan dalam gerakan-gerakan atau manuver militer. Berikut ini sekelumit dari
terjemahan Ramayana oleh N. Dult dalam tahun 1891: “ Di bawah komando Rama, kereta perang yang hebat
itu membumbung ke atas menuju gunung awan dengan guruh yang dahsyat, “ Tak dapat tidak, kita harus
mencatat bahwa di sini bukan hanya ada di sebut benda terbang, melainkan juga disebut guruh yang dahsyat.
Berikut ini adalah sekelumit lagi dari Mahabarata. “Bima terbang dengan vimana ini, yang memancarkan
cahaya banyak sekali, menyilaukan seperti cahaya matahari dan membuat deru yang mengerikan seperti
guntur dalam badai”.
Khayalan pun tentu harus mempunyai landasan titik tolak. Bagaimana penutur ceritera Mahabarata membuat
lukisan tentang pesawat itu terbang di atas pancaran cahaya dan menyebabkan deru yang mengerikan kalau
sebelumnya tidak pernah mempunyai bayangan tentang roket ? Dalam Samsaptakabadha diadakan
pembedaan antara kereta perang yang dapat terbang dan tidak. Jilid pertama dari Mahabarata
mengungkapkan dengan mendalam sekali tentang riwayat gadis Kunti yang bukan hanya mendapat
kunjungan dewa matahari, tetapi juga mendapat seorang putra dari padanya yang diduga sama cemerlangnya
dan menyilaukan seperti matahari itu sendiri. Karena Kunti takut mendapat malu, bayi itu dimasukkannya ke
dalam keranjang kecil dan meletakkannya dalam sungai. Adhirata seorang kenamaan, mengangkat keranjang
berisi bavi itu dari sungai. kemudian memelihara dan membesarkan bayi itu.
Ceritera itu sebenarnya tak ada gunanya di ceriterakan lagi andaikata tidak ada kesamaannya dengan ceritera
tentang Musa. Yaitu karena ceritera ini merupakan satu hal lagi di mana manusia dihamili oleh dewa. Sama
halnya dengan Gilgamesh, Arjuna, pahlawan Mahabarata juga mengadakan perjalanan jauh untuk menemui
para dewa untuk minta senjata. Setelah melampaui berbagai bahaya akhirnya Arjuna berhasil menemui para
dewa. Dewa Indera, raja di Khayangan berkenan menerima Arjuna dengan kebesaran luar biasa. Raja
didampingi permaisuri Sachi. Arjuna yang gagah berani ini tidak diterima di tempat lain oleh Indera dan Sachi
ini melainkan dalam kereta perang sorga. Bahkan Arjuna diajak mengendarai nya bersama mereka di
angkasa.
Beberapa data berupa angka dalam Mahabarata itu demikian telitinya sehingga orang menduga bahwa
penulisnya menulis kisah itu dengan bahan-bahan dari tangan pertama. Uraiannya tentang senjata yang dapat
membunuh setiap lawan yang memakai perisai terkuat dari logam, membuat bulu roma kita merinding. Lawan
yang telah mengetahui efek dari senjata ini tepat pada waktunya, segera menanggalkan segala peralatan yang
terbuat dari logam dari badannya lalu menceburkan diri ke dalam sungai dengan mencuci badannya serta
membersihkan segala apa yang pernah menempel di badannya dengan cermat. Dan pantaslah jika penulis
Mahabarata menerangkan bahwa senjata itu dapat menyebabkan rambut rontok dan kuku tanggal. Setiap
mahluk hidup menjadi pucat dan lemah. Dalam jilid ke delapan kita temui Indera dalam kereta perang sorganya
lagi. Dari segenap umat manusia hanya Yudhistira yang dipilihnya sebagai satu-satunya yang boleh memasuki
khayangan dalam tubuhnya yang fana itu. Di sini pun kesesuaian dengan ceritera tentang Nuh dan Elia tidak
dapat kita lewati begitu saja.
Dalam buku itu juga dilaporkan bahwa Gurkha telah melepaskan sebuah proyektil dari dalam vimana
diarahkan ke kota besar. Ini mungkin merupakan laporan pertama dari pelemparan bom hidrogen. Uraian itu
mengingatkan kita kepada laporan pandangan mata tentang ledakan bom hidrogen di pulau Bikini; asap putih
yang sangat panas mengepul membumbung ke atas bercahaya, dengan kekuatan seribu kali lebih
menyilaukan dari sinar matahari, dan membuat kota menjadi debu. Ketika Gurkha mendapat lagi,
kendaraannya menyerupai balok antimony yang berkilauan.
Demi kepentingan para filsuf perlu saya sebut di sini bahwa menurut Mahabarata, waktu adalah benih dari
alam semesta.
Buku-buku Tantyua dan Kantyua dari Tibet juga menyebut-nyebut adanya pesawat terbang pra sejarah, yang
mereka sebut “mutiara di angkasa”. Kedua buku itu menekankan dengan tegas bahwa pengetahuan tentang
ini adalah rahasia, tidak boleh disiarkan dengan sembarangan. Dalam Sumarangana dan Sutradhara,
beberapa bab penuh semata-mata disediakan untuk menguraikan kapal udara yang dari ekornya
menyemburkan api dan air raksa.
Kata “api” dalam naskah-naskah kuno tidak berarti api yang menyala, karena di dalamnya terdapat empat
puluh macam api yang berbeda-beda, yang terutama ada hubungannya dengan phenomena esoteric dan
magnetis. Memang sukar untuk mempercayai laporan bahwa manusia purbakala mungkin telah mengetahui
tentang kemungkinan bisa didapatnya energi dari logam-logam berat dan bagaimana cara mendapatkannya.
Tetapi kita tidak boleh memperkecil arti naskah sanskrit kuno menjadi ceritera isapan jempol belaka. Sebagian
besar dari ceritera dalam naskah sanskrit itu, mengubah kecurigaan kita terhadap laporan bahwa manusia
menjumpai “dewa” terbang suatu hal yang pasti telah terjadi.
Kita tidak akan melanjutkan cara pendekatan yang disesalkan masih melekat kepada para cendikiawan yang
masih mengatakan: “Itu tidak ada, itu kesalahan terjemahan, itu fantasi yang dibesar-besarkan oleh pengarang
atau pengutip “. Kita harus menggunakan hipotesa kerja yang dikembangkan dari ilmu teknologi zaman
sekarang,
untuk menerangi kegelapan yang menyembunyikan masa lampau kita. Seperti halnya dengan phenomena
tentang kapal ruang angkasa yang dapat dijelaskan, demikian pula halnya dengan senjata-senjata yang
mengerikan yang sering dilukiskan sebagai pernah digunakan sekurang-kurangnya satu kali oleh para dewa,
terdapat penjelasan yang masuk akal.
Berdasarkan suatu bagian dari Mahabarata kita terpaksa membuat hipotesa sebagai berikut: “Ketika itu hawa
bagaikan dilepas dari kekangan matahari berputar. Dibakar oleh panas yang memijar dari senjata itu, dunia
terhuyung-huyung dan menggigil ketakutan. Gajah-gajah terbakar oleh panas dan berlarian ke sana ke mari,
kacau balau mencari perlindungan dari bencana yang mengerikan. Air mendidih, binatang-binatang pada mati,
musuh disapu bersih dan arnukan api menyebabkan pohon-pohon terbakar lalu tumbang dalam deretan
deretan bagaikan dalam kebakaran hutan, gajah-gajah menjerit-jerit ketakutan kemudian roboh mati
berserakan di atas daerah luas. Kuda-kuda dan kereta-kereta perang terbakar. Pemandangan waktu itu
bagaikan aksi dari suatu kebakaran. Beribu-ribu kereta perang habis terbakar. Kemudian kesunyian merembet
ke laut. Angin mulai bertiup dan bumipun segar dan cemerlang kembali, waktu itu merupakan pemandangan
yang mengerikan. Bangkai orang-orang yang terbakar sudah tidak lagi berupa sosok-sosok tubuh manusia.
Sebelumnya, tak pernah kita melihat atau mendengar tentang senjata yang begitu mengerikan”. Ceritera itu
selanjutnya menyebut bahwa orang-orang yang selamat; membersihkan badannya, perkakasnya, senjatanya
dengan air, karena terhembus oleh tiupan nafas yang mematikan dari para “dewa”.
Nah, apa yang dikatakan dalam sanjak kepah lawanan Gilgamesh ? Apakah nafas beracun dari binatang buas
sorga itu menghantamnya? Alberto Tulli dulu pengurus Museum Nafikan bagian sejarah Mesir. Pernah
menemukan program dari naskah yang berasal dari zaman Thutmose III, yang pernah hidup kira-kira di tahun
1500 sebelum masehi. Dalam naskah itu disebut bahwa para penulisnya pernah melihat sebuah bola api turun
dari sorga, bola itu baunya tak sedap, bagaikan bau setan. Thutmose dan prajurit-prajuritnya memperhatikan
bola api itu sampai menghilang ke jurusan Selatan.
Semua naskah-naskah berasal dari jutaan tahun sebelum zaman kita ini. Para penulisnya bertempat tinggal di
berbagai benua dan berasal dari peradaban serta penganut agama yang berlainan satu sama lain. Pada waktu
itu tidak ada utusan utusan khusus untuk menyebarkan berita, sedangkan hubungan.antara benua bukanlah
kejadian sehari-hari. Sekalipun demikian, ceritera rakyat dari mulut ke mulut menceriterakan ceritera-ceritera
yang hampir bersamaan satu sama lain yang berasal dari keempat penjuru dunia dan dari berbagai sumber.
Apakah mereka mempunyai bahan pemikiran yang sama? Apakah mereka dihantui oleh kejadian yang sama?
Apakah tidak mungkin dan tidak masuk akal kalau para penutur dari: Mahabarata, Injil, sanjak kepahlawanan
Gilgamesh, naskah Ekskimo, India, Amerika, Skandinavia, Tibet dan lain lain; menceriterakan ceritera yang
sama? Yakni ceritera tentang “dewa-dewa” terbang? Tentang kereta perang dari sorga dan tentang
malapetaka yang diakibatkannya? Apakah kesamaan itu hanya secara kebetulan saja dan tanpa dasar sama
sekali?
Mereka tak mungkin mempunyai gagasan yang sama di seluruh dunia. Naskahnaskah yang hampir seragam
itu hanya dapat bersumber dari sumber yang sama yakni kejadian-kejadian pra sejarah. Naskah-naskah itu
ada hubungannya dengan apa yang dapat dilihat di masa itu. Sekalipun andaikata para penuturnya
membesar-besarkan dan menambah-nambah serta memperhalusnya dengan fantasinya sendiri, seperti halnya
dengan apa yang sering terjadi sekarang; namun inti kebenarannya tetap ada, sama seperti halnya dengan inti
kebenaran dari berita-berita dalam koran zaman sekarang. Kejadian-kejadian itu tak mungkin dikarang begitu
saja secara bersamaan dalam abad yang berbeda-beda.
Mari kita buat satu permisalan: Sebuah helikopter untuk pertama kalinya mendarat di sebuah padang semak di
Afrika. Sebelumnya tidak seorang pun di antara para penduduk di sana yang pernah melihat pesawat
semacam itu. Helikopter itu mendarat di atas tanah terbuka dengan suara yang menakutkan. pilotnya yang
bertopi baja, berpakaian siap tempur, bersenjata api, melompat ke luar pesawat. Penduduk yang setengah
biadab yang bercawat itu terpesona dan sama sekali tidak dapat memahami kehadiran benda yang aneh ini,
yang datang dari sorga bersama “dewa”nya. Tak lama kemudian helikopter itu lepas landas lagi dan
menghilang ke dalam awan. Setelah itu, si penduduk yang setengah beradab itu mulai memikirkan dan
menafsirkan kejadian yang sekonyong-konyong itu. Ia akan menceriterakan kepada yang lain-lain, tentang apa
yang pernah dilihatnya itu; mungkin sebagai burung raksasa, mungkin sebagai kendaraan dari sorga yang
bersuara menderu dan menakutkan serta berbau busuk, yang ditumpangi makhluk makhluk berkulit putih
dengan senjata yang dapat meludahkan api.
Kunjungan ajaib itu dijadikan suatu ceritera yang melembaga dan diwariskan turun-temurun sepanjang zaman.
Dalam ceriteranya dari seorang ayah kepada anaknya, burung raksasa dari sorga itu jelas tidak akan menjadi
lebih kecil, bahkan sebaliknya menjadi lebih besar, karena ceritera itu ditambah-tambah, dibesar-besarkan;
demikian juga tentang makhluk yang ke luar dari dalamnya ceritera ke ceritera menjadi tambah perkasa,
tambah ajaib, tambah mengagumkan. Hiasan dan bumbu-bumbu ini akan terus bertambah dari ceritera ke
ceritera. Tetapi dasar pikirannya ialah pendaratan helikopter yang benar-benar telah terjadi itu. Helikopter itu
benar-benar telah mendarat di tanah terbuka dalam hutan, demikian juga pilotnya benar-benar telah ke luar
dari dalamnya. Sejak saat itu kejadian itu diabadikan menjadi mitologi dari suku bangsa yang telah melihatnya
itu.
Ada hal-hal yang tak dapat kita buat-buat. Saya tidak akan membuat pra sejarah kita menjadi ceritera-ceritera
tentang wisatawan-wisatawan angkasa dan pesawat terbang dari sorga, kalau kejadian-kejadian itu hanya
terdapat dalam beberapa kalangan buku purbakala saja. Tetapi kalau kenyataaannya hampir semua naskah
purbakala dari orang-orang primitif di seluruh dunia menceriterakan ceritera yang sama, saya kira, saya harus
mencoba menjelaskan mulai dari sejarah yang obyektif yang tersembunyi di dalamnya. “Putera manusia,
engkau penghuni di tengah-tengah rumah pemberontak, yang mempunyai mata untuk melihat, tetapi tidak
melihat, mempunyai telinga untuk mendengar tetapi tidak mendengar.... (Ezekiel 12: 2).
Kita ketahui bahwa para dewa orang-orang Sumeria mempunyai partner di beberapa bintang. Diduga bahwa
pernah ada patung Marduk Mars, dewa tertinggi dari segala dewa yang beratnya 800 talen emas murni. Kalau
kita percaya akan Herodotus, patungnya seharga 48.000 pon emas lebih. Ninurta sirius, adalah hakim alam
semesta yang menjatuhkan hukuman kepada semua manusia yang fana.
Ada beberapa tulisan khusus mengenai Mars, sirius dan pleiades. Masa dan sekali lagi hymne-hymne Sumeria
menyebut-nyebut adanya senjata hebat, yang bentuk dan akibatnya sama sekali tak ada artinya bagi rakyat di
masa itu. Suatu lukisan pujian terhadap dewa Mars mengatakan bahwa dewa itu telah menciptakan hujan api
dan menyapu semua lawan-lawannya dengan kilatan-kilatan cahaya petir. Dewi Inanna dilukiskan, ketika ia
sedang menjelajahi ruang angkasa telah menyapu bersih kubu-kubu lautannya dengan jalan memancarkan
cahaya yang menyilaukan dan menakutkan.
Telah ditemukan pula gambar-gambar dan model-model rumah yang menyerupai bunker atom yang bagianbagiannya
hanya tinggal pasang saja; berbentuk bundar dan kuat dengan lubang yang berangka aneh. Pula
dari
zaman yang sama yakni 3000 tahun sebelum masehi, Para arkeologis telah menemukan suatu model dari
rombongan
kereta perang beserta pengendara-pengendaranya, dan juga beberapa olahragawan pegulat.
Semuanya dikerjakan dengan keahlian yang murni. orang-orang Sumeria itu memang telah terbukti sangat
mahir dalam seni praktis. Mengapa mereka membuat model dari bunker yang aneh itu, padahal penggalianpenggalian
di Babilon atau Uruk menunjukkan hasil karya yang lebih halus?
Baru-baru ini telah ditemukan suatu perpustakaan Sumeria yang lengkap, terdiri dari kira-kira 60.000 lembaran
sejarah dari tanah liat. Perpustakaan itu ditemukan di kota Nippur, 95 mil sebelah selatan dari Baghdad. Kita
sekarang telah memiliki risalah tertua dari banjir besar itu. Risalah ini diukirkan pada lembaran sejarah terbuat
dari tanah liat dan terdiri dari enam kolom. Pada lembaran sejarah itu disebut lima buah kota yang sangat tua:
yakni, Eridu, Badtibira, Larek, Sitpar dan Shuruppak. Dua di antara kota-kota ini belum ditemukan. Pada
lembaran sejarah ini yang tertua yang telah diterjemahkan “Nuh,” dari orang-orang Sumeria disebut Ziusudra.
Ia diduga telah bertempat tinggal di Shuruppak dan diduga pula bahwa ia telah membuat kapal bahteranya di
sana.
Dengan demikian kita sekarang telah memiliki uraian yang lebih tua tentang banjir besar itu, bahkan lebih tua
dari sanjak Kepahlawanan Gilgamesh. Tiada seorangpun yang mengatakan apakah penemuan baru nanti
akan menghasilkan risalah risalah yang lebih tua dari itu. Manusia-manusia dari peradaban kuno itu bagaikan
terus-menerus dihantui oleh pikiran tentang sifat-sifat kebakaan atau kelahiran manusia kembali. Pelayan dan
budak secara sukarela berbaring di samping majikannya dalam pusarannya.
Dalam ruang pusara di Shub-At terdapat ti dak kurang dari tujuh puluh tulang kerangka ma nusia terbaring
berderet secara teratur sekali, tan pa tandatanda pernah adanya kekerasan sedikit pun. Para pelayan
berpakaian jubah berwarna indah, duduk atau berbaring dengan sabar menanti kedatangan maut, yang pasti
akan datang dengan cepat dan tanpa rasa sakit,mungkin dengan racun. Dengan penuh keyakinan mereka
menginginkan ke hidupan baru di luar kubur bersamasama majikan nya. Tetapi siapakah yang menanamkan
gagasan tentang kelahiran kembali ini ke dalam benak orang penyembah berhala ini ?
Kuil di Mesir juga membingungkan. Naskah naskah purbakala dari rakyat di lembah sungai Nil, berceritera
tentang makhluk makhluk hebat yang menjelajahi cakrawala dengan kapal. Suatu naskah sejarah kuno
tentang dewa matahari berbunyi: “Engkau kawin di bawah bintangbintang dan bu lan, engkau menghela kapal
dari Aten di sorga dan di bumi bagaikan bintangbintang yang berputar tak jemujemunya, dan bagaikan bintang
di Kutub Utara yang tak pernah terbenam”. Suatu prasas ti pada suatu piramida berbunyi: “Engkau adalah
yang mengarahkan kapal matahari selama jutaan tahun”.
Sekalipun misalnya orang-orang Mesir kuno itu adalah akhli-akhli matematika yang telah maju, masih tetap
janggal kedengarannya kalau mereka berbicara tentang jutaan tahun yang dihubungkan dengan bintangbintang
dan kapal dari sorga. Apa kah yang dikatakan oleh Mahabarata ? “Waktu
adalah benih dari Alam
Semesta”.
Di Memphiss dewa Ptah mengajukan kepada raja dua mode cara merayakan ulang tahun tahta kerajaan dan
memerintahkan kepada raja supaya merayakan ulang tahun itu enam kali dalam seratus ribu tahun. Ketika
dewa Ptah datang untuk menyerahkan model itu, ia datang mengendarai kereta perang dari sorga yang
gemerlapan dan kemudian menghilang ke dalam cakrawala bersama kendaraannya.
Gambar-gambar tentang matahari bersayap dan burung elang untuk berburu, yang membawa simbol-simbol
keabadian dan kehidupan abadi, sekarang masih terdapat pada pintupintu dan kuil kuil di Idfu. Di dunia ini di
manapun tak terdapat tempat yang banyak sekali memiliki garnbaran-gambaran dewa bersayap ini selain di
Mesir. Setiap wisatawan mengetahui Pulau Elephantine dengan Nilometernya yang terkenal itu di Aswan.
Pulau itu disebut pulau Elephantine, karena kelihatannya seperti gajah. Dalam naskah-naskah tertuapun pulau
itu sudah disebut demikian. Naskah itu tepat, karena pulau itu memang benar menyerupai gajah. Tetapi dari
mana orang Mewsir purbakala itu tahu. Bentuk gajah itu hanya akan dapat jelas dilihat dari kapal udara yang
terbang tinggi sekali, karena di dekat pulau itu tidak terdapat gunung yang memungkinkan untuk melihat dari
atasnya sehingga orang dapat membandingkan bentuk pulau itu dengan bentuk gajah.
Suatu prasasti pada suatu bangunan di Idfu mengatakan bahwa bangunan itu berasal dari zaman gaib.
Rancangan dasarnya dibuat oleh IsnHotep, makhluk yang didewakan. IsnHotep ini adalah seorang yang
misterius dan sangat pandai, boleh dikatakan Einstein di zaman itu. Ia adalah sekaligus pendeta, penulis, tabib,
arsitek dan filsuf. Menurut para arkeologis, di zaman IsnHotep satu-satunya jenis perkakas yang digunakan
rakyat ialah potongan-potongan dari tembaga yang sama sekali tidak mungkin dapat dipakai untuk memotong
dan mengukir balok granit. Namun demikian IsnHotep telah mendirikan sebuah piramida bertangga bagi
rajanya di Sakkara yang disebut Zoser Bangunan yang tingginya 197 kaki ini telah dibangun dengan arsitektur
yang begitu tinggi sehingga para arsitek Mesir dari zaman berikutnya tak dapat menyamainya. Konstruksi ini
dikelilingi oleh tembok setinggi 33 kaki dan sepanjang 1.750 kaki, dan disebut Rumah Bake. Yang dibuat oleh
InsHotep. Ia sendiri minta dimakamkan dalam bangunan ini, dengan harapan agar dibangunkan oleh para
dewa bila mereka datang kembali.
Kita ketahui bahwa semua piramida dibangun pada letak yang disesuaikan dengan posisi bintang tertentu.
Apakah hal ini tidak memalukan, jika diingat bahwa kita tidak pernah banyak menemukan bukti-bukti tentang
kemajuan astronot di Mesir ? Sirius adalah satu di antara beberapa bintang yang menjadi perhatian mereka.
Tetapi perhatian yang bersahaja inipun agak aneh, karena dilihat dari Memphis, bintang sirius ini hanya dapat
di amati pada dini hari. Pada saat itu sirius tepat berada di atas ufuk di mana sungai Nil mulai pasang. Yang
lebih membingungkan lagi ialah di Mesir terdapat kalender dari 4221 tahun sebelum tarikh kita. Kalender ini
didasarkan kepada terbitnya bintang sirius itu (tanggal satu Taut = tanggal 19 Juli) dan memberikan perputaran
tahun, lebih dari 32.000 tahun.
Diakui bahwa para astronom kuno dari tahun ke tahun mempunyai banyak waktu untuk mengamati matahari,
bulan, bintang-bintang, sampai akhirnya mereka menentukan bahwa bintang-bintang itu kembali ke tempat
semula setelah kurang lebih 365 hari. Tetapi memang agak menggelikan mendasarkan kalender pada bintang
sirius, kalau mendasarkannya pada matahari dan bulan memang lebih mudah, dan dapat memberikan hasil
hasil yang lebih tepat. Mungkin kalender sirius ini adalah suatu sistem tambahan, suatu teori kemungkinan
karena kalender itu tak pernah dapat dipakai untuk meramalkan terbitnya bintang itu sendiri. Jadi kalau bintang
sirius muncul di atas ufuk pada fajar menyingsing dan bertepatan dengan mulainya pasang sungai Nil, itu
semata-mata kebetulan belaka. Sungai Nil tidak pasang setiap tahun dan tidak pernah pada hari yang sama.
Lalu apa dan untuk apa kalender sirius ? Apakah mengenai hal ini terdapat pula risalahnya ? Apakah ada
naskah atau suatu janji yang disembunyikan dengan sangat hati-hati oleh kependitaan?.
Kuburan di mana terdapat kalung dan tulang, kerangka binatang, yang sama sekali tidak dikenal, barangkali
milik raja Udimu. Dari mana asalnya binatang itu? Bagaimana kita dapat menjelaskan fakta bahwa orang-orang
Mesir telah menggunakan bilangan desimal berbaris sepuluh sejak awal dinasti pertama? Bagaimana
munculnya peradaban yang begitu tinggi di zaman sedini itu ? Di manakah di dunia ini muncul zaman tembaga
dan zaman perunggu sedini seperti munculnya zaman itu di awal peradaban Mesir ? Siapakah yang
memberikan pengetahuan pada mereka tentang matematika dan bacaan-bacaan yang telah siap untuk
dipelajari?.
Sebelum membicarakan bangunan monumen yang menimbulkan banyak pertanyaan, mari kita mengarahkan
pandangan dulu sepintas lalu kepada naskah lama.
Dari manakah para pembawa ceritera Seribu Satu Malam mendapatkan gagasan yang mengagetkan itu?
Bagaimana orang dapat mengarang ceritera tentang lampu ajaib itu ? Khayalan apakah yang memberanikan
diri penulis untuk mengarang Ali Baba dan empatpuluh pencuri dengan ceri tera katakata sandinya: “Sesam
bukalah?”.
Sekarang, semua itu memang mengherankan lagi bagi kita, karena dengan memutar saklar pesawat televisi, di
layarnya segera muncul gambar-gambar yang dapat berbicara. Dan karena sekarang sudah banyak toserba
besar-besar yang pintunya dapat terbuka sendiri dengan menggunakan photocel, maka perkataan “Sesam
bukalah !” sudah bukan lagi suatu misteri. Namun demikian daya khayal para penutur ceritera zaman dahulu
kala itu begitu luar biasa, sehingga kalau dibandingkan, buku-buku tentang khayalan ilmiah karangan para
penulis kontemporer hanyalah merupakan buah pikiran yang dangkal belaka. Jika demikian halnya, para
penutur ceritera purbakala itu pasti te lah melihat, mengalami, dan mengetahui banyak hal yang dapat
menduduki khayalan mereka.
Dalam dunia dongengan dan yang menyerupai hikayat dari kebudayaan yang serba abstrak, yang tidak dapat
memberikan pegangan kita seolah-olah berdiri di atas landasan yang goyah, sehingga segala sesuatu itu
tambah membingungkan. Sebenarnya ceritera-ceritera rakyat di Polandia dan Norwegia kuno pun ada
menyebut-nyebut “dewa” yang bergerak di udara.
Dewi Frigg mempunyai pembantu perempuan bernama Gna. Dewi itu mengutus pembantunya ke segala
penjuru dunia, dengan mengendarai kuda yang dapat terbang di atas daratan dan lautan. Kuda itu dinamai”
Pelempar Kuku-kuda”. Pada suatu hari, demikian tutur hikayat itu, Gna bertemu dengan makhluk-makhluk
aneh di udara. Dalam Alwislied bumi, matahari, bulan dan alam semesta, diberi nama yang berbeda-beda;
tergantung kepada yang melihatnya, apakah manusia, “para-dewa” raksasa, atau manusia kerdil. Bagaimana
orang bumi ini di masa silam yang samar-samar itu sampai kepada persepsi yang berbeda-beda tentang
sesuatu yang sama ketika cakrawala sangat terbatas ?.
Sekalipun sarjana Snarri Sturlison sampai tahun 1200 setelah Masehi tidak menuliskan dongeng hikayat dan
nyanyian Nordic, dan Jerman kuno, namun semua itu diketahui telah berumur ribuan tahun.Dalam tulisantulisan
ini, simbol dunia sering digambarkan sebagai piringan atau bola, cukup menarik bukan? Sedangkan
Thor
sebagai pimpinan para dewa, selalu digambarkan membawa palu perusak. Herbert Kuhn menyokong
pendapat
bahwa kata “palu”
yang berarti “batu”
berasal dari zaman batu, dan baru diteruskan ke zaman
perunggu
dan besi. Oleh karena itu Thor dengan simbol palunya pasti sudah sangat tua dan mungkin ber asal
dari
zaman batu. Selain dari itu kata “Thor”
dalam dongeng-dongeng India dalam sangkrit, disebut “Tanayitnu”,
yang
kurang lebih berarti “Guntur”
Thor kaum Nordic, yakni dewanya para dewa; adalah raja dari Wannen dalam bahasa Jerman, yang membuat
langit tidak aman.
Dalam memperdebatkan aspek-aspek baru yang saya kemukakan untuk menyelidiki masa silam, keberatannya
ialah bahwa tidaklah mungkin mengumpulkan segala sesuatu dari tradisi-tradisi purbakala yang dapat memberi
petunjuk tentang peristiwa-peristiwa khayangan dan menjadikannya sebagai bukti dari adanya wisata ruang
angkasa di zaman purbakala. Tetapi yang saya lakukan bukanlah itu. Saya hanya menunjukkan bagian-bagian
dari naskah-naskah Purbakala yang tidak mendapat tempat dalam hipotesa kerja yang dipergunakan sampai
sekarang. Saya hanya sekedar membuat lubang pada tempat-tempat yang diakui sulit, di mana para penulis,
para penterjemah, para penyadur, tidak mempunyai bayangan tentang pengetahuan-pengetahuan dan
produk-produknya. Saya juga bersedia untuk menganggap terjemahan-terjemahan itu salah dan saduransadurannya
kurang cermat, kalau tradisitradisi yang palsu dan telah ditambah-tambah itu secara keseluruhan ti
dak
diterima setelah tradisi itu dapat dimasukkan ke dalam rangka sesuatu agama atau hal lainnya.
Tidaklah baik bagi seorang penyelidik ilmiah untuk mengingkari sesuatu yang bertentangan de ngan hipotesa
kerjanya, dan hanya menerimanya kalau sesuatu itu mendukung teorinya. Bayangkanlah bentuk dari teori saya
itu dari kekuatan yang dicapainya, jika terjemahan-terjemahan baru yang dibuat dengan “pandangan ke ruang
angkasa” itu benar-benar ada! Untuk memperkokoh rangkaian thesis ini, dapat saya kemukakan di sini bahwa
dekat Laut Mati telah ditemukan fragmen-fragmen dari naskah-naskah pewahyuan dan peribadatan.
Dalam kitab-kitab apokripa tentang Abraham dan Musa, sekali lagi kita mendengar tentang kereta perang
sorga dengan roda-rodanya yang memantulkan api, sedangkan dalam buku tentang Henokh di Etiopia dan di
Slavia, hal itu tidak terdapat. Dalam buku tersebut diungkapkan: “Di belakang makhluk itu saya melihat sebuah
kereta perang yang mempunyai roda-roda dari api dan setiap roda di sekelilingnya penuh dengan mata, dan
pada roda-roda itu ada sebuah mahkota yang tertutup dengan api yang ke luar dari sekelilingnya”
Menurut penjelasan dari Gershom Scholem, simbolisme mahkota dan kereta perang dari mistik-mistik Yahudi
pada garis besarnya sesuai dengan simbolisme mistik-mistik Helenistis dan mistik Kristen terdahulu, manakala
mistik-mistik ini berbicara tentang lautan cahaya yang disebut “pleroma”
Penjelasan itu patut dihargai, tetapi apakah dapat diterima sebagai telah dibuktikan secara ilmiah ? Bolehkah
kita bertanya, bagaimana halnya kalau ada beberapa orang yang benar-benar telah melihat kereta perang yang
menyala-nyala, yang berulang-ulang dilukiskan itu? Suatu prasasti rahasia amat sering dipergunakan dalam
surat surat Qumran.
Di. antara dokumen-dokumen dalam gua ke empat, bermacam-macam tanda dan huruf terdapat silih berganti
dalam suatu karya astrologi yang sama. Suatu pengamatan astronomi diberi judul “Kata-kata dari seseorang
yang bijaksana yang di tujukannya kepada segenap putra dari fajar”.
Apakah tidak mungkin bahwa kereta perang yang dilukiskan dalam naskah-naskah purbakala itu benar-benar
pernah ada? Sudah tentu boleh sekali untuk menentukan bahwa kereta perang tak mungkin pernah ada di
zaman purbakala. Tetapi jawaban demikian sama sekali tidak ada harganya kalau datangnya dari orang yang
saya coba untuk mencari pilihan lain dengan pertanyaan-pertanyaan saya ltu.
Akhir-akhir ini para sarjana terkemuka mengatakan, bahwa tak mungkin ada batu meteor jatuh dari langit,
karena di sana tidak ada batu. Bahkan para akhli matematika abad ke sembilan belas pun pernah
berkesimpulan bahwa kereta rel tak mungkin dapat berjalan dengan kecepatan lebih dari 21 mil per jam
karena dengan kecepatan demikian, udara dalam kereta akan habis tertekan ke luar, sehingga para
penumpangnya akan mati lemas. Kurang dari seratus tahun yang lalu, telah “dibuktikan” bahwa benda yang
lebih berat dari udara tak mungkin dapat terbang.
Suatu ulasan dalam suatu surat kabar terkemuka menggolongkan buku “Kita Tidak Sendirian” karangan
Walter Sullivan, ke dalam buku-buku khayalan ilmiah dan selanjutnya mengatakan bahwa kapanpun tidak
mungkin orang dapat mencapai bintang epsilon eridani atau Tauceti; bahkan efek dari pergeseran waktu atau
rintangan pembekuan pada astronaut karena dingin, pun tak akan dapat diatasi dalam jarak yang tak masuk
akal jauhnya itu.
Ada baiknya juga bahwa di masa silam selalu terdapat pengkhayal-pengkhayal yang berani, yang melupakan
kritik-kritik kontemporer. Tanpa adanya mereka barangkali sekarang tak akan pernah ada jaringan rel dengan
kereta berkecepatan 124 mil lebih per jam.
Tanpa adanya mereka, sekarang tak akan pernah ada pesawat udara jet, sebab pesawat itu tak akan dapat
terbang (karena lebih berat dari udara). Dan tak akan pernah ada roket ke bulan (manusia tak dapat
meninggalkan bumi). Masih banyak lagi hal-hal yang tak mungkin, kecuali bagi para pengkhayal.
Sejumlah sarjana ada yang senang berpegang teguh pada apa yang disebut kenyataan. Dengan cara
demikian mereka lupa bahwa apa yang sekarang menjadi kenyataan mungkin kemarin masih merupakan
impian dari seorang pengkhayal. Banyak sekali penemuan yang membuka zaman baru; yang zaman sekarang
kita anggap kenyataan, sebenarnya hanya karena kebetulan saja, bukan karena hasil penyelidikan yang
mantap dan sistematis. Sebagian di antaranya adalah berkat adanya para “Pengkhayal yang serius” yang telah
berhasil mengatasi segala prasangka penghambat terhadap spekulasi-spekulasi mereka yang berani itu.
Sebagai contoh, karena Heinrich Schliemann mengang gap “Odyssey” karangan Homer tidak hanya sebagai
cerita dan dongeng belaka, melainkan lebih dari itu, ia berhasil menemukan Tray suatu kota di Asia Kecil
kurang lebih pada tahun 1200 sebelum masehi.
Pengetahuan kita tentang masa lampau masih terlalu sedikit untuk digunakan dalam menilai masa silam itu
sendiri. Penemuan-penemuan baru dapat memecahkan misteri-misteri yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bacaan tentang keterangan-keterangan mengenai purbakala, dapat menjungkir-balikkan dunia realitas.
Secara sambil lalu, nyata bagi saya bahwa sebenarnya dari buku-buku kuno lebih banyak yang musnah dari
pada terpelihara. Menurut dugaan bahwa di Amerika Selatan pernah ada sebuah buku yang berisi segala
kearifan purba kala; diduga bahwa buku itu dimusnahkan oleh Penguasa suku Inca Keenampuluh tiga
Panchacuti IV.
Di Alexandria pernah terdapat perpustakaan milik Ptolemy Soter terdiri dari 500.000 buku, berisi adat istiadat
umat manusia; perpustakaan ini sebagian dimusnahkan oleh orang-orang Romawi dan sisanya dibakar habis
atas perintah Khalifah Umar bin Khottob, beberapa ratus tahun kemudian.
Bagaimana jadinya perpustakaan kuil di Darussalam? Bagaimana jadinya perpustakaan Pergaman yang
diduga berisi 200.000 judul itu ? Kekayaan ilmu pengetahuan dan rahasia-rahasia apakah yang turut hilang
bersama buku-buku tentang astronomi, filosofi dan sejarah yang dimusnahkan dalam tahun 214 sebelum
masehi, atas perintah Kaisar Chi Huang dari Cina ? Berapa banyak naskah yang dimusnahkan sebagai akibat
dari perpindahan agama dari Paulus di Ephesus ? Bahkan kita tidak dapat membayangkan berapa banyak
kekayaan kepustakaan, tentang berbagai cabang ilmu pengetahuan yang telah musnah se bagai akibat dari
fanatisme agama. Berapa ribu tulisan-tulisan yang tak dapat diperoleh kembali, yang telah dibakar musnah
oleh para rahib dan para utusan keagamaan di Amerika Selatan, dalam semangat kegamaan mereka yang
membuta?
Semua itu telah terjadi ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Apakah umat manusia telah mendapat
pelajaran dari kejadian-kejadian itu?
Hanya setengah abad yang lalu, Hitler membakar musnah banyak sekali buku; dan baru-baru ini, tahun 1966
hal semacam itu terjadi lagi di Cina ketika Mao Che Tung melancarkan revolusi kebudayaan atau revolusi
taman kanak-kanak. Untunglah, sekarang bukubuku dicetak tidak hanya satu buah seperti dahulu kala.
Naskah-naskah dan fragmen yang masih ada, dapat mengalihkan pengetahuan dari masa silam. Hampir
sepanjang masa para arif bijaksanawan dari sesuatu bangsa mengetahui, bahwa masa depan itu selalu
membawa perang dan revolusi pertumpahan darah serta kobaran api. Apakah hal ini menyebabkan para arif
bijaksanawan menyelamatkan rahasia dan tradisi dari pemusnahan oleh massa orang banyak dengan
menyimpannya dalam bangunan-bangunan yang aman? Apakah mereka telah “menyembunyikan” informasi
atau istilah dalam piramida-piramida, kuil-kuil, dan patung-patung atau mewariskannya dalam bentuk huruf
atau tulisan, sehingga dapat bertahan terhadap keganasan waktu ? Sudah tentu harus kita uji gagasan ini
demi masa depan kita, karena gagasan-gagasan yang sezaman dengan kita, telah berbuat demikian juga.
Dalam tahun 1965 orang-orang Amerika di New York mengubur dua kapsul waktu dalam tanah sedemikian
rupa, sehingga dapat tahan terhadap kemungkinan-kemungkinan bencana alam selama 5000 tahun. Kapsul
waktu ini berisi berita yang ingin kita sampaikan kepada anak cucu keturunan kita, sehingga pada suatu hari
kelak, mereka yang ingin memerangi kegelapan yang meliputi masa silam dari nenek moyang mereka, akan
dapat mengetahui cara bagaimana kita hidup sekarang.
Kapsul-kapsul ini dibuat dari logam yang lebih keras dari pada baja; ini akan tahan terhadap ledakan atom.
Selain dari berita sehari-hari, kapsul-kapsul ini, pula berisi potret tentang kota-kota, kapal-kapal, mobil-mobil,
pesawat udara, dan roket; terdapat pula di dalamnya, contoh-contoh logam dan plastik, tekstil, benang dan
pakaian; juga mewariskan benda-benda dari kehidupan sehari-hari seperti; uang logam, perkakas kecil, alatalat
kecantikan; buku-buku tentang; matematika, obat-obatan, pengetahuan alam dalam bentuk microfilm.
Untuk
melengkapinya demi kepentingan ras yang akan datang yang belum kita ketahui siapa, kapsul-kapsul ini
diisi
pula dengan “kunci”,
yakni suatu buku petunjuk tentang cara bagaimana menterjemahkan segala tulisan
yang
terdapat di dalamnya ke dalam bahasa yang akan datang. Cara penerusan informasi kepada keturunan
kita
dalam bentuk kapsul ini adalah gagasan dari sekelompok insinyur dari perusahaan Westinghouse Electric.
Sedangkan
sistem penterjemahannya ke dalam bahasa generasi-generasi mendatang yang tidak diketahui,
adalah
ciptaan John Harrington.
Sinting ? Pengkhayal ? Saya sendiri berpendapat bahwa pelaksanaan proyek ini adalah menguntungkan dan
meyakinkan. Sungguh menyenangkan, mengetahui bahwa sekarang terdapat orang orang yang berpikir jauh
5.000 tahun ke muka !
Para arkeologis masa mendatang yang dekat sekalipun tidak akan mendapatkan segala sesuatu yang
bertalian dengan masa silam mereka semudah kita sekarang, karena setelah kabakaran akibat dari ledakanledakan
atom; tak ada suatu perpustakaan pun di dunia ini yang akan berguna lagi dan segala yang telah kita
capai
dan menjadi kebanggaan kita, tak akan bernilai sepeserpun karena semuanya telah lenyap, telah hancur
luluh,
telah diatomisasikan. Untuk membenarkan gagasan orang-orang Arnerika di New York itu, tidak
diperlukan
suatu kebakaran akibat ledakan atom yang memorakporandakan dunia. Pergeseran sumbu bumi
beberapa
derajat saja, akan menyebabkan banjir besar yang tak tertahankan dan belum pernah terjadi
sebelumnya,
akan memusnahkan setiap kota yang ada.
Adakah orang yang begitu sombong menuduh bahwa para arif bijaksanawan dahulu kala tidak memikirkan
suatu tindakan seperti yang telah dilakukan oleh penduduk New York itu ?
Tak dapat diragukan lagi bahwa para akhli strategi perang bom Atom atau bom Hidrogen tidak akan
membidikkan senjata-senjata mereka ke perkampungan rakyat Zulu atau rakyat Eskimo yang tidak berbahaya
itu. Mereka akan menggunakan senjatanya untuk menghantam pusat-pusat kebudayaan. Dengan perkataan
lain kekacauan akibat radio aktivitas akan menimpa rakyat yang paling maju kebudayaannya. Orang-orang
primitif dan setengah beradab yang jauh dari pusat ke budayaan akan disisakan dari pemusnahan. Mereka ini
tak akan mampu meneruskan kebudayaan kita atau sekalipun hanya memberikan risalahnya, karena mereka
tidak ikut serta dalam kebudayaan itu. Bahkan para cendikiawan dan para pengkhayal yang mencoba
memelihara perpustakaan di bawah tanah tak akan mampu berbuat banyak bagi masa mendatang.
Perpustakaan-perpustaakaan akan musnah, dan rakyat primitif yang selamat tidak akan mengetahui banyak
tentang perpustakaan rahasia yang tersembunyi ini.
Daerah-daerah luas akan menjadi padang kering dan panas, karena radio aktivitas yang berjalan ratusan
tahun menyebabkan tiada sebatang tumbuhanpun yang dapat tumbuh di atasnya. orang-orang yang selamat
barangkali akan mengungsi dan selama 2000 tahun tak akan ada yang menghuni kota-kota yang dihancurkan
itu. Kekuatan alam akan menelan perjalanannya melalui reruntuhan-reruntuhan; besi dan baja akan berkarat
dan remuk menjadi debu. Dan segala sesuatu akan mulai dari permulaan! Manusia dapat menjalani
petualangan untuk kedua kalinya atau ketiga kalinya. Barang kali lagi ia akan membutuhkan waktu sekian
lamanya untuk menjadi makhluk beradab, sehingga rahasia-rahasia tentang tradisi dan naskah-naskah lama
tertutup baginya. Lima ribu tahun kemudian setelah malapetaka, para arkeologis dapat menyatakan bahwa
manusia abad kedua puluh belum mengenal besi. Ini dapat dimengerti karena mereka tidak akan menemukan
nya sepotongpun, bagaimanapun cara mereka mencari dan menggali.
Sepanjang perbatasan Rusia, mereka akan menemukan perangkap tank yang bermilmil panjang nya, yang
terbuat dari beton. Mereka mungkin akan menerangkan bahwa penemuan itu tak ayal lagi, menunjukkan garisgaris
astronomi. Kalau mereka menemukan tape atau cassette recorder lengkap dengan pitanya, mungkin
mereka
tidak akan mengetahui apa yang harus diperbuat dengan benda-benda itu. Bahkan mereka tidak akan
dapat
membedakan tape yang sudah disetel dari yang belum. Padahal barangkali tape itu mengandung
pemecahan
banyak persoalan. Naskah-naskah mengenai kota-kota raksasa dengan gedung-gedungnya yang
menjulang
tinggi mungkin tak akan dihiraukan karena kota-kota semacam itu dianggap tak mungkin pernah
ada.
Para sarjananya mungkin akan menganggap terowongan jalan kereta di bawah tanah di London sebagai
barang
aneh yang ada hubungannya dengan geometri, atau suatu sistem pengeringan tanah yang telah
dirancang
dengan matang.
Mereka mungkin terus sampai kepada risalah risalah tentang manusia terbang dari satu benua ke benua
lainnya dengan burung-burung raksasa, yang disebut sebagai kapal-kapal yang menyembur kan api dan dapat
menghilang masuk ke dalam awan. Itupun akan dianggap sebagai dongengan belaka, karena burung raksasa
semacam itu tak mungkin pernah ada. Semua itu akan menjadi lebih sulit bagi para penterjemah dalam tahun
7000.
Kenyataan tentang perang dunia dalam abad ke duapuluh, yang mungkin dapat mereka ketahui dari kutipan
naskah, oleh mereka akan dianggap tak masuk akal. Tetapi kalau mereka mendapatkan naskah-naskah pidato
Marx dan Lenin, mereka akhirnya akan mampu mengangkat dua orang pendeta agung pada abad yang tak
dimengerti ini sebagai pusat keagamaan abad itu. Untunglah !
Orang mungkin akan dapat menerangkan banyak, asal saja petunjuk untuk itu ada dan cukup pada mereka.
Lima ribu tahun bukan merupakan waktu sedikit. Kalau ada suatu balok kayu yang dihiasi dapat bertahan 5000
tahun, itu semata-mata perubahan alam yang luar biasa. Sedangkan balok besi yang paling tebalpun tak akan
tahan sekian lama.
Di halaman sebuah kuil di Delhi, sebagaimana telah saya sebut terdapat suatu pilar terbuat dari bagian-bagian
besi yang dilas. Pilar ini telah berdiri selama 4000 tahun, terbuka bagi segala pengaruh cuaca, namun
samasekali tidak ada tandatanda berkarat. Selain itu, pilar itu tidak terpengaruh oleh belerang dan phospor. Di
sini kita berurusan dengan suatu jenis logam campuran yang hingga sekarang sama sekali asing bagi kita.
Pilar itu barangkali dibuat oleh sekelompok insinyur yang berpandangan jauh ke muka dan tidak mempunyai
cukup bahan untuk membuat bangunan raksasa, tetapi ingin mewariskan kebudayaan mereka kepada
keturunannya; yaitu melalui monumen yang tak dapat dimakan oleh usia itu.
Adalah suatu hal yang memalukan, di mana walau dengan teknik paling mutakhir masa sekarang ini pun
bangunan dari kebudayaan masa si lam yang telah maju itu tak dapat kita jiplak.
Tumpukan-tumpukan batu itu masih tetap ada di sana, tak dapat disingkirkan. Karena apa yang seharusnya
tidak perlu ada, tentu tidak dapat ada. Orang sedang mencari penjelasan yang “rasional”. Mari kita lepas kain
penutup mata kita dan turut mencari penjelasan itu.
KEAJAIBAN PURBAKALA ATAU PUSAT WISATA RUANG ANGKASA?
Dari kota Damaskus ke Utara, di sana terdapat suatu teras yang disebut “Baalbek”; yakni suatu podium atau
panggung yang terdiri dari balok-balok batu, di antaranya ada yang panjang nya 65 kaki dan beratnya 2.000
ton. Sampai se karang para arkeologis belum dapat menjelaskan secara meyakinkan; mengapa, bagaimana,
dan oleh siapa teras Baalbek itu dibangun. Tetapi seorang Profesor Rusia yang bernama Agrett, menduga
teras itu adalah sisa-sisa dari landasan lapangan udara raksasa.
Berdasarkan pengetahuan yang kita peroleh dari para akhli tentang Mesir, Mesir purbakala muncul di depan
kita secara mendadak, lengkap dengan peradabannya yang sudah siap tanpa masa transisi. Kota-kota besar
dengan kuil besar-besar, patung-patung raksasa yang gagah perkasa, jalan-jalan indah diapit oleh arca-arca
besar, sistem pengeringan yang sempurna, pusara-pusara mewah yang dipahat dari batu karang, piramidapiramida
raksasa dan lain-lain yang aneh; seolah olah muncul begitu saja dari dalam tanah; merupakan
keajaiban
asli yang sekonyong-konyong telah mencapai puncaknya tanpa diketahui sejarahnya .
Tanah pertanian yang subur hanya terdapat di Delta Nil dan pada tepi kanan kiri sungai itu, yang menurut
taksiran para akhli jumlah penduduknya pada waktu piramida besar sedang didirikan adalah sekitar
50.000.000. orang. Suatu jumlah yang secara menyolok kontradiksi dengan jumlah penduduk dunia pada
tahun 3000 sebelum masehi, yang ditaksir hanya 20.000.000 orang. Dalam penaksiran yang begitu besar,
selisih satu atau dua juta, kurang atau lebih tidak menjadi soal. Tetapi satu hal yang sudah jelas, mereka harus
diberi makan. Di sana bukan hanya terdapat rombongan pekerja konstruksi, tukang batu, akhli teknik, dan
pelaut; bukan hanya ratusan ribu budak belian, melainkan juga tentara yang bersenjata lengkap, sejumlah
pendeta yang disanjung-sanjung, para pedagang, petani, dan pegawai sipil; dan tidak kalah pentingnya
dengan yang lain, ialah kehidupan mewah dari Firaun beserta ke luarganya. Dapatkah mereka hidup dari hasil
pertanian yang hanya sedikit dari Delta Nil itu ?
Seharusnya orang mengatakan.kepada saya, bahwa balok-balok batu yang diperlukan untuk membangun kuil
itu didatangkan ke sana dengan jalan mendorongnya di atas gelondongan kayu. Tetapi orang-orang Mesir tak
akan pernah menebangi pohon yang jumlahnva hanya sedikit itu, untuk dijadikan kayu gelondongan. Karena
pohon-pohon di sana umumnya adalah pohon korma yang buahnya diperlukan untuk pangan, sedangkan
pohon dan daunnya adalah satu-satunya peneduh untuk melindungi tanah dari kekeringan. Tetapi dari
pernyataan di atas tentu mereka harus pernah memiliki kayu gelondongan, sebab jika tidak maka tidak akan
didapat penjelasan teknik sekalipun yang selemahlemahnya tentang pembangunan piramida-piramida itu.
Apakah kayu untuk keperluan itu diimpornya? Untuk mengimpor kayu diperlukan armada kapal pengangkut
yang cukup besar. Setelah kayu itu dibongkar di pelabuhan Alexandria, masih perlu diangkut lagi melalui
sungai Nil ke Kairo. Oleh karena Mesir pada waktu membangun piramida besar tidak mempunyai kuda dan
gerobak, maka tak ada kemungkinan lain. Gerobak dan kuda tak dikenal orang di Mesir sampai dinasti ke
tujuh belas kira-kira tahun 1600 sebelum masehi. Jadi masalahnya sekarang ialah penjelasan yang
meyakinkan tentang pengangkutan balok batu itu. Para sarjana tentu akan mengatakan bahwa gelondongangelondongan
kayu memang dibutuhkan.
Banyak sekali persoalan yang ada hubungannya dengan teknologi pembangunan piramida itu, tetapi
penyelesaiannya belum ada yang tepat.
Bagaimana caranya orang-orang Mesir memahat pusara dari batu karang? Sumber dan dana apakah yang
mereka miliki untuk membangun gedung gedung kesenian dan ruangan-ruangan besar ?
Dindingnya licin-licin dan hampir semuanya dihiasi dengan gambar-gambar relief. Lubang-lubang terowongan
melandai ke bawah menuju lantai yang berbatu karang. Mereka telah membuat anak tangga menuju ke kamar
mayat jauh di bawah, dengan seni yang paling tinggi. Para wisatawan mengaguminya, tetapi tiada seorangpun
di antara mereka yang mendapatkan penjelasan tentang cara penggaliannya. Namun dapat dipastikan bahwa
orang-orang Mesir itu sejak dahulu kala adalah akhli dalam pembuatan terowongan, karena pusara-pusara
yang dipahat dari satu balok karang yang dibuatnya sebelumnya persis sama dengan yang paling akhir. Tidak
ada beda antara pusara Tety dari dinasti keenam dengan pusara Ramses I dari Kerajaan Baru, sekalipun
terdapat tenggang waktu sedikit-dikitnya 1000 tahun di antara kedua pembuatannya. Jelas sekali bahwa orang
orang Mesir tidak memerlukan sesuatu yang baru terhadap teknik lama mereka.
Bangunan-bangunan yang lebih baru, sebenarnya merupakan jiplakan yang kurang sempurna dari modelmodel
terdahulu.
Wisatawan yang mengunjungi piramida Cheops di sebelah barat Kairo dengan naik unta yang biasanya
dipanggil Wellington atau Napoleon, akan diliputi perasaan aneh, seperti perasaan yang biasanya ditimbulkan
oleh peninggalan masa silam yang misterius. Penunjuk jalan akan mengatakan bahwa seorang Firaun telah
membuat pekuburan di sini. Setelah memotret beberapa obyek, si wisatawan pulang dengan membawa sedikit
keterangan ilmiah itu. Piramida Cheops ini telah menginspirasikan beratusratus teori yang lemah dan gila.
Dalam buku “Pusaka kita dalam Piramida Besar” karya Charles Piazzi Smith, berisi 600 halaman, diterbitkan
dalam tahun 1864; kita dapat membaca banyak hubungan antara piramida dan bumi kita, yang
memerindingkan bulu roma. Namun demikian, kalau diselidiki secara kritis, buku itu masih mengandung faktafakta
yang memancing celaan.
Sudah diketahui umum bahwa orang-orang Mesir purbakala menganut agama matahari. Dewa Matahari
mereka “Ra,” menjelajahi langit dengan kendaraan yang mengeluarkan letusan-letusan api. Naskah-naskah
tentang piramida dari kerajaan kuno pun melukiskan wisatawisata sorga yang dilakukan oleh raja, yang
sebenarnya dengan bantuan para dewa dan kapal mereka. Jadi para dewa dan para raja di Mesir semuanya
telah terlibat dalam penerbangan.
Apakah benar-benar hanya kebetulan saja bahwa bila tinggi piramida Cheops diperbanyak dengan seribu juta,
akan menjadi 98.000.000 mil kira-kira sesuai dengan jarak antara matahari dan bumi ? Apakah kebetulan
juga, bahwa garis meridian yang melalui piramida-piramida membagi benua dan samudera menjadi dua bagian
yang sama? Apakah kebetulan juga, bahwa luas bidang dasar piramida itu bila dibagi oleh dua kali tinggi, hasil
baginya adalah r = 3.14159 yang sangat terkenal itu? Apakah kebetulan juga, bahwa mereka dapat
menemukan cara menghitung berat bumi?
Apakah kebetulan juga bahwa tanah yang berbatu-batu di mana bangunan itu berdiri telah diratakan secara
cermat sekali ?
Tidak ada sedikitpun petunjuk untuk menjelaskan mengapa orang-orang yang membangun piramida Cheops
dan Firaun Khufu, yang justru memilih tanah padang pasir yang terjal berbatu batu untuk tempat bangunan itu.
Adalah masuk akal kalau Firaun Khufu menggunakan celah alamiah yang terdapat dalam batu karang untuk
bangunan raksasanya. Keterangan lain walaupun lemah, menyebut bahwa ia ingin mengawasi jalan nya
pekerjaan dari istana musim panasnya. Kedua alasan itu bertentangan dengan pikiran sehat. Dalam hal
pertama; apakah tidak lebih praktis kalau tempat bangunan itu lebih dekat kepada tambang di sebelah Timur,
untuk memperpendek jarak transport bahan ? Dalam hal kedua, adalah mustahil kalau Firaun mau diganggu
oleh hiruk pikuk pekerjaan pembangunan piramida, setiap hari. Oleh karena banyak kritik yang perlu
dikemukakan terhadap buku-buku keterangan tentang pemilihan tempat bangunan itu, maka beralasanlah
kiranya kalau dipertanyakan; apakah para “dewa” tidak turut menentukannya, sekali pun hanya lewat
kependetaan ? Tetapi kalau penjelasan itu diterima, maka ada lagi satu pembuk tian yang penting terhadap
teori saya tentang masa silam utopi dari umat manusia.
Karena piramida itu tidak hanya membagi benua-benua dan samudera-samudera menjadi dua bagian yang
sama, melainkan juga letaknya yang tepat di pusat gratifikasi benua-benua. Kalau kenyataan di atas bukan
kebetulan dan memang agaknya sulit untuk percaya bahwa itu kebetulan saja, maka lokasi bangunan itu pasti
telah dipilih oleh makhluk-makhluk yang mengetahui benar bentuk bulat dari bumi ini serta bentangan benua
dan samudera di atasnya. Dalam hubungan ini, hendak nya kita ingat kembali akan peta-peta milik Piri Reis
dari Turki yang terurai dalam bab III . Jadi semuanya itu bukanlah kebetulan atau harus di anggap dongeng
bohong belaka.
Dengan kekuatan apa, dengan “mesin-mesin” apa dan dengan teknik apa lapangan batu terjal itu
diratakannya? Bagaimana caranya para akhli teknik bangunan itu membuat terowongan ke bawah menembus
batu karang itu? Dan bagaimana cara meneranginya ? Baik di sini maupun di pusara pusara para raja di
lembah-lembah, yang dipahat dalam balok batu karang, tidak ada tanda-tanda bahwa di situ pernah digunakan
obor atau sebangsanya. Tidak ada langit-langit atau dinding yang hitam atau bekas membersihkan jelaga
hitam.
Bagaimana dan dengan alat apakah balok batu itu dipotong dan dikeluarkan dari tambangnya? Bagaimana
menajamkan pinggirannya dan menghaluskan sisi-sisinya? Bagaimana mengangkutnya dari tambang ke
tempat pekerjaan dan bagaimana menyambungkannya satu sama lain sampai seteliti seperseribu inci?
Sekali lagi orang dapat memilih penjelasan di antara: dataran miring dan rata di mana balok-balok batu
didorong, perancah dan jalur-jalur landai. Dan tentu saja tenaga kerja yang terdiri dari ratusan ribu budak
belian, petani, akhli bangunan, dan pengrajin. Tiada satupun dari keterangan-keterangan ini yang tahan
terhadap penelitian-penelitian kritis. Piramida besar sampai sekarang masih merupakan bukti nyata dari suatu
teknik yang tak pernah dapat dipahami. Sekarang dalam abad kedua puluh ini, tiada seorang arsitekpun yang
dapat menjiplak piramida Cheops itu, sekalipun disediakan bahan dan dana dari segenap benua. 2.600.000
potong balok raksasa telah dipotong dan ditambang, dihias, diangkut dan dipasang di tempat lokasi bangunan
seteliti satu perseribu bagian dari satu inci. Dan jauh di bawah di dalam ruang-ruang, semua dindingnya
digambari dengan cat berwarna.
Lokasi dari piramida itu adalah hasil ulah dari Firaun. Ukuran “klasik”nya yang tak tertandingi itu bagi para
pendirinya hanyalah secara kebetulan saja. Beberapa ratus ribu pekerja mendorong dan menghela balok batu
yang masing-masing seberat dua belas ton lebih ke atas jalur landai dengan tali yang tak pernah ada di atas
gelondongan-gelondongan kayu yang tak pernah ada. Kelompok pekerja ini hidup dengan makan gandum tak
juga pernah ada. Mereka tidur dalam kemah kemah yang tak pernah ada yang dibangun di luar halaman
istana musim panas Firaun. Para pekerja itu dikomando dengan aba-aba “Holopis kuntul baris” melalui
pengeras suara yang tak pernah ada, maka dengan demikian balok batu itu serentak didorong ke atas.
Dan jika para pekerja yang rajin itu setiap hari mencapai jatah pekerjaan hariannya yang luar biasa itu, yakni
sepuluh balok ditumpuk satu di atas yang lainnya; maka untuk memasang 2.600. 000 balok batu menjadi
suatu piramida yang megah itu memerlukan waktu 260.000 hari atau 664 tahun. Ya, dan jangan lupa pula,
bahwa semua itu terjadi sebagai hasil dari ulah seorang raja sinting yang tak pernah mengalami penyelesaian
bangunan yang telah diilhamkan kepadanya.
Memang, tak perlu menganggap teori ini sebagai sesuatu yang menggelikan. Siapakah secara jujur percaya
bahwa piramida itu tak lain dan tak bukan ialah pusara seorang raja? Siapakah yang sekarang menganggap
bahwa penerusan simbol simbol matematika dan astronomi adalah suatu hal yang kebetulan belaka ?
Sekarang sudah disepakati umum, bahwa piramida besar itu dihubungkan kepada Firaun Khufu sebagai
penerima ilhamnya dan sebagai pendirinya. Mengapa ? Karena semua prasastinya dan lembaran-lembaran
sejarahnya dihubung-hubungkan kepadanya.
Bagi saya jelas nampaknya, bahwa piramida itu tidak dapat dibangun dalam satu masa hidup seseorang.
Tetapi bagaimana kalau Khufu memaksa orang untuk membuat prasasti dan lembaran sejarah itu karena ingin
termasyhur? Cara itu sangat populer di zaman purba; banyak bangunan menjadi saksi. Jika seorang diktator
ingin supaya dirinya masyhur, ia memerintahkan supaya keinginannya itu terlaksana, kalau itu halnya maka
piramida itu telah ada sebelum Khufu memperkenalkan diri.
Di Perpustakaan Bohlean di Oxford terdapat sebuah tulisan kuno di mana pengarang “Copti” bernama MasUdi
menetapkan bahwa Raja Mesir yang bernama Surid-lah yang membangun piramida besar di Mesir itu.
Cukup
aneh, Surid ini memerintah Mesir sebelum banjir besar. Raja Surid yang bijaksana ini memerintahkan
para
pendeta, supaya menuliskan segala kearifan mereka, dan menyembunyikannya di dalam piramida. Jadi,
kalau
menurut hikayat Copti, piramida itu didirikan sebelum banjir besar. Herodatus dalam Buku II nya tentang
“Sejarah

memperkuat dugaan itu. Para pendeta dari Thebes telah menunjukkan kepadanya 341 buah
patung
raksasa, yang masing-masing berarti satu generasi kependetaan tinggi, sedang seluruhnya mencakup
masa
11.340 tahun.
Sekarang kita mengetahui bahwa tiap pendeta tinggi telah dibuatkan patung baginya untuk selama masa
kehidupannya. Herodatus juga mengatakan bahwa selama ia bertempat tinggal di Thebes setiap pendeta
secara bergiliran menunjukkan patungnya masing-masing kepadanya sebagai bukti seorang putera selalu
mengikuti jejak ayahnya. Para pendeta itu menjamin bahwa pernyataan mereka itu sangat cermat karena
mereka telah mencatat segala sesuatunya untuk generasi-generasi mendatang. Mereka menerangkan pula
bahwa tiap patung dari 341 buah patung itu mewakili satu generasi. Sebelum 341 generasi ini para dewa hidup
bersama-sama manusia biasa, sedangkan setelah itu tidak ada seorang dewapun yang datang mengunjungi
mereka dalam bentuk manusia.
Masa sejarah mesir ditaksir kirakira 6500 ta hun. Kalau begitu mengapa para pendeta itu tak malu-malunya
mendustai wisatawan Herodatus dengan 11.340 tahun itu? Dan mengapa mereka itu dengan tegas
menekankan bahwa tak ada dewa hidup di tengah-tengah mereka selama 341 generasi? Perincian ini tidak
akan ada artinya sama sekali jika para “dewa” benar-benar tidak pernah hidup di antara mereka di zaman yang
silam itu.
Kita hampir tidak mengetahui apa-apa tentang bagaimana, mengapa, dan bila piramida itu dibangun. Sebuah
gunung buatan setinggi 490 kaki dengan berat 6.500.000 ton berdiri di sana sebagai bukti dari kehebatan
yang dicapai pada waktu itu. Monumen ini diduga bukan apa-apa melainkan kuburan mewah dari seorang raja
yang sangat royal. Setiap orang yang percaya kepada keterangan demikian boleh datang di sana.
Mummi-mummi yang juga tidak dapat mengerti dan belum dijelaskan dengan meyakinkan, menatap kita dari
masa yang baru saja silam, seolah-olah mereka itu memegang beberapa rahasia ajaib.
Sebagian orang ada yang mengetahui teknik pembalseman mayat. Penemuan-penemuan arkeologis
memperkuat dugaan bahwa makhluk purbakala percaya akan adanya kehidupan badaniah kedua di kemudian
hari. Interpretasi demikian akan dapat diterima jika dalam falsafah agama dari kepurbakalaan terdapat bukti
yang paling dekat dari kepercayaan akan kehidupan badaniah kedua. Jika nenek moyang kita yang masih
primitif itu hanya percaya akan adanya kehidupan rohaniah kedua, maka mereka tidak akan begitu repot-repot
mengenai kematian itu. Tetapi penemuan dalam pusara-pusara di Mesir memberikan contoh demi contoh dari
pembalseman mayat sebagai persiapan untuk kehidupan badaniah yang kedua itu.
Apa yang dikatakan oleh bukti, apa yang di katakan oleh pembuktian terlihat dan tidak akan begitu
menggelikan. Lukisan-lukisan dan hikayat hikayat sebenarnya menunjukkan bahwa para “dewa” berjanji akan
datang kembali dari bintang bintang untuk membangunkan mayat-mayat yang dibalsem sesempurnasempurnanya,
untuk memasuki kehidupan baru. Itu sebabnya maka ketentuan tentang pembalseman mayat
dalam
ruang-ruang penguburan dibuat sedemikian praktis, karena diperuntukkan bagi kehidupan di balik
kubur
ini. Jika tidak demikian, lalu apa kiranya yang telah mereka lakukan dengan uang, permata, dan segala
benda
lsesayangan mereka? Hal itu mereka lakukan karena bagi mereka itu bahkan di dalam pusaranya
disediakan
juga beberapa pelayan yang pasti telah dikubur hidup-hidup.Titik berat dari segala persiapan itu
ialah
kelanjutan kehidupan dalam kehidupan baru.
Pusara-pusara itu sangat tahan lama dan kokoh hampir tahan akan bom atom, dan dapat menahan
keganasan alam sepanjang masa. Barang-barang berharga yang ditinggalkan di dalarnnya, seperti emas, dan
batu pertama, sebenarnya tak dapat rusak.
Di sini saya tidak akan menyinggung pembicaraan tentang penyalahgunaan pembalseman yang terjadi
kemudian. Saya harus berkepentingan dengan pertanyaan: Siapakah gerangan yang memasukkan gagasan
tentang kelahiran kembali badaniah ini ke dalam benak orang-orang penyembah berhala ini? Dan dari mana
datangnya gagasan yang berani ini yakni bahwa sel-sel dari badan seseorang harus diawetkan, sehingga, jika
mayatnya disimpan di dalam tempat yang ditutup sangat rapat dapat dibangunkan kembali untuk mematuhi
kehidupan baru, beribu-ribu tahun kemudian?
Selama ini masalah pembangunan kembali yang misterius ini hanya baru ditinjau dari segi keagamaan saja.
Tetapi bagaimana halnya dengan Firaun yang kita anggap lebih banyak mengetahui tentang sifat dan
kebiasaan para “dewa” dari pada kawula-kawula negaranya, apakah dia juga mempunyai gagasan-gagasan
gila ini? “Aku harus membuat pekuburan bagi diriku sendiri, yang tak dapat rusak selama jutaan tahun dan
dapat dilihat orang jauh dari seberang negeri. Para dewa berjanji akan datang kembali dan akan
membangunkan daku, untuk memulihkan daku hidup kembali”.
Apa yang harus kita katakan tentang itu dalam abad ruang angkasa ini? Akhli pengetahuan alam dan
astronomi Robert C.W. Ettinger, dalam bukunya berjudul “Prospek dari Keabadian”, terbitan tahun 1965;
menyarankan suatu cara untuk membekukan badan kita sedemikian rupa sehingga sel-selnya dilihat dari segi
biologi dan medis masih tetap hidup, tetapi kegiatannya terhambat satu milyar kali. Gagasan ini di masa
sekarang masih utopis, tetapi kenyataannya klinik besar sekarang mempunyai “bank tulang” yang
mengawetkan tulang manusia dalam keadaan sangat dingin yang membekukan, sehingga selselnya tetap
hidup selama bertahun-tahun dan pada waktunya nanti dapat digunakan kembali. Darah segar ini pun sudah
diperaktekan di seluruh dunia sekarang dapat disimpan untuk waktu yang tak terbatas pada suhu 196_C di
bawah nol, sedangkan sel-sel hidup dapat disimpan untuk waktu yang hampir tak terbatas pada suhu dari
nitrogen cair. Apakah Firaun juga mempunyai gagasan yang fantastis, yang segera direalisasikan dalam
praktek?
Yang berikut ini anda harus membacanya dua kali untuk memahami benar implikasi yang fantastis dari
penelitian ilmiah sebagai berikut. Walau pun bulan Maret 1963, para biologis dari University of Oklahoma
memastikan bahwa sel-sel kulit dari seorang putera Mesir yang. bernama Mene dapat hidup, sedangkan ia
telah meninggal dunia beberapa ribu tahun yang lalu.
Beberapa penemuan di berbagai tempat yang ada muminya, mummi itu telah diawetkan demikian
sempurnanya dan utuh, sehingga kelihatannya seperti hidup.
Mummi glasier peninggalan orang-orang Inca sudah bertahan berabad-abad dan secara teori mereka mampu
untuk hidup kembali. Utopi?
Dalam musim panas tahun 1965, televisi Rusia memperlihatkan dua ekor anjing yang telah dibekukan selama
seminggu. Pada hari ketujuh anjing-anjing itu di “cairkan” kembali dan sekonyong-konyong hidup kembali
seperti sediakala.
Orang Amerika (ini bukan rahasia) sedang memikirkan dengan serius suatu bagian dari program ruang
angkasanya, yakni bagaimana membekukan para astronot yang akan datang untuk perjalanan mereka yang
panjang sekali ke bintang-bintang yang jauh.
Dr. Eltinger yang sering mencek masa kini dan meramalkan hari depan di mana orang tidak lagi akan dapat
dimakan api atau cacing.
Badan manusia akan dibekukan dalam kuburan yang sangat dingin atau bunker-bunker pembeku, sambil
menanti kemajuan di bidang  kedokteran yang dapat menghilangkan sebab-sebab dari kematian mereka dan
kemudian menghidupkan mereka ke dalam kehidupan baru. Orang dapat memahami impian yang mengerikan
tentang sepasukan tentara yang dibekukan, dan kemudian akan “dicairkan” kembali bila perlu, terutama dalam
keadaan perang; suatu gagasan yang benar-benar menakutkan.
Tetapi apa hubungannya mummi itu dengan teori kita tentang wisatawan-wisatawan ruang angkasa di masa
silam itu? Apakah saya dengan tergesa-gesa sedang menggali bukti-bukti? Saya bertanya: Bagaimana orangorang
purbakala mengetahui bahwa sel-sel badan tetap hidup kemudian mengendur semilyar kali setelah
mengalami
pengerjaan tertentu ? Dan darimana asalnya gagasan tentang keabadian dan bagaimana orangorang
mendapatkan konsepsi tentang kebangkitan kembali badaniah?
Kebanyakan orang purbakala mengetahui teknik permummian; orang kaya benar-benar mempraktekkannya.
Di sini saya tidak mempersoalkan fakta yang dapat diperlihatkan ini melainkan mencari jawaban atas
pertanyaan, dari mana asalnya gagasan tentang bangun kembali atau hidup kembali.
Apakah gagasan itu timbul pada beberapa raja atau putra mahkota bangsa pengembara hanya semata-mata
secara kebetulan saja, atau karena ada beberapa penduduk kaya yang melihat para “ dewa” merawat mayat
dengan proses yang sulit kemudian menyimpannya dalam peti mayat yang terbuat dari batu yang tahan bom?
Apakah ada beberapa wisatawan ruang angkasa mengajarkan kepada seorang pangeran yang cerdas dan
berdarah raja, bagaimana mayat dapat di bangunkan kembalise telah mendapat perawatan khusus?
Spekulasi ini mernerlukan konfirmasi dari sumber-sumber kontemporer. Dalam beberapa ratus tahun
mendatang umat manusia akan menguasai penerbangan ruang angkasa yang sekarang masih di anggap tak
masuk akal. Biro-biro keparawisataan akan menawarkan tour ke planet-planet dengan tanggal
pemberangkatan dan tanggal kembali yang tepat dalam brosur-brosurnya.
Jelaslah bahwa persyaratan bagi penguasaan ini ialah semua cabang ilmu pengetahuan harus mengikuti
perkembangan ruang anskasa. Elektronika dan sibernetika saja tidak cukup. Kedokteran dan biologi akan
memberikan bantuannya dengan jalan menemukan suatu cara untuk memperpanjang fungsi-fungsi vital dari
badan manusia. Bagian ini dari penelitian ruang angkasa sekarang sedang giat-giatnya bekerja.
Di sini kita harus bertanya kepada diri sendiri: Apakah para angkasawan purbakala sudah mengetahui bahwa
kita harus tumbuh kembali dari permulaan lagi? Apakah para cendekiawan purbakala telah mengetahui caracara
pengawetan badan manusia supaya dibangkitkan kembali setelah ribuan tahun kemudian? Atau
barangkali
ada beberapa “dewa

yang cerdas, menaruh perhatian pada “pengawetan”
sekurang-kurangnya
satu
sosok mayat dengan maksud supaya kelak kemudian hari dapat dihidupkan kembali untuk ditanyai
tentang
sejarah generasinya ? Mungkinlah interogasi semacam itu yang dilakukan oleh para dewa sudah
pernah
terjadi?
Dalam perjalanan waktu berabad-abad, mummifikasi yang semula adalah suatu hal yang suci, lama kelamaan
akan menjadi mode. Sekonyong konyong setiap orang ingin dihidupkan kembali. Sekonyong-konyong setiap
orang menduga bahwa ia dapat memasuki kehidupan baru selama ia masih mengikuti cara-cara nenek
moyangnya.
Para pendeta tinggi yang juga mempunyai pengetahun tentang kebangkitan kembali banyak mempengaruhi
cara peribadatan ini, karena kelom poknya memanfaatkan cara ini dengan baik.
Saya telah menyebut kemustahilan jasmaniah dan usia para raja Sumeria, dan telah menyebut beberapa data
dari Injil. Telah saya pertanyakan pula, apakah tidak mungkin bahwa raja-raja ini adalah wisatawan ruang
angkasa yang telah memperpanjang jenjang hidupnya melalui efek pergeseran waktu pada penerbangan
antar bintang yang kecepatannya hanya sedikit di bawah kecepatan cahaya.
Apakah kita barangkali sedang mendapat petunjuk ke dalam zaman orang-orang yang disebut dalam naskah,
kalau kita mengasumsikan bahwa mereka itu telah dibalsem atau dibekukan ?
Kalau kita ikuti teori ini, maka para wisatawan ruang angkasa yang tak dikenal itu mungkin adalah orang-orang
terkemuka purbakala yang dibekukan ditidurkan seperti dalam dongeng, kemudian dikeluarkan dari tempat
penyimpanannya, “dicairkan kembali, kemudian bercakap-cakap dalam kunjungan mereka berikutnya. Pada
tiap akhir kunjungannya, para pendeta tinggi yang diangkat oleh para pendeta wisatawan ruang angkasa
ditugaskan untuk menyiapkan mayat yang akan diawetkan dan disimpan dalam kuilkuil besar sampai para
“dewa” itu datang kembali.
Tak mungkin? Menggelikan? Justru kebanyakan manusia yang merasa dirinya terikat oleh hukum-hukum alam
itu, yang paling bodohlah yang menentang teori ini. Bukankah alam sendiri yang suka mempertontonkan
contoh-contoh yang bagus sekali tentang “tidur di musim dingin” dan kebangkitan kembali ini ?
Ada beberapa jenis ikan yang setelah dibekukan dan kemudian dimasukkan ke dalam suhu yang sedang,
dapat hidup kembali dan berenang lagi dalam air. Bunga-bunga dan tempayak bukan hanya suka tidur di
musim dingin, melainkan mereka dapat muncul kembali dengan segar bugar dalam warna dan bungkus yang
baru.
Biarlah saya menjadi penganjur terkutuk. Apakah orang-orang Mesir belajar pembalseman mayat itu dari
alam? Kalau memang demikian adanya, maka harus ada cara pemujaan khas bagi kupu-kupu atau kembang,
atau sekurang-kurangnya ada tanda-tanda dari cara pemujaan demikian. Tetapi mayatnya tidak ada. Pusarapusara
di bawah tanah memang berisi peti-peti batu besar berisi binatang-binatang yang dibalsem. Tetapi
sekalipun
diketahui keadaan cuaca atau iklimnya, orang-orang Mesir itu tak dapat meniru tidur musim dingin
dari
binatang.
Lima mil dari Helwan terdapat lebih 5000 pusara dari berbagai ukuran yang semuanya berasal dari zaman
dinasti pertama dan kedua. Pusara-pusara ini menunjukkan bahwa mumifikasi telah berusia 6.000 tahun lebih.
Dalam tahun 1953 Profesor Emery menemukan sebuah pusara besar dalam pekuburan yang sudah tidak
terpakai lagi di Sakkare Utara. Pusara ini dihubungkan dengan pikiran dari dinasti pertama. Terpisah dari
pusara utama terdapat lagi 72 pusara lainnya, diatur dalam tiga barisan. Dalam pusara-pusara ini dibaringkan
mayat-mayat para pelayan yang ingin menyertai raja-rajanya dalam dunia baru. Tidak terdapat tanda-tanda
bekas penganiayaan pada mayat 64 orang pemuda dan 7 orang pemudi ini. Mengapa ke 72 orang ini mau
dikurung dalam ruangan ini sampai mati ?
Kepercayaan akan kehidupan di balik kuburlah yang dapat memberi penjelasan tentang phenomena ini. Di
samping emas dan batu permata, dalam pusara para Firaun itu terdapat pula persediaan jagung, minyak
nabati, rempah-rempah; yang jelas dimaksudkan untuk persediaan penghidupan yang akan datang. Selain
oleh para pencuri kuburan, pusara-pusara itu pernah pula dibuka oleh firaun-firaun. Para firaun ini menemukan
persediaan pangan bagi nenek moyangnya itu dalam keadaan masih baik dan utuh. Dengan perkataan lain,
persediaan pangan itu tidak dimakan oleh mumi dan tidak pula dibawa pindah ke dunia lain. Dan jika pusara ini
akan ditutup kembali; persedian pangan segar dimasukkan ke dalam ruang di bawah tanah yang aman
terkunci, dan disegel supaya tidak dicuri orang. Jelas sekali bahwa orang orang Mesir percaya akan
kebangkitan kembali dalam waktu mendatang yang jauh, bukan kebangkitan kembali yang segera dalam
waktu dekat ini.
Pada bulan Juni tahun 1954, juga di Sakkara telah ditemukan sebuah pusara yang masih utuh, belum
dirampok orang. Ini terbukti dari adanya peti yang berisi emas dan batu permata masih utuh dalam ruang
pekuburan. Peti batu berisi mumi itu ditutup dengan tutup yang bisa digeser, bukan dengan tutup yang
biasanya dapat di angkat. Pada tanggal 6 Juli, Dr. Gonein membuka peti batu itu dengan segala upacara.
Pusara itu ternyata kosong. Sama sekali kosong tanpa mumi. Apakah muminya pindah meninggalkan segala
perhiasannya?
Rodenko seorang Rusia, menemukan kuburan dari Kurgan V, lima puluh mil dari perbatasan Mongolia Luar.
Kuburan ini berbentuk bukit batu yang di dalamnya diperhalus dengan kayu. Seluruh ruang pekuburannya
dibungkus oleh lapisan es abadi, sehingga isi dari pekuburan itu ada dalam pengawetan dengan jalan
pembekuan. Satu di antara ruang-ruang pekuburan itu berisi mayat seorang pria dan seorang wanita yang
kedua-duanya telah dibalsem. Kedua-duanya dibekali persediaan yang mungkin akan mereka butuhkan dalam
kehidupan yang akan datang; seperti makanan dalam pinggan, pakaian, batu permata, dan alat-alat musik. Se
gala sesuatunya beku dan dalam keadaan pengawetan yang sempurna sekali. Demikian juga keadaan mumimumi
yang telanjang bulat. Dalam salah satu ruang pekuburan, para sarjana menemukan suatu persegi
panjang
berisi 4 baris yang masing-masing terdiri dari 6 bujur sangkar. Dalam tiap bujur sangkar ini terdapat
lukisan.
Keseluruhan persegi panjang ini merupakan suatu tiruan dari permadani batu yang ada di Istana
Asyiria
di Niniveh.
Arca-arca aneh yang menyerupai Sphinx dengan tanduk yang rumit di atas kepalanya dan sayap di
punggungnya dapat dilihat dengan jelas. Posisi arca-arca ini seperti yang akan terbang. Tetapi motivasi untuk
kehidupan rohaniah berdua tak mungkin dapat didasarkan kepada penemuan-penemuan di Mongolia itu. Cara
pembekuan yang dipergunakan di sana untuk itulah pekuburan ini sebelah dalamnya dilapisi kayu, adalah
terlalu banyak di dunia ini dan nyata sekali di maksudkan untuk keperluan-keperluan yang berkaitan dengan
bumi.
Mengapa orang-orang purbakala itu menduga bahwa mayat yang diproses secara ini dapat mencapai suatu
keadaan yang memungkinkan pembangkitan kembali? Ini tetap merupakan suatu teka teki, walaupun hanya
untuk sementara.
Di kampung Wu Chan di negeri Cina terdapat sebuah pusara yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran
45 x 39 kaki. Di dalamnya terdapat kerangka tulang dari 17 lelaki dan 24 perempuan. Tidak seorangpun di
antaranya menunjukkan tanda-tanda bekas kekerasan.
Ada pusara gletsier di Andes, ada pusara es di Liberia, ada pusara perorangan maupun kelompok di Cina,
Sumeria dan Mesir. Mumi-mumi telah ditemukan di Utara maupun di Afrika Selatan. Semua mayat itu dibekali
perbekalan untuk kehidupan baru. Semua pusara telah dibangun dan dibuat demikian kokoh sehingga dapat
bertahan ribuan tahun.
Apakah semua ini hanya kebetulan belaka? Apakah semua ini hanya kesukaran atau ulah aneh aneh dari
nenek moyang kita? Apakah memang ada janji di zaman purbakala akan adanya perkembalian badaniah yang
tidak kita ketahui? Siapakah yang membuat janji itu?
Beberapa pusara yang sudah berumur 10.000 tahun telah digali di Jericho. Di dalamnya ditemukan sejumlah
model tengkorak yang sudah berumur 8.000 tahun. Model-model itu dibuat dari batu kapur. Inipun
mengherankan, karena orang-orang dari zaman itu belum mengenal teknik pembuatan tembikar. Di bagian lain
dari Jericho di temukan rumah berderet-deret. Dinding-dinding rumah di bagian atasnya melengkung ke dalam
seperti kubah. Pemeriksaan dengan isotop carbon C 14 menunjukkan, bahwa rumah-rumah itu sudah
berumur 10.400 tahun. Kita ketahui bahwa isotop carbon C 14 dapat digunakan untuk menentukan umur
rumah-rumah itu sama benar dengan yang telah disampaikan oleh para pendeta Mesir kepada kita. Mereka
mengatakan bahwa nenek moyang mereka yang juga pendeta, telah dibebas-tugaskan 11.000 tahun yang
lalu. Apakah ini juga hanya kebetulan saja ?
Batu-batuan pra sejarah di Lussac, Perancis merupakan penemuan yang istimewa. Batu-batu itu
menunjukkan gambar dari pria-pria yang berpakaian modern; bertopi, memakai jaket, dan bercelana pendek.
Abbe Breuil mengatakan bahwa gambar-gambar itu adalah otentik. Pernyataannya ini menyebabkan pra
sejarah menjadi membingungkan. Siapakah yang telah memahat batu-batu itu? Siapakah yang telah
mengkhayal bahwa penghuni gua yang masih berbaju kulit binatang, dapat menggambar manusia dari abad
ke duapuluh pada dinding?
Beberapa lukisan dari zaman batu yang betul betul hebat, telah ditemukan pula di Luscaux di Perancis Selatan
dalam tahun 1940. Lukisan-lukisan itu begitu hidup dan masih utuh, bagaikan lukisan di zaman sekarang.
Dua pertanyaan segera timbul dalam benak kita. Bagaimana caranya menerangi dinding gua itu supaya para
artis zaman batu itu dapat menyelesaikan tugasnya yang.sulit itu? Mengapa dinding-dinding itu harus dihias
dengan lukisan-lukisan yang mengherankan itu ? Biarkanlah pertanyaan-pertanyaan itu dijawab oleh mereka
yang menganggap pertanyaan itu pertanyaan tolol. Jika penghuni gua dari zaman batu itu masih primitif dan
setengah biadab, mereka tak akan mampu membuat lukisan-lukisan yang sangat mengherankan itu. Tetapi
kalau mereka mampu, mengapa mereka tidak mampu membuat kubu-kubu untuk berteduh? Para pejabat
terkemuka pun mengakui bahwa sudah sejak jutaan tahun yang lalu, binatang mampu membuat sarangnya
sendiri untuk tempat berteduh. Tetapi pengakuan bahwa homo sapiens juga mempunyai kemampuan yang
sama seperti sejak jutaan tahun pula, tidak cocok dengan hipotesa kerja kita.
Di padang pasir Gobi, jauh di bawah reruntuhan Khara Khota, Profesor Koslov menemukan pusara yang
ditaksir berasal dari tahun 12.000 sebelum Masehi. Pusara itu tempatnya tidak jauh dari tempat vitrifikasi yang
ajaib itu, yang hanya mungkin terjadi dengan panas yang sangat tinggi. Peti batunya berisi dua mayat pria
kaya. Di atas peti batu itu terdapat suatu tanda lingkaran dibagi dua dengan sebuah garis vertikal.
Di Pegunungan Subis di pantai barat Borneo terdapat suatu jaringan gua-gua yang di dalamnya dibuat seperti
katedral. Di antara penemuan yang hebat ini terdapat pula hasil tenunan yang demikian halus dan indahnya,
sehingga orang tak dapat membayangkan bahwa itu telah dibuat oleh orang-orang setengah biadab.
Pertanyaan, pertanyaan, sekali lagi pertanyaan, ...
Keraguan pertama dengan lihainya beralih bentuk menjadi teori arkeologi stereotype. Tetapi yang kita perlukan
ialah pendobrakan semak belukar dari masa silam itu. Batu-batu penunjuk harus didirikan lagi, bila perlu harus
ditetapkan sejumlah seri tanggal tertentu.
Boleh saya jelaskan di sini bahwa saya tidak meragukan sejarah dari 2000 tahun terakhir. Saya hanya
berbicara khusus tentang sejarah purbakala yang jauh ke belakang, tentang kegelapan yang paling hitam;
yang ingin saya terangi dengan jalan mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru. Saya juga tidak dapat
memberikan angka dan tanggal yang menunjukkan sejak kapan kunjungan para cendekiawan tak dikenal dari
alam semesta dan kapan mulai mempengaruhi para cendekiawan muda. Tetapi saya berani meragukan cara
sekarang untuk menentukan tanggal yang ditetapkan kepada masa silam itu.
Saya ingin menyarankan supaya peristiwa yang sedang menjadi perhatian saya, yakni zaman Paleolithic Dini
ditempatkan antara tahun 10.000 dan 40.000 sebelum masehi. Cara kita untuk menentukan tanggal yang ada
sampai sekarang, termasuk di dalamnya C 14 yang memuaskan setiap orang itu, akan meninggalkan gap
besar apabila kita harus berurusan dengan jangka waktu kurang dari 5000 tahun. Semakin tua yang harus kita
teliti, radio carbon itu semakin tidak dapat di percaya. Bahkan para sarjana vang terkenalpun menganggap
metoda C 14 itu sebagai gertakan belaka, karena kalau suatu substansi organis berumur antara 30.000 dan
50.000 tahun, umur sebenarnya dapat ditentukan berapa saja di antara kedua batas itu.
Kritik-kritik ini hanya dapat diterima dalam batas-batas tertentu; karena meskipun begitu cara kedua yang
sesuai dengan C 14 dan didasarkan kepada alat pengukur paling mutakhir tak ayal lagi sangat diperlukan.
PULAU EASTER TANAH MANUSIA BURUNG
Pelaut pertama Eropa yang mendarat di pulau Easter pada awal abad ke delapanbelas hampir-hampir tidak
dapat mempercayai penglihatannya sendiri. Di bagian dunia yang kecil ini, 2.350 mil dari pantai Chili, mereka
melihat ratusan patung besar-besar tersebar di seluruh pulau. Gunung yang besar-besar diubah bentuknya,
batu vulkanis yang bagaikan baja dipotong-potong bagaikan memotong mentega layaknya dan 10.000 ton
batu karang besar-besar bertebaran di mana-mana. Ratusan patung besar di antaranya ada yang tinggi nya
antara 33 sampai 66 kaki dan beratnya kurang lebih 50 ton, selamanya menatap muka para pengunjung masa
sekarang, seolah-olah menantang, bagaikan robot yang sedang menanti untuk digerakkan lagi. Semua
raksasa ini memakai topi, tetapi topi-topi inipun tidak banyak membantu menjelaskan dari mana asalnya
patung-patung ini. Batu untuk topi-topi itu yang beratnya ada yang lebih dari sepuluh ton satu balok letaknya
jauh dari bagian badannya. Di samping itu, topi tersebut harus dikerek ke atas setinggi masing-masing patung.
Ketika itu ditemukan juga lembaran-lembaran sejarah dari kayu bertuliskan huruf Mesir Kuno.Tetapi sekarang
tidaklah mungkin untuk menemukan lebih dari fragmen-fragmen lembaran sejarah itu di semua musium di
dunia ini. Dari yang masih ada itu tidak ada satupun yang sudah diterjemahkan. Menurut penyelidikan Thor
Heyerdahl, raksasa-raksasa misterius ini berasal dari tiga zaman. Yang tersempurna dari tiga kebudayaan itu
ialah yang tertua. Heyerdahl menetapkan sisa-sisa orang kayu yang ia temukan berasal dari tahun 400
sesudah masehi. Masih belum dapat dibuktikan sampai sekarang, apakah tempat-tempat perapian dan sisasisa
tulang ada hubungannya dengan patung raksasa itu. Heyerdahl menemukan ratusan patung yang belum
selesai
di dekat tebing batu karang dan dekat pinggiran kawah. Ribuan perkakas terbuat dari batu, berserakan
di
mana-mana, seolah-oleh pekerjaan telah ditinggalkan secara mendadak.
Pulau Easter letaknya jauh dari benua mana pun, atau dari peradaban apapun. Penduduk aslinya lebih
mengenal bulan dan bintang-bintang dari pada penduduk negara mana pun. Di atas pulau kecil yang berbatubatu
vulkanis ini, tidak tumbuh sebatang pohonpun. Di sinipun sudah tentu keterangan bahwa batu-batu
raksasa
diangkut ke sana dengan jalan mendorongnya di atas kayu-kayu gelondongan tidak berlaku. Di
samping itu, pulauEaster ini hampir tak mungkin dapat memberi makan penduduknya yang pada waktu itu di
taksir 2000 jiwa. Sekarang di pulau itu terdapat beberapa ratus orang penduduk. Impor sandang pangan untuk
keperluan tukang-tukang batu di waktu itu hampir tak masuk akal. Kalau begitu siapa yang memotong batu
untuk patung dan siapa yang memahatnya, mengukirnya, dan siapa yang mengangkutnya ke tempat sejauh
bermil-mil tanpa gelondongan? Bagaimana menghiasnya, memolesnya, dan mendirikannya?  Bagaimana cara
memasangkan topi yang didatangkan dari berbagai tempat itu? Karena kurangnya tenaga kerja di pulau
Easter, maka sistem “holopis-kuntul baris” yang di praktekkan di Mesir terhadap ratusan ribu tenaga kerja
dalam pembangunan piramida, tak dapat kita bayangkan kemungkinannya. Bahkan 2000 orang yang bekerja
siang dan malam pun, tak akan cukup untuk memahat patung-patung raksasa ini dari batu-batu vulkanis yang
keras bagaikan baja ‘dengan perkakas yang sangat sederhana. Harus diingat pula bahwa sedikitnya sebagian
dari penduduk harus mengolah tanah yang tandus itu, harus mencari ikan, harus menenun pakaian dan
membuat tali. Jadi, patung-patung raksasa itu tak mungkin telah dibuat oleh 2000 orang penduduk pulau itu.
Jumlah penduduk yang lebih besar dari itu, tak masuk akal di pulau Easter. Lalu siapa gerangan yang telah
menyelesaikan pekerjaan itu? Dan bagaimana caranya? Dan mengapa patung-patung itu didirikan di sekitar
pinggiran pulau?. Mengapa bukan di pedalamannya?. Peribadatan apakah yang dilaksanakan orang dengan
patung-patung itu? Sangat disayangkan, bahwa para pembawa kabar injil dari Eropa pun tak dapat membantu
menyingkap tabir kegelapan pulau itu. Mereka telah membakar lembaran sejarah yang bertuliskan huruf-huruf
Mesir Kuno; mereka melarang peribadatan kuno, penyembahan patung-patung itu, dan menghapuskan segala
jenis tradisi. Namun demikian, sebagai orang-orang soleh, mereka tak dapat melarang penduduk asli
menyebut pulau itu “Tanah Manusia Burung”. Sekarang pun pulau itu disebut demikian. Dongeng rakyat yang
diceri terakan dari mulut ke mulut turun-temurun, mengatakan bahwa di zaman purbakala, manusia bersayap
mendarat dan menyalakan api di sana. Dongeng ini diperkuat oleh patung-patung makhluk terbang bermata
besar dan menatap. Mau tak mau kita akan menghubung-hubungkan pulau Easter ini dengan Tiahuanaco. Di
Tiahuanaco seperti juga halnya di Easter terdapat patung raksasa batu yang stylenya sama. Baik di
Tiahuanaco maupun di Easter, patung-patung itu berwajah angkuh tetapi sabar. Ketika Francisco Piqarro
mewawancarai orang-orang Inca tentang Tiahuanaco dalam tahun 1532, mereka mengatakan, tiada
seorangpun pernah melihat keamanan. Kota itu porak-poranda karena Tiahuanaco di bangun di waktu malam
dalam sejarah umat manusia. Pulau Easter dalam hikayat-hikayat disebut “pusat dari dunia”. Jarak antara
Tiahuanaco dan pulau Easter ialah 3.125 mil. Bagaimana mungkin kebudayaan Tiahuanaco mengilhami
kebudayaan pulau Easter atau sebaliknya ? Barangkali mitologi pra Inca dapat memberikan petunjuk-petunjuk.
Menurut mitologi ini, dewa pencipta bernama Viracocha, adalah seorang dewa utama purbakala. Menurut
hikayat, Viracocha menciptakan makhluk dunia ketika dunia ini belum mempu nyai matahari masih gelap gulita.
Ia mencipta dan memahat suatu ras raksasa dari batu, dan kare na raksasaraksasa ini mengecewakan
Viracocha, maka ditenggelamkannya semua raksasa itu ke dalam suatu air bah yang dalam. Kemudian ia
terbitkan matahari dan bulan di atas Danau Titicaca, sehingga dunia menjadi terang benderang, ya, kemudian
bacalah ini dengan teliti: Ia membentuk manusia dan binatang dari tanah liat di Tiahuanaco dan memberinya
nyawa. Kemudian ia mengajar makhluk-makhluk hidup ciptaannya ini; bahasa, adat istiadat, dan kesenian.
Akhirnya ia terbangkan sebagian di antaranya ke berbagai benua, yang ia harapkan untuk dihuni oleh
makhluk- makhluk hidup itu. Setelah itu dewa Viracocha disertai dua orang pembantunya mengadakan
kunjungan ke berbagai negara untuk mencek apakah instruksi-instruksinya dilaksanakan dan bagaimana
hasilnya.
Dengan menyamar sebagai orang tua, Viracocha berkelana di atas pegunungan Andes sepanjang pantai, di
mana ia sering tidak disambut dengan baik. Suatu waktu di Cacha, ia demikian kecewa terhadap penyambutan
dirinya sehingga ia marah dan membakar suatu tebing batu karang, dan tak lama kemudian membakar seluruh
negeri. Kemudian orang-orang yang tak mengenal rasa syukur memohon pengampunannya.Viracocha
menerima dan memadamkan api itu hanya dengan satu gerak isyarat. Viracocha meneruskan
perjalanannya,memberikan instruksi-instruksi,dan nase hat-nasehat. Sebagai hasil dari kunjungan dan
instruksinya itu, banyak kuil yang didirikan baginya. Akhirnya di pantai profinsi Manta ia mengucapkan selamat
tinggal dan menghilang dengan mengendarai gelombang-gelombang di atas samudra, tetapi bermaksud akan
kembali lagi suatu waktu.
Para pemenang perang dari Spanyol, yang menaklukkan Amerika Tengah dan Selatan mendengar hikayat
Viracocha itu di setiap daerah yang ditaklukkannya di mana sebelumnya mereka tak pernah mendengar
ceritera tentang orang-orang kulit putih bertubuh raksasa yang datang dari suatu tempat di udara. Cukup
mengherankan, mereka belajar mengenal suatu ras keturunan matahari yang mengajar segala jenis seni
kepada umat manusia dan kemudian lenyap kembali. Dalam segala hikayat yang pernah didengar orang-orang
Spanyol, ada kepastian bahwa putera-putera matahari ini akan datang kembali. Sekalipun benua Amerika itu
tempat kebudayaan purbakala, namun pengetahuan kita ten tang Amerika hanya sampai 1000 tahun ke
belakang. Bagi kita masih tetap merupakan suatu rahasia, mengapa pada tahun 3000 sebelum masehi orangorang
Inca menanam kapas di Peru, padahal mereka tidak mempunyai perkakas tenun dan tidak mengetahui
teknik
bertenun. Orang Maya membuat jalan, tetapi tidak pernah menggunakan kendaraan beroda sekalipun
mereka
mengetahui bagaimana membuatnya. Kalung lima untai dari permata hijau yang fantastis itu, yang
terdapat dalam piramida pusara dari Tikal di Guatemala itu pun merupakan sesuatu yang ajaib. Disebut ajaib
karena permatanya berasal dari negeri Cina. Patung-patung dari Olmec pun luar biasa. Patung-patung yang
kepalanya berhelm indah itu, hanya dapat di kagumi di tempat mana dia ditemukan; karena beratnya luar
biasa, tak akan ada satu jembatan pun yang dapat menahannya dalam pengangkutan patung itu ke salah satu
musium. Kita hanya dapat mengangkat monolit-monolit kecil yang beratnya hanya lima puluh ton atau kurang,
itupun harus dengan alat-alat angkat dan angkutan yang paling mutakhir. Alat-alat teknik yang kita miliki
sekarang ini akan berantakan bila digunakan untuk mengangkat dan mengangkut muatan yang beratnya
ratusan ton seperti patung-patung itu. Tetapi nenek-moyang kita dapat mengangkut dan mengukir batu-batu
itu. Bagaimana ya? Malah nampaknya seolah-olah orang purbakala itu gemar sekali menyulap patung raksasa
itu melintasi bukit dan lembah. Orang-orang Mesir purbakala mengambil batu tugunya dari Aswan, para arsitek
dari Stonehenge mengambil balok-balok batunya dari Wales dan Malborough, tukang batu dari pulau Easter
mengambil batu untuk patung-patung raksasanya dari tambang galian yang jauh dari tempatnya sekarang.
Tiada seorang pun sekarang mengetahui dari mana asalnya sebagian dari monolit-monolit di Tiahuanaco.
Nenek moyang kita itu tentunya orang-orang aneh. Mereka senang sekali membuat barang-barang yang bagi
mereka sendiri sukar. Mereka selalu mendirikan patung di tempat-tempat yang paling sulit baginya. Apakah
mereka menyukai kehidupan yang berat? Saya tidak percaya bahwa para artis dari masa silam kita pernah
berbuat sebodoh itu. Sebenarnya mereka dapat dengan mudah mendirikan patung dan kuil-kuil itu di dekat
tambang galian batunya, jika tradisi kuno tidak mengharuskan mendirikannya di tempat yang patut untuk itu.
Juga saya yakin bahwa benteng orang-orang Inca di Sacsakuaman yang dibangun di atas Cuqqo, tidak
secara kebetulan, melainkan karena tradisi mereka menentukan bahwa tempat itu merupakan tempat suci.
Saya juga yakin bahwa di tempat mana ditemukan bangunan monumen yang paling kuno, di sana akan
terdapat peninggalan peninggalan paling menarik dan paling penting; belum terjamah, ada di bawah tanah;
yakni peninggalan yang mungkin penting sekali bagi kelanjutan perkembangan dalam bidang penerbangan
ruang angkasa masa kini. Angkasawan-angkasawan yang tak di kenal itu pasti berpandangan lebih jauh
daripada kita sekarang. Mereka yakin bahwa pada suatu waktu orang akan terbang menuju alam semesta atas
inisitatifnya sendiri dan menggunakan kemahirannya sendiri. Adalah suatu fakta sejarah yang sudah diketahui
umum, bahwa para cendekiawan kita selalu mencari orang-orang yang mempunyai perhatian yang sama,
mencari rekan sesama cendekiawan di dalam kosmos. Pemancar-pemancar masa kini sudah mulai
mengirimkan pulsa-pulsa radio pertama kepada cendekiawan yang belum kita kenal. Kita masih belum
mengetahui kapan kita mendapat jawaban; sepuluh, limabelas atau serutus tahun lagi. Bahkan kita tidak
mengetahui ke bintang mana harus kita tujukan pesan kita itu, karena kita tidak mengetahui planet mana yang
paling banyak menaruh perhatian kepada kita. Di manakah isyarat-isyarat kita itu akan diterima oleh
cendekiawan yang serupa dengan manusia? Kita tidak tahu, Namun demikian banyak hal yang memperkuat
dugaan kita bahwa informasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kita ada di bumi kita sendiri. Kita sedang
berusaha sekuat tenaga untuk menetralisir daya gravitasi. Kita sedang membuat eksperimen dengan partikelpartikel
elementer dan Antimatter. Apakah kita telah cukup banyak berbuat untuk menemukan data yang
terpendam
dalam bu mi kita, sehingga kita akhirnya dapat menentukan tanah asal kita ? Kalau kita perhatikan
segala
sesuatu itu dengan sungguh-sungguh, banyak hal yang dulu sulit cocoknya dengan mosaik masa
lampau
kita itu; sekarang malah menjadi masuk akal. Bukan saja petunjuk-petunjuk yang relevan dalam
naskah-naskah
purbakala, melainkan juga “fakta-fakta
kuat”
yang terdapat di seluruh pelosok bumi membuka
dirinya
terhadap pandangan kritis. Akhirnya, kita mempunyai alasan untuk berpendapat demikian. Oleh karena
itu,
wawasan manusia itu akhirnya menyadari bahwa dasar kebenaran eksistensinya sampai sekarang dan
segala
perjuangannya untuk maju benar-benar harus belajar dari masa silam supaya ia dapat menyiapkan diri
untuk
mengadakan hubungan dengan eksistensi di ruang angkasa. Sekali hal itu terjadi, maka individualis
yang
paling cerdik dan paling tangguh harus mengerti bahwa segenap tugas umat manusia itu ialah me
nempati
alam semesta, dan segenap tugas rokhaniah manusia terletak dalam pengabdian dari seluruh
usahanya
dan pengalaman praktisnya. Dengan demikian, janji para “dewa”
bahwa damai di bumi dan bahwa
jalan
ke sorga terbulka, dapat menjadi kenyataan. Apabila wewenang kekuasaan dan intelek yang ada
diabdikan
kepada penyelidikan ruang angkasa, maka hasil-hasilnya akan membuat kemustahilan perang di
bumi
menjadi terang. Apabila semua ras, semua orang, semua bangsa bersatu dalam tugas supranasional,
yakni
untuk membuat perjalanan ke planet-planet yang jauh menjadi teknis yang dapat dilaksanakan, maka
bumi
ini dengan segala problema-problema mininya akan kembali ke dalam hubungannya yang benar dengan
proses-proses
kosmis. Para akhli ilmu gaib boleh mematikan lampu gaibnya, para alkemi boleh
menghancurkan
cawan-cawannya, perhimpunan-perhimpunan persaudaraan rahasia boleh mencopot topitopinya.
Sekarang sudah tidak mungkin lagi untuk mengibuli orang-orang yang sudah bertahun-tahun
dibohongi
Sekali alam semesta membuka pintunya, kita akan mendapat masa depan yang lebih baik. Saya
mendasarkan
alasan saya untuk meragukan interpretasi tentang masa silam kita yang jauh pada pengetahuan
yang
telah ada sekarang. Jika saya mengakui bahwa saya skeptis atau ragu-ragu, maka yang saya
maksudkan
dengan kata skeptis itu ialah seperti yang diartikan oleh Thomas Mawn dalam ceramahnya pada
tahun
dua puluhan: “Hal
yang positif tentang skeptis ialah, bahwa ia menganggap segala sesuatu mungkin !”.
KEGAIBAN AMERIKA SELATAN DAN KEANEHAN LAINNYA
Sekalipun telah saya tekankan bahwa bukanlah maksud saya untuk mempertanyakan sejarah umat manusia
selama 2000 tahun terakhir, namun saya mengira bahwa dewa-dewa Yunani dan Romawi serta kebanyakan
tokoh-tokoh lain dalam hikayat dan dongeng juga diliputi oleh suasana masa silam yang sangat jauh. Tradisi
hidup di antara berbagai bangsa, karena adanya umat manusia, kebudayaan yang paling akhirpun juga
memberikan tanda-tanda yang menunjuk ke masa silam yang jauh. Reruntuhan dalam hutan-hutan Guatemala
dan Yukatan dapat di perbandingkan dengan bangunan-bangunan raksasa di Mesir.
Areal tanah di mana piramida Cholula berdiri 60 mil dari ibu kota Mexico sebelah Selatan, luasnya lebih besar
dari pada areal tanah tempat berdirinya piramida Chops.Lapangan piramida di Teotikuacan,25 mil di sebelah
Utara MexicoCity, meliputi areal seluas hampir 8 mil persegi, sedangkan bangunan-bangunannya diluruskan
menurut garis bintang-bintang. Naskah tertua mengenai Teotikuacan menyatakan bahwa para dewa
berkumpul di sini dan membentuk dewan perencana tentang manusia, bahkan sebelum homo sapiens ada.
Kalender orang-orang Maya kalender yang paling tepat di dunia demikian pula rumus Venus, yang telah
disebut di depan sekarang telah dibuktikan bahwa semua bangunan purbakala di Chi chen Ptza, Tikal, Copan
dan Palequa telah didirikan menurut kalender yang mengagumkan itu.Orang Maya mendirikan piramida bukan
karena membutuhkan nya. Mereka mendirikan kuil-kuil bukan karena membutuhkannya. Mereka mendirikan
piramida dan kuil karena kalender mereka menetapkan bahwa sejumlah tertentu anak tangga dari sesuatu
bangunan harus diselesaikan pembuatannya tiap 52 tahun sekali. Tiap batu ada hubungannya dengan
kalender. Setiap bangunan yang telah selesai sesuai benar dengan syarat-syarat astronomis tertentu. Tetapi
sesuatu yang mutlak tidak masuk akal telah terjadi kira-kira tahun 600 setelah masehi. Sekonyong-konyong
tanpa alasan yang nyata seluruh penduduk meninggalkan kota-kota yang telah mereka bangun dengan susah
payah; yang kaya akan kuil-kuil dan piramida yang artistik, taman-taman yang dihiasi dengan patung-patung
dan Stadion-stadion yang sangat mengesankan. Bangunan dan jalan lambat laun tertutup oleh hutan belukar,
pertukangan batu bubar, segala sesuatu hanya tinggal reruntuhan dan padang-padang luas. Tak ada seorang
pendudukpun yang kembali.
Mari kita misalkan saja perpindahan penduduk secara besar-besaran itu terjadi di Mesir. Rakyat di sana selama
sekian generasi telah membangun kuil-kuil dan piramida, kota-kota, saluran-saluran air, dan jalan-jalan
menurut janji dalam kalender. Patung-patung yang sangat bagus dipahat dengan susah payah dari batu
dengan alat-alat yang primitif lalu dipasang pada bangunan-bangunan yang mentereng. Setelah pekerjaan
yang memakan waktu jutaan tahun itu selesai, mereka tinggalkan begitu saja, lalu pindah ke utara daerah yang
tandus. Perjalanan sejarah demikian itu agaknya kurang masuk di akal, karena dianggap gila. Semakin tidak
dapat difahami suatu prosedur, semakin banyak hal yang samar-samar dan semakin banyak pula percobaanpercobaan
untuk menginterpretasikan. Dugaan pertama yang dikemukakan ialah bahwa orang Maya itu diusir
oleh
orang-orang asing yang menyerbu negerinya. Tetapi siapa yang dapat mengalahkan orang Maya yang
sedang
ada di puncak kejayaan peradaban dan kebudayaannya?. Tak pernah ditemukan tanda-tanda bekas
adanya
konfrontasi militer. Dugaan bahwa perpindahan itu disebabkan oleh perubahan iklim yang terlalu jauh,
masih
dapat dipertimbangkan.Tetapi untuk dugaan
inipun tidak terdapat tanda-tanda yang dapat memperkuatnya. Jarak lurus yang ditempuh oleh orang-orang
Maya dari negeri lamanya ke perbatasan negeri barunya hanya 220 mil saja. Suatu jarak yang tidak cukup jauh
untuk menghindari malapetaka yang disebabkan oleh perubahan iklim. Keterangan bahwa orang-orang Maya
pindah ke sana karena di
amuk oleh wabah penyakit yang mengganas, harus pula diteliti secara serius. Selain itu kenyataan bahwa
keterangan ini bukan satu-satunya yang diajukan, buktinyapun tidak dapat sama sekali. Apakah ada
pertempuran di antara generasi-generasinya? Apakah kaum mudanya memberontak terhadap kaum tua ?
Apakah ada perang saudara atau revolusi? Kalau kita pilih satu di antara kedua kemungkinan itu, maka yang
menyingkirkan diri tentunya hanya yang kalah saja, sedangkan para pemenang dalam perang saudara atau
revolusi itu tentunya akan tetap tinggal di negeri lama. Penyelidikan di tempat-tempat arkeologis, menunjukkan
bahwa tidak seorang pun dari orang Maya yang tinggal menetap di tempat kediaman lamanya. Segenap
penduduk sekonyong-konyong berimigrasi meninggalkan tempat-tempat suci mereka dan membiarkannya tak
terurus menjadi hutan.
Saya ingin sekali menambahkan satu nada kepada konser pendapat ini, yakni suatu teori yang pembuktiannya
tidak akan lebih banyak dari pada interpretasi lainnya, tetapi tanpa mengingat adanya kemungkinan penjelasan
lain. Saya memberanikan diri untuk menyampaikan suatu sumbangan yang berani tetapi dengan penuh
keyakinan. Pada suatu waktu, jauh di masa silam para nenek moyang orang Maya dikunjungi oleh para “dewa”
yang saya duga para angkasawan, atau wisatawan ruang angkasa. Misalkan saja bahwa para nenek moyang
orang Amerika yang sudah berkebudayaan datang berimigrasi ke sana dari Timur purbakala. Terhadap asumsi
ini terdapat faktor-faktor yang memperkuatnya.
Di negeri orang Maya terdapat tradisi suci yang ditaati dengan patuh, tentang astronomi, tentang metematika,
dan tentang kalender. Para pendeta menjaga ketaatan setiap orang kepada tradisi, karena para “dewa” berjanji
bahwa suatu waktu mereka akan datang kembali. Mereka menciptakan suatu agama baru yang agung, agama
Kukulkan, yakni agama Ular Berbulu. Menurut tradisi kependetaan, para “dewa” akan datang kembali apabila
bangunan-bangunan besar telah selesai dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam siklus kalender.
Karena itu rakyat bergegas-gegas menyelesaikan kuil-kuil dan piramida sesuai dengan irama suci ini, karena
tahun penyelesaian itu diduga akan merupakan tahun kegembiraan. Di saat itu dewa Kukulkan akan datang
dari bintang-bintang untuk menguasai bangunan-bangunan, dan sejak saat itu hidup di antara umat manusia.
Pekerjaan telah selesai, tahun kedatangan para dewa diumumkan secara meluas, tetapi tidak terjadi apa-apa.
Rakyat menyanyi, bersembahyang, dan menanti sepanjang tahun. Budak belian, permata, padi-padian dan
minyak nabati dikurbankan, tetapi sia-sia. Sorga tetap bungkam dan bisu seribu bahasa. Tak ada kereta
perang sorga datang; tak ada terdengar suara guruh maupun guntur. Tak ada terjadi apa-apa, sama sekali
tidak ada apa apa. Bayangkan betapa kekecewaan para pendeta dan rakyat bila kemungkinan di ataslah yang
kita ambil sebagai hipotesa. Pekerjaan yang telah dikerjakan berabad-abad hanya sia-sia saja jadinya. Maka
timbullah keragu-raguan; Apakah ada kekeliruan perhitungan dalam kalender? Apakah para “dewa” mendarat
di tempat lain? Apakah mereka bersama-sama telah berbuat keliru?. Saya kira tahun mistik orang-orang Maya
itu, yakni permulaan kalender mereka terjadi tahun 3111 sebelum masehi. Bukti tentang ini terdapat dalam
tulisan-tulisan orang Maya. Kalau kita terima ini sebagai bukti maka antara tanggal ini dan permulaan
kebudayaan Mesir hanya akan terdapat gap beberapa ratus tahun saja. Abad atau zaman dongeng ini
agaknya asli, karena kalender Maya yang supercermat itu menyebutkan berulang-ulang. Kalau memang
demikian, kalender dan perpindahan sesuatu bangsa secara besar-besaran itu, bukanlah satu-satunya hal
yang membuat saya skeptis, karena penemuan-penemuan barupun mulai menampilkan keraguan. Dalam
tahun 1935, di Palenque telah ditemukan suatu relief yang barangkali melukiskan dewa Kukumatz yang di
Yucatan disebut Kukulkan. Kalau kita perhatikan relief ini secara jujur dan tanpa prasangka, lukisan ini malah
membuat kita lebih skeptis lagi. Relief itu melukiskan seorang manusia yang sedang membungkuk ke depan
seperti pembalap motor. Sekarang tiap anak akan menyebut kendaraannya, rocket. Kendaraan itu berbentuk
kerucut ke depan, kemudian ujungnya berubah menjadi lekukan-lekukan yang beralur, menyerupai lubang
pemasukan udara pada mesin jet, kemudian melebar ke belakang dan ekornya menyemburkan api.
Manusianya sendiri yang tampak seperti meringkuk itu dilukiskan seperti sedang menggerakkan alat-alat
kontrol yang tak kita kenal, sedangkan tumit kakinya seperti menempel pada semacam pedal. Pakaiannya
cocok; yakni celana pendek dengan ikat pinggang yang lebar, jacket dengan alat pembukanya yang modern
pada leher dan pita-pita yang pas sekali pada lengan dan kaki. Kalau kita bandingkan dengan gambar-gambar
serupa yang telah kita ketahui, kita akan kaget karena dalam gambar ini tidak terdapat tutup kepala yang rumit
itu. Yakni tutup kepala yang bergerigi, bertabung dan dengan sesuatu yang menyerupai antena. Angkasawan
kita yang satu di antaranya ialah yang digambarkan ini, tidak hanya membungkuk ke depan dengan tegang,
melainkan juga dengan mengamati aparat yang menggantung di depannya. Tempat duduk astronot yang ada
di depan itu, dipisahkan dari bagian belakang kendaraan oleh penopang-penopang. Di bagian belakang
terdapat kotak-kotak lingkaran, titik-titik dan spiral-spiral yang ditempatkan secara simetris. Apa yang kita
ketahui dari relief ini ? Tidak ada apa-apa ? Apakah segala sesuatu yang telah dihubung-hubungkan dengan
penerbangan ruang angkasa, hanya isapan jempol belaka?. Kalau relief batu dari Palenque ini dikeluarkan dari
rangkaian bukti-bukti, tentu harus diragukan integritas yang diberikan para sarjana atas penyelidikan pe
nemuan-penemuan yang belum ada itu. Bagaimana pun juga orang yang sedang menganalisa benda nyata, ia
tidak sedang melihat makhluk halus. Kalau kita lanjutkan pertanyaan kita maka kita dapat bertanya lebih lanjut:
Mengapa orang-orang Maya itu mendirikan kota mula-mula di hutan-hutan di tepi sungai atau di pantai ? Kota
Tikal misalnya terletak 109 mil jarak lurus dari teluk Honduras, 161 mil ke sebelah barat laut dari Teluk
Campeche, dan 236 mil jarak lurus ke sebelah utara dari Samudera Pasifik. Kenyataan bahwa orang-orang
Maya banyak mengetahui tentang laut, terbukti dari banyaknya terdapat benda-benda yang dibuat dari karang,
haremis dan kerang-kerang. Jadi mengapa lari ke hutan ? Mengapa mereka membuat waduk tempat
menampung air kalau mereka dapat bermukim di dekat air ? Di Tikal saja terdapat 13 kolam penampung air
dengan kapasitas 214.504 yard kubik. Mengapa mereka itu mutlak harus hidup, membangun, dan bekerja di
sini, bukan di tempat lain yang lebih “masuk akal ?”. Setelah bepergian jauh, orang-orang Maya yang kecewa
ini mendirikan kerajaan baru di Utara. Dan sekali lagi di sinipun mereka mendirikan kota-kota, kuil, piramida,
sesuai dengan peraturan yang terlebih dahulu ditetapkan dalam kalender. Sekedar untuk menunjukkan
kecermatan dari kalender Maya, di bawah ini tercantum jangka waktu yang mereka pergunakan:
20 kins = 1 uninal atau 20 hari. 18 uninal = 1 tun atau 360 hari. 20 tun = 1 katun atau 7.200 hari.
20 katun = 1 baktun atau 144.000 hari.
20 baktun = 1 pictun atau 2.880.000 hari.
20 pictun = 1 calabtun atau 56.600.000 hari. 20 calabtun=kinchiltun atau 1.152.000.000 hari 20 kinchiltun = 1
tautun atau 23.040.000.000 hari.
Anak tangga terbuat dari batu yang menjulang di atas hutan hijau itu, bukanlah satu-satu nya bangunan yang
dibuat berdasarkan kalender tersebut. Observatorium pun banyak dibangun atas dasar kalender itu.
Observatorium di Chichen merupakan bangunan bundar pertama dan tertua yang dibangun oleh orang-orang
Maya. Bahkan sekarang pun setelah dipugar, bangunan itu masih berbentuk observatorium. Bangunan yang
berbentuk lingkaran itu menjulang tinggi di atas hutan dengan tiga teras. Di tengah-tengahnya suatu tangga
berbentuk spiral melilit ke atas menuju pos pengamatan yang paling tinggi. Di dalam kubahnya terdapat loketloket
dan lubang-lubang yang diarahkan kepada bintang-bintang, sehingga memberikan gambaran cakrawala
yang
sangat mengesankan di malam hari. Dinding lingkaran luarnya berlukiskan topeng-topeng dewa hujan
dan
gambaran seorang  manusia bersayap. Memang diakui bahwa perhatian orang Maya kepada astronomi
bukanlah
motivasi yang cukup bagi hipotesa kita mengenai hubungannya dengan cendekiawan di planet lain.
Banyaknya
pertanyaan yang sampai sekarang belum terjawab sungguh membingungkan. Bagaimana orangorang
Maya mengetahui sesuatu tentang Uranas dan Neptune? Mengapa pos pengamat dalam observatorium
di
Chichen tidak diarahkan kepada bintang-bintang yang paling cemerlang? Apakah arti dari relief batu di
Pelenque
yang menggambarkan dewa sedang mengendarai rocket itu? Apa yang dimaksud oleh kalender
Maya
dengan perhitungan 400.000.000 tahun? Dari mana mereka mendapat pengetahuan yang diperlukan
untuk
menghitung tahun Surya dan tahun Venus sampai empat desimal? Siapakah yang memberikan
pengetahuan
pada mereka tentang astronomi yang tak dapat kita fahami itu? Apakah setiap fakta merupakan
produk
yang kebetulan dari intelek orang Maya atau apakah semua fakta menyembunyikan pesan revolusioner
bagi
masa depan yang masih jauh, dilihat dari segi waktu mereka ?
Kalau fakta-fakta itu kita saring seperti memisahkan beras dari sekam, maka kita akan melihat bahwa masih
terdapat banyak inkosistensi dan hal-hal yang menggelikan yang harus dijernihkan oleh penelitian untuk
memecahkan setidak-tidaknya beberapa persoalan dari yang begitu banyak itu. Karena itu penelitian zaman
sekarang tidak boleh merasa puas bila dihadapkan pada apa yang di sebut “kemustahilan “. Saya masih
mempunyai ceritera yang agak mengerikan, yakni cerita tentang sumur keramat di Chichen Ptza. Dari
lumpurnya yang berbau busuk itu, Eduard Herbert Thomson berhasil mengangkat permata, benda-benda hasil
seni dan juga tulang kerangka anak-anak remaja. Ditarik dari risalah-risalah kuno, Diegode Landa menyatakan
bahwa di musim kering panjang, para pendeta biasanya berziarah ke sumur itu untuk meredakan kemurkaan
dewa hujan dengan jalan melemparkan anak-anak remaja pria maupun perempuan ke dalam sumur sambil
mengadakan upacara khidmat. Penemuan Thomson itu membenarkan pernyataan De Landa. Suatu ceritera
yang amat mengerikan, suatu ceritera yang juga mengangkat lebih banyak lagi pertanyaan dari dasar sumur
itu. Bagaimana timbulnya lubang air ini? Mengapa sumur itu disebut sumur keramat ? Mengapa justru hanya
sumur ini yang disebut keramat, padahal di sana banyak sumur-sumur seperti itu. ? Sumur yang mirip dengan
sumur di Chichen itu juga ada tersembunyi di hutan, hanya 76 yard dari observatorium Maya. Sumur ini
berukuran sama dengan sumur “sebenarnya”. Di dalamnya banyak ular dan kelabang berbisa, dan seranggaserangga
yang suka menyengat. Pada dindingnya tumbuh tetumbuhan dengan lebatnya seperti di hutan itu
sendiri.
Kedua sumur ini hampir sama dalam segala halnya. Baik dalamnya, airnya, mau pun bentuk sumurnya
sama.
Warna airnya sama-sama berubah-ubah dari hijau ke coklat dan merah darah. Tak diragukan lagi
bahwa
kedua sumur itu sama tua dan mungkin penyebab terjadinya pun sama,yakni karena benturan dari
batu-batu
meteor. Sementara itu, para sarjana kontemporer, hanya berbicara tentang sumur keramat di
Chichen
Ptza. Sumur kedua yang begitu serupa dalam segala hal, tidak cocok dengan teori-teori mereka,
walau-
pun kedua sumur itu letaknya sama jauh dari puncak piramida terbesar yang disebut Castello, yakni
hanya
984 yard. Piramida ini milik dewa Kukulkan Ular Berbulu itu. Ular itu merupakan simbol hampir semua
bangunan
di Maya. Memang mengherankan, bila rakyat yang lingkungannya penuh dengan flora yang subur
dan
menjadi-jadi, dapat melupakan motif-motif bunga atau tumbuhan itu dalam lukisan-lukisan maupun relief
batu
yang diciptakannya. Ular yang menjijikkan itu akan kita temui di mana-mana. Sudah sejak zaman dahulu
kala
ular itu melata diatas debu dan kotoran tanah. Mengapa orang membayangkannya sebagai dapat
terbang?
Ular telah dikutuk supaya merayap, karena melambangkan kejahatan; demikian anggapan orang
purbakala.
Tetapi bagaimana makhluk yang menjijikkan ini sampai dipuja sebagai dewa dan dianggap bisa
terbang
segala? Menurut orang Maya, ular dapat terbang. Dewa Kukulkan barangkali sesuai dengan dewa
Questzalcoatl
yang datang belakangan. Apa yang dikatakan oleh dongeng orang Maya tentang Questzalcoatl
ini?
Ia datang dari negeri asing, negeri matahari terbit, ia berjenggot dan memakai jubah putih. Ia mengajarkan
segala
ilmu pengetahuan; seni, adat istiadat, dan hukum yang adil. Dikatakan bahwa di bawah pimpinannya
jagung
berbuah sebesar manusia, kapas masih di pohon sudah berwarna. Setelah missinya selesai,
Quetzalcoatl
pulang ke laut; mengajarkan ajaran-ajarannya dalam perjalanan, lalu naik kapal di tengah lautan.
Kapal
itu membawanya ke bintang fajar. Perlu saya tambahkan di sini sekalipun sangat membingungkan
bahwa
Quetzalcoatl pun menjanjikan akan datang kembali. Tentu saja tidak akan kekurangan keterangan
mengenai
wajah orang tua yang budiman ini. Ia juga dihubung-hubungkan dengan semacam tugas
keagamaan,
karena orang berjenggot amat jarang kalau tidak boleh dikatakan tak ada duanya digaris lintang
ini.
Bahkan ada suatu anggapan yang berani sekali bahwa Quetzalcoatl itu tak lain dari Isa sebelum nabi lsa. Ini
tidak
meyakinkan saya. Setiap orang dari zaman purbakala yang datang ke Maya, pasti akan melihat kereta
roda
untuk mengangkut orang dan barang. Dalam hal ini sudah tentu salah satu tindakan pertama dari
seorang
guru, seorang dewa seperti Quetzalcoatl ini, yang juga seorang pembawa missi, seorang kadi,
seorang
dokter, seorang penasehat dalam banyak aspek praktis dari kehidupan; ialah mengajarkan kepada
orang
orang Maya bagaimana menggunakan gerobak ini, tetapi kenyataannya orang Maya tak pernah menggunakannya.
Mari kita lengkapi kesimpang-siuran intelektuil ini dengan suatu ringkasan tentang keaneh-
anehan di masa silam yang samar-samar itu. Pada tahun 1900 para penyelam pencari Spons Yunani
menemukan rongsokan kapal di dasar laut di lepas pantai Antkythera, yang bermuatan patung-patung yang
terbuat dari pualam dan perunggu. Harta karun berupa karya seni patung ini, diangkat dan diselidiki. Hasil
penyelidikan menunjukkan bahwa kapal ini pasti tenggelam di sekitar zaman nabi Isa. Setelah barang-barang
rampasan itu dipilih, ternyata di antaranya terdapat suatu bongkah yang tak menentu bentuknya dan terbukti
jauh lebih penting dari pada patung-patung lainnya. Setelah diteliti lebih cermat, para akhli menemukan suatu
lembaran perunggu yang memuat tulisan-tulisan kuno, lingkaran-lingkaran, dan gambar-gambar roda gigi, di
dalam bongkah itu. Para akhli itu segera mengetahui bahwa tulisan-tulisan itu ada hubungannya dengan
astronomi. Setelah bagian-bagian lainnya dibersihkan, tampaklah suatu konstruksi aneh; yakni suatu mesin
biasa dengan jarum-jarum yang dapat digerakkan, skala-skala rumit, piringan-piringan dan pelat-pelat logam,
yang ada tulisannya. Mesin itu setelah bagian-bagiannya disusun kembali ternyata mempunyai lebih dari 20
roda-roda kecil, semacam roda diferensial, dan suatu roda kereta. Pada satu sisi terdapat suatu poros yang
kalau diputar dapat memutarkan seluruh piringan dengan kecepatan berputar yang berbeda-beda. Jarumjarum
terlindung oleh tutup dari perunggu yang di atasnya ada tulisan-tulisan panjang. Apakah dalam hal
“mesin
dari Antkythera “
ini ada keraguan bahwa mekanik presisi telah digunakan pula di zaman purbakala?
Selain
itu, mesin ini begitu rumit sehingga dapat diduga bahwa mesin tersebut bukan yang pertama kali dibuat.
Profesor
Solla Price, menerangkan bahwa mesin itu mungkin sejenis mesin hitung khusus untuk menghitung
gerak
bulan, matahari, dan mungkin planet-planet lain.
Tahun pembuatannya yang disebut tahun 82 sebelum masehi tidaklah penting. Yang penting ialah mencari
jawaban atas pertanyaan, siapakah yang membuat model pertama dari mesin planetarium mini ini? Kaisar
Frederik II dari Hohenstanfen, diduga telah membawa pulang sebuah tenda yang paling aneh dari Timur,
ketika ia kembali dari perjalanan perang salib dalam tahun 1299. Di dalam tenda itu berdiri sebuah motor jam.
Kita dapat melihat gerak bintang-bintang melalui celah atau lubang atap tenda yang berbentuk kubah. Sekali
lagi suatu planetarium di zaman kuno. Kita dapat membenarkan zaman adanya benda itu, karena kita
mengetahui bahwa pengetahuan mekanik yang diperlukan, memang sudah ada di zaman itu. Dugaan bahwa
sebelumnya telah ada pula planetarium, kita tolak, karena di zaman Yesus Kristus belum ada konsepsi langit
dengan bintang-bintang tetap dilihat dari bumi yang berputar. Bahkan akhli-akhli astronomi Cina dan Arab yang
berpengetahuan luas pun tak dapat menolong kita untuk mengenal fakta yang tak dapat difahami ini, dan
memang tak dapat disangkal bahwa Galileo Galilei baru dilahirkan 1.500 tahun kemudian. Jika anda pergi ke
Athena jangan sampai tidak melihat “mesin” dari Antkythera ini,yang dapat dilihat di musium Arkeologi
Nasional. Tentang planetarium tenda Frederik II, kita hanya mempunyai laporan tertulis. Berikut ini beberapa
hal lagi yang aneh-aneh yang diwariskan kepada kita dari zaman purbakala. Suatu sketsa tentang binatang
yang 10.000 tahun yang lalu mungkin tak pernah ada di Amerika Selatan, yakni unta dan singa; digambarkan
terdapat di atas batu karang di dataran tinggi padang pasir Marcahuasi 12.500 kaki di atas permukaan laut. Di
Turkestan para insinyur menemukan benda-benda berbentuk setengah bulat terbuat dari beling atau tembikar.
Asal-usul serta keperluannya, tak dapat diterangkan oleh para arkeologi. Di lembah kematian di Gurun Pasir
Nevada, terdapat reruntuhan sebuah kota purbakala yang diduga telah  dihancurkan oleh malapetaka yang
dahsyat. Bahkan sekarang pun masih terlihat bekas-bekas batu yang meleleh. Panasnya letusan gunung
berapi tak mungkin cukup untuk melebur batu karang. Selain dari itu, panas letusan itu pasti terlebih dahulu
menghanguskan bangunan-bangunan. Sekarang hanya sinar laser yang mampu menghasilkan panas yang
diperlukan untuk itu. Sungguh aneh, tak selembar rumputpun dapat tumbuh di sini. Hadjat El Gulblle, yang
berarti Batu dari Selatan, di Lebanon beratnya lebih dari 2.000.000 pon. Batu-batu itu dihias, tetapi tangan
manusia tak mungkin pernah menggeser atau memindahkannya ke sana. Di Australia, di Peru, di Italia
Pegunungan, terdapat gambar-gambar artistik pada permukaan batu karang di tempat-tempat yang mustahil
bisa dicapai oleh manusia. Naskah tertulis pada piagam-piagam yang terbuat dari emas ditemukan di Ur,
Chaldea, menunjukkan bahwa ada “dewa” yang menyerupai manusia yang datang dari langit, yang
menghadiahkan piagam-piagam itu kepada para pendeta. Di Australia, Perancis, India, Lebanon, Afrika
Selatan dan Chili, terdapat “batu” hitam aneh yang banyak mengandung aluminium dan berylium. Penelitian
terakhir menyimpulkan bahwa batu-batu ini pasti telah pernah terkena oleh bom bardemen radio aktif dan
radiasi panas yang tinggi sekali di masa silam yang jauh. Lembaran sejarah bertulisan kuno di Sumeria
menunjukkan bintang-bintang tetap dengan planet-planetnya.
Di Rusia para arkeologis menemukan relief dari kapal angkasa yang terdiri dari sepuluh bola yang disesuaikan
dalam satu barisan yang berbentuk siku-siku, dan kedua sisinya didukung oleh pilar-pilar besar. Bola-bola itu
tersusun di atas pilar-pilar tadi. Dari penemuan-penemuan lain di Rusia, juga terdapat suatu patung kecil yang
terbuat dari perunggu. Patung itu menggambarkan satu makhluk jenis manusia yang berpakaian tebal, yang
lehernya bersambung rapat sekali dengan helm. Sepatu dan sarung tangannya pun tersambung demikian
ketat dengan pakaian seragam itu. Dalam Musium Britania, pengunjung dapat membaca hari-hari terjadinya
gerhana bulan yang telah terjadi maupun yang akan datang pada lembaran sejarah Babylonia. De Kunming
ibu kota propinsi Yunan di Cina, ditemukan pahatan atau ukiran-ukiran yang menggambarkan suatu mesin
berbalut silinder dan menyerupai roket yang sedang meluncur ke udara. Pahatan itu terdapat pada piramida
yang sekonyong-konyong muncul dari dasar Danau Kunming ketika terjadi gempa bumi hebat. Bagaimana
menjelaskan teka-teki ini dan lain-lainnya?. Kalau orang mencoba menolak tradisi lama seluruhnya dan
menyatakan sebagai palsu, menggelikan, tak mempunyai arti apa-apa, dan tidak relevan; itu hanyalah untuk
mengelak dari issue itu sendiri. Sama-sama tidak berasalan pula; jika semua yang telah dikatakan dan
dilakukan itu dianggap tidak cermat, tetapi kemudian menggunakannya lagi apabila kebetulan ada yang cocok
dengan maksud seseorang. Saya kira kelakuan mencegah orang yang mau melihat dan mendengar fakta atau
hipotesa, hanya karena mengkhawatirkan bahwa kesimpulan baru itu akan menarik para pendukung pola
pemikiran yangsudah terkenal, adalah suatu perbuatan pengecut. Pemberian ilham terjadi tiap jam dan tiap
hari di seluruh dunia. Alat-alat komunikasi modern terus menyebarkan penemuan-penemuan ke seluruh dunia.
Para sarjana dari segala bidang harus minta keterangan tentang suatu laporan mengenai masa silam, dengan
antuasiasme dan kreatifitas yang sama seperti yang mereka curahkan pada penyelidikan kontemporer.
Petualangan penemuan masa silam itu telah menyelesaikan tahap pertama nya. Sekarang petualangan kedua
yang mengasyikkan mengenai sejarah umat manusia dimulai dengan perjalanan manusia ke dalam kosmos.
PENGALAMAN BUMI DALAM RUANG ANGKASA
Pertanyaan, apakah penerbangan ruang angkasa mempunyai arti bagi manusia, masih belum lenyap dari
forum diskusi. Ketiadaan arti, baik sebagian maupun keseluruhan dari penyelidikan mungkin telah dibuktikan
oleh penetapan picik; dengan maksud supaya manusia jangan dulu mengutak-atik alam semesta kalau di bumi
sendiri masih terdapat banyak persoalan yang belum terpecahkan. Karena saya sama sekali tidak ingin
memasuki bidang ilmiah di mana masih banyak perbedaan pendapat yang tidak difahami oleh orang-orang
awam, maka saya hanya akan mengemukakan alasan-alasan yang nyata dan benar saja untuk menjelaskan
bahwa penyelidikan ruang angkasa mutlak perlu. Sudah sejak dahulu kala, keingintahuan dan kehausan akan
ilmu pengetahuan selalu mendorong manusia untuk terus-menerus mengadakan penyelidikan “Mengapa itu
terjadi?” dan “Bagaimana itu terjadi?”, adalah merupakan pertanyaan-pertanyaan yang selalu menjadi cambuk
bagi pengembangan dan kemajuan. Taraf penghidupan kita sekarang adalah hasil dari keresahan yang di
timbulkan oleh kedua pertanyaan itu. Alat-alat transport modern yang nyaman telah menyingkirkan segala
kesulitan perjalanan yang dahulu harus dialami nenek moyang kita. Pekerjaan kasar yang dulu harus
dikerjakan dengan tangan, sudah banyak yang dikerjakan dengan mesin. Sumber-sumber energi baru,
preparat-preparat kimiawi lemari es, berbagai alat rumah tangga dan lain-lain, telah membebaskan kita dari
pekerjaan-pekerjaan yang dulu hanya bisa dikerjakan dengan tangan. Ilmu pengetahuan telah menjadi teman
yang menguntungkan bagi manusia, bukan teman yang durhaka. Bahkan pengetahuan mutakhir yang
mengerikan itu yakni bom atom akan sangat bermanfaat bagi manusia. Sekarang banyak sekali ilmu
pengetahuan yang cepat mencapai tujuannya. Dahulu photography membutuhkan waktu 112 tahun untuk
dapat menghasilkan gambar yang cerah seperti sekarang. Tilpon baru siap untuk dipergunakan setelah 56
tahun. Radio memerlukan penyelidikan ilmiah selama 35 tahun, untuk mencapai taraf penerimaan yang
sempurna. Tetapi penyempurnaan radar hanya membutuhkan waktu 15 tahun. Tahap-ta hap penemuan dan
pengembangan yang membuka zaman baru, semakin lama semakin pendek. Televisi hitam putih sudah dapat
memperlihatkan gambar di layarnya setelah diadakan penelitian 12 tahun, sedangkan pemanfaatan tenaga
nuklir dalam bom atom hanya membutuhkan waktu 6 tahun. Semua ini merupakan contoh-contoh dari
kemajuan teknik selama 50 tahun terakhir. Hebat dan bahkan sedikit mengerikan! Perkembangan akan terus
semakin cepat mencapai tujuannya. Dalam waktu seratus tahun mendatang, sebagian besar dari impian
manusia akan menjadi kenyataan. Manusia dalam menempuh perjalanan hidupnya selalu menghadapi
perlawanan dan peringatan. Tanpa menghiraukan pepatah kuno yang mengatakan bahwa air tempat hidup
ikan dan udara tempat hidup burung, manusia akan menaklukkan kawasan-kawasan yang mungkin bukan
tersedia baginya. Manusia terbang dengan melawan apa yang disebut hukum alam. Ia hidup berbulan-bulan di
bawah permukaan air dalam kapal-kapal selam bertenaga nuklir. Sayap dan insang yang oleh pencipta
manusia sendiri tak pernah dibuatkan, telah dibuat sendiri oleh manusia dengan segala kecerdasannya. Ketika
Charles Linbergh memulai penerbangan dongengnya yang bertujuan ke Paris, jelas sekali bahwa sebenarnya
ia tidak begitu perlu pergi ke Paris. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa manusia mampu terbang sendirian
pergi ke Paris. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa manusia mampu terbang sendirian menyeberangi
samudera Atlantik dengan aman. Tujuan pertama dari penerbangan ruang angkasa luar ialah bulan. Tetapi
yang diinginkan oleh proyek baru ilmiah dan teknik ialah membuktikan bahwa manusia juga mampu
menguasai ruang angkasa. Jadi, untuk apa penerbangan ruang angkasa itu? Hanya dalam beberapa ratus
tahun lagi bumi kita ini sudah akan kelebihan penduduk. Menurut perhitungan statistik, jumlah penduduk dunia
dalam tahun 2050 sudah akan menjadi 87 milyard orang berarti 335 orang tiap kilometer persegi. Berat juga
memikirkannya. Obat penenang berupa teori-teori tentang bahan pangan dari laut atau mendirikan kota-kota di
bawah permukaan laut, akan terbukti tidak cukup ampuh untuk dapat mengimbangi ledakan penduduk yang
lebih cepat dari pada dugaan para pendukung teori itu. Sekretaris Jenderal PBB U Than menaksir jumlah
anak-anak di India yang terancam mati kelaparan ada sekitar 2.000.000 orang. Ini cocok dengan pendapat Dr.
Herman Mohler dari Zurich, bahwa kelaparan sedang mencekam dunia. Telah terbukti, bahwa produksi
pangan sedunia tidak dapat mengimbangi laju pertumbuhan penduduk, sekalipun teknik dan pemupukan
secara besar-besaran sudah diterapkan. Untung ada bahan-bahan kotrasepsi kimiawi yang dapat
menghambat kelahiran. Tetapi apa gunanya semua itu kalau kaum wanita tidak mau menggunakannya?
Produksi pangan hanya akan seimbang dengan kenaikan jumlah penduduk, jika ada kemungkinan untuk
menekan angka kelahiran menjadi separoh dalam tempo sepuluh tahun mendatang yakni sampai tahun 1980.
Sayang sekali saya tidak begitu percaya kepada cara pemecahan yang rasionil ini, karena “nada perintang”
berupa prasangka buruk yang seolah-olah berdasarkan norma agama tidak dapat ditembus secepat
datangnya malapetaka yang mungkin ditimbulkan oleh pertumbuhan penduduk yang tidak terkendalikan.
Apakah dengan membiarkan jutaan orang mati kelaparan dari tahun ke tahun, lebih manusiawi dan lebih
berdasarkan ketuhanan dari pada menahan kelahiran makhluk-makhluk lemah? Namun sekalipun misalnya
suatu waktu pembatasan kelahiran berhasil dengan baik, sekalipun areal-areal pertanian diperluas dan
panenan dilipatgandakan dengan cara yang sampai sekarang belum diketahui entah bagaimana, sekalipun
perikanan menghasilkan lebih banyak pangan, sekali pun ladang-ladang rumput laut di dasar samudera
menghasilkan lebih banyak pangan bergizi tinggi; misalnya semua itu dan lain-lain hal dapat terjadi, itu hanya
akan menangguhkan atau mengulur waktu datangnya malapetaka kira-kira seratus tahun lagi. Saya yakin,
bahwa suatu waktu manusia akan bermukim di planet mars dan akan dapat menyesuaikan diri dengan
keadaan setempat seperti yang mungkin dilakukan oleh orang-orang Eskimo kalau mereka dipindahkan ke
Mesir. Planet-planet yang dicapai oleh kapal-kapal ruang angkasa raksasa akan ditempati oleh cucu-cucu kita.
Mereka akan berkoloni di sana, persis seperti Amerika dan Australia yang dulu pernah dikolonisasikan. Itu
sebabnya maka kita harus benar-benar menekankan penyelidikan ruang angkasa itu. Kita harus mewariskan
kesempatan hidup ke
pada anak cucu kita. Setiap generasi yang melalaikan tugas ini berarti menjerumuskan seluruh umat manusia
pada kematian karena kelaparan pada suatu waktu di masa mendatang. Sekarang, masalah penyelidikan
abstrak yang hanya merupakan kepentingan para sarjana saja, bukan zamannya lagi. Perkenankanlah saya
memberikan kesan kepada siapa saja yang tidak merasa bertanggung jawab atas masa depan umat manusia,
bahkan hasil dari penyelidikan ruang angkasa telah menghindarkan bumi dari perang dunia ketiga. Bukankah
rasa takut akan kehancuran total dari dunia telah berhasil mencegah negara-negara besar untuk
menyelesaikan pertikaian mereka dengan perang secara besar-besaran? Sekarang tak perlu seorang pun dari
tentara Rusia mendarat di Amerika untuk menyulap Amerika Serikat menjadi padang pasir. Sebaliknya tak
perlu seorang pun dari tentara Amerika Serikat harus mati di tanah Rusia disebabkan oleh radio aktifitas tanah
yang terkena serangan bom atom. Barang kali menggelikan kedengarannya, kalau dikatakan bahwa peluru
kendali antar benualah yang pertama menjamin adanya perdamaian relatif.
Kadang-kadang orang berpendapat bahwa uang bermilyar-milyar dollar lebih baik dipakai membantu negaranegara
yang belum berkembang dari pada dipakai untuk membiayai penyelidikan ruang angkasa. Anggapan
ini
tidak benar. Negara-negara industri dalam membantu negara-negara terbelakang, bukan semata-mata
sebagai
derma atau sumbangan cuma-cuma atau karena alasan-alasan politik. Mereka juga ingin membuka
pasar-pasar
baru bagi hasil industrinya. Dilihat dari segi jangka panjang bantuan yang dibutuhkan negaranegara
yang belum berkembang, maka tujuan pemberian bantuan itu sendiri tidak relevan. Di India terdapat
kira-kira
1,6 milyar tikus yang masing-masing memakan 10 pon pangan setiap tahunnya. Tetapi negara tidak
berani
membasmi orang India yang beriman wajib melindungi tikus. India juga memiliki 80.000.000 lembu
biasa,
bukan sapi perah. Sapi-sapi itu tak boleh pula dijadikan hewan penarik kereta, dan tak boleh dipotong.
Bagi
negara terbelakang yang kemajuannya terhalang oleh banyak tabu dan hukum akan dibutuhkan waktu
beberapa
generasi untuk menyingkirkan takhyul, kebiasaan-kebiasaan dan upacara yang sebenarnya
membahayakan
kehidupan. Dalam hal ini, alat-alat komunikasi zaman penerbangan ruang angkasa seperti;
surat
kabar, radio dan televisi juga menolong kemajuan dan meringankan beban. Dunia semakin menjadi
sempit.
Kita dapat lebih saling mengenal satu sama lain dan dapat belajar lebih banyak dari orang lain. Tetapi
untuk
sampai kepada kesadaran bahwa batas-batas antar bangsa-bangsa sudah ada di masa lampau, tentu
diperlukan
penerbangan ruang angkasa. Peningkatan teknologi akan menyebar luaskan kesadaran bahwa
betapa
kecilnya arti dari manusia dan benua di tengah-tengah alam semesta ini, dan akan menjadi pendorong
serta
perangsang terbentuknya kerja sama dalam penyelidikan ruang angkasa. Di setiap zaman, umat manusia
membutuhkan
suatu kata pemberi semangat supaya mampu muncul di atas segala permasalahan dan dapat
sampai
kepada kenyataan yang tampaknya seolah-olah mustahil dapat dicapai.
Suatu faktor besar yang memberikan argumentasi penting bagi penyelidikan ruang angkasa dalam zaman
industri ialah timbulnya cabang-cabang industri baru, di mana ratusan ribu buruh yang kehilangan pekerjaan
karena adanya otomatisasi bisa mendapat sumber penghidupan. Industri ruang angkasa telah mengalahkan
industri-industri mobil dan baja, dan sebagai pemimpin di pasar. Lebih dari 4.000 macam barang, eksistensinya
disebabkan oleh adanya penyelidikan ruang angkasa. Barang-barang itu sebenarnya merupakan hasil
sampingan dari penyelidikan untuk tujuan-tujuan yang lebih penting. Barang-barang hasil sampingan ini
sekarang sudah menjadi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa ada yang menanyakan dari mana asalnya. Mesin
hitung elektronik, pemancar mini, pesawat penerima mini, transistor dalam radio dan televisi; semuanya
ditemukan karena adanya penyelidikan. Demikian juga wajan penggoreng yang di dalamnya demikian licinnya
sehingga makanan tidak melekat. Instrumen-instrumen presisi dalam pesawat terbang, sistem pengawasan
daratan yang otomatis, kemudi-kemudi otomatis dan komputer-komputer yang berterbangan begitu cepat;
semuanya merupakan bagian dari penyelidikan ruang angkasa yang amat sulit, bagian dari program
pengembangan yang juga mempunyai efek pada kehidupan sehari-hari. Barang atau hal-hal yang tidak
difahami oleh orang awam banyak sekali jumlahnya, seperti proses pengelasan, proses pelumasan dalam
ruang yang sama sekali hampa udara, sel-sel photo elektris dan sumber-sumber energi mini yang dapat
dipakai untuk menempuh jarak yang tak terhingga jauhnya. Biaya yang diperoleh dari pajak, yang di masukkan
ke dalam biaya penyelidikan ruang angkasa, mengalir kembali dengan derasnya kepada para pembayar pajak
yaitu berupa investasi besar. Bangsa-bangsa yang tidak berpartisipasi sedikit pun dalam penyelidikan ruang
angkasa, akan digenangi oleh revolusi teknik. Sebutan-sebutan atau nama-nama seperti Telstar, Echo, Relay,
Trios, Mariner, Ranger dan Syncom, adalah merupakan papan penunjuk arah pada jalan yang ditempuh
penelitian yang sangat menarik itu. Sumber-sumber energi di bumi suatu waktu akan habis, Program
penerbangan ruang angkasa pun suatu waktu akan menjadi vital, karena kita memerlukan zat-zat nuklir dari
planet mars atau planet lain untuk penerangan kota dan untuk pemanasan rumah-rumah di musim dingin.
Oleh karena sekarang pusat-pusat tenaga atom itu sudah merupakan sumber energi termurah, maka masa
produksi industri akan tergantung kepada pusat-pusat tenaga ini apabila sumber energi bumi sudah habis.
Setiap hari kita akan dibanjiri hasil-hasil penelitian. Maka penerusan ilmu pengetahuan dari ayah kepada anak
yang dilakukan secara santai itu akan berakhir. Montir radio yang memperbaiki pesawat radio dengan
peralatan yang serba tombol pijit, harus banyak mengetahui tentang teknologi transistor dan tentang gambargambar
sirkuit yang rumit, yang biasanya dicetak pada lembaran-lembaran plastik itu. Tidak lama lagi ia akan
harus
menggunakan kemampuan komponen mikroelektris. Apa yang telah diajarkan kepada magang harus
segera
diisi dengan pengetahuan baru. Kalau seorang akhli di zaman nenek moyang kita benar-benar
menguasai
suatu keakhlian selama masa kehidupannya, pengetahuannya tidak bertambah; para akhli zaman
sekarang
dan masa mendatang harus terus-menerus menambah pengetahuannya dengan hal-hal yang baru.
Apa
yang ada dan baik sekarang, esok hari sudah menjadi usang. Walaupun umur matahari itu jutaan tahun,
namun
pada suatu waktu pasti akan padam juga. Dan bila saat itu tiba, malapetaka akan segera tiba sebelum
ada
negarawan sinting yang menggerakkan alat-alat penghancur bumi.
Suatu peristiwa kosmis yang tak terduga dan tak terperhitungkan, dapat mendatangkan keruntuhan total bagi
bumi. Belum ada orang yang sudah memikirkan kemungkinan itu. Mungkin inilah salah satu alasan bagi orang
yang ikhlas untuk mencari kehidupan akhirat atau kehidupan nirwana dalam salah satu dari sekian banyak
agama dan kepercayaan.
Menurut pendapat saya penelitian ruang angkasa bukan hasil pilihan bebas manusia,  melainkan suatu
kewajiban batin yang harus diikutinya, manakala ia meneliti proses masa depannya dalam alam semesta.
Persis sebagaimana telah saya nyatakan dalam hipotesa, bahwa kita pernah menerima kunjungan tamu dari
ruang angkasa, saya juga berasumsi bahwa kita ini bukanlah satu-satunya intelegensia yang ada dalam
kosmos . Ya, bahkan saya menduga bahwa dalam alam semesta ini ada yang lebih tua dan lebih maju dari
kita. Jika sekarang saya nyatakan pula bahwa semua intelegensia sedang melaksanakan penelitian ruang
angkasa menurut prakarsa masing-masing, maka sejenak, saya ini betul-betul sudah memasuki dunia khayal
alamiah, padahal saya menyadari sepenuhnya bahwa ini berarti sama dengan memasukkan kepala saya ke
dalam sarang tawon. “Piring Terbang” telah kelihatan di sana-sini, sekurang-kurangnya sudah sejak duapuluh
tahun yang lalu. Dalam buku-buku tentang piring terbang benda-benda itu disebut UFO, singkatan dari
Unidentified Flying Objects yang berarti benda-benda asing yang beterbangan. Tetapi sebelum saya
membicarakan UFO yang misterius dan mengasyikkan ini, saya ingin menyebut suatu argumentasi penting
yang digunakan orang tentang ruang angkasa.
Argumentasi itu mengatakan bahwa penelitian ruang angkasa itu tidak menguntungkan. Tak ada satu negara
betapapun kayanya, yang sanggup menyediakan uang untuk membiayainya tanpa mengambil risiko
kebangkrutan nasional. Memang penelitian itu sendiri tak pernah menguntungkan. Hasil yang menguntungkan
hanyalah investasi. Dan pada tahap sekarang, tidaklah layak mengharapkan keuntungan dan amortisasi dari
penelitian ruang angkasa ini. Di samping itu, belum pernah dibuat suatu neraca mengenai penerimaan 4.000
macam hasil sampingan dari penelitian ruang angkasa. Saya sendiri sama sekali tidak mempunyai keraguan,
bahwa penelitian ruang angkasa pasti akan memberikan keuntungan yang tak pernah diberikan oleh penelitian
lainnya, yang manapun juga. Kalau penelitian ruang angkasa ini telah mencapai tujuannya, ia bukan hanya
akan menguntungkan, melainkan juga akan menyelamatkan umat manusia dari keruntuhan dalam arti kata
yang sebenarnya. Secara kebetulan, serentetan satelit-satelit Comsat sudah menyuarakan rencana-rencana
komersil. Pada bulan Nopember 1967, sebuah majalah Jerman “Der Stern” menulis “Kebanyakan mesin
kedokteran buatan Arnerika, yang.dapat menyelamatkan jiwa itu adalah merupakan hasil evaluasi sistematis
dari hasil penelitian atom, penerbangan ruang angkasa, dan teknologi militer. Barang-barang itu merupakan
hasil kerja sama baru antara raja-raja industri dan rumah sakit di Amerika, yang hampir setiap hari
menyebabkan dunia pengobatan mencapai keberhasilan”. “Jadi Locheed Company yang membuat pesawat
tempur Star Fighter, dan Mayo Clinik yang terkenal itu, bekerja sama untuk mengembangkan sistem
perawatan baru berdasarkan teknik-teknik komputer. Para perancang perusahaan penerbangan North
American Aviation sesuai dengan anjuran dari para akhli kedokteran bekerja dengan ‘Sabuk emphysema’ yang
dibuat untuk memudahkan pernafasan para pasien yang mendapat gangguan paru-paru. Para pejabat ruang
angkasa dari Nasa telah menciptakan suatu alat yang sebenarnya dirancang untuk mengukur kekuatan
benturan batu-batu meteor micro pada badan kapal ruang angkasa, tetapi dapat juga digunakan untuk
mencatat kekejangan otot halus dalam penyakit syaraf”. “Hasil sarnpingan lain dari teknologi komputer Amerika
yang dapat menyelamatkan jiwa, ialah ‘mesin denyut jantung’. Sekarang lebih dari 2.000 orang Jerman hidup
dengan bantuan mesin demikian, yang dipasang dalam rongga dadanya. Mesin itu berupa generator mini yang
digerakkan oleh batu batre, dan dipasang di balik kulit. Para dokter memasang hubungan antara mesin ini dan
telinga kanan dari jantung melalui rongga atas pembuluh balik. Dengan demikian jantung dapat dirangsang
untuk berdenyut secara teratur oleh denyutan-denyutan arus listrik lemah. Apabila batre ‘mesin jantung’ ini
habis setelah tiga tahun harus diganti dengan yang baru melalui operasi kecil. Mesin ajaib ini sekarang telah
disempurnakan oleh perusahaan listrik, General Electric. Tahun yang lalu perusahaan ini membuat model baru
yang disebut twospeed model. Apabila si pemakai alat ini ingin bermain tenis, atau ingin lari mengejar waktu
pemberangkatan kereta api, ia hanya tinggal menggerak-gerakkan sebatang magnit batangan bagian
tubuhnya yang di dalamnya dipasang mission itu. Dengan demikian jantungnya akan berdenyut lebih cepat”.
Demikian tulis Majalah itu. Itu merupakan dua contoh yang lebih rumit, dari hasil sampingan penelitian ruang
angkasa. Masih adakah orang yang sanggup mengatakan bahwa penelitian itu tak ada faedahnya? Dengan
judul “Perangsang dari Roket Bulan” surat kabar “Die Zut” terbitan bulan Nopember 1967, memuat laporan
sebagai berikut: “Konstruksi kendaraan ruang angkasa yang di buat khas untuk pendaratan empuk di atas
permukaan bulan, telah banyak menarik sepintas perhatian dari para pembuat mobil. Mereka ingin mengetahui
bagaimana konstruksi itu tahan terhadap keadaan benturan yang dapat menghancurkan kendaraan itu sendiri.
Karena sekalipun tidak mungkinuntuk membuat kendaraan bermotor yang dapat menyelamatkan
penumpangnya terhadap segala jenis tubrukan, namun konstruksi yang digunakan dalam penerbangan ruang
angkasa itu dapat mengurangi risiko kehancuran manakala terjadi tubrukan atau benturan.Lembaranlembaran
logam yang disebut ‘sarang
lebah’
yang sekarang semakin banyak dipergunakan dalam pembuatan
pesawat
terbang modern, dapat meningkatkan daya tarik tanpa menambah beratnya. Lembaran-lembaran
logam
semacam itu telah dicoba pula dalam pembuatan mobil. Alas mobil penjelajah daratan yang sekarang
dalam
eksperimen, dibuat dari lembaran ‘sarang
lebah’
itu.”.
Setiap orang yang mengetahui keadaan penelitian
ruang
angkasa sekarang serta daya dorongnya yang berkembang terus, tentu tidak sanggup lagi mengatakan
“Bagaimanapun
tak akan mungkin mengadakan penerbangan antar bintang atau antar planet”.
Generasi
penerus
kita akan melihat kemustahilan ini menjadi kenyataan.
Kelak, orang akan membuat kapal-kapal ruang angkasa raksasa dengan mesin bertenaga raksasa pula,
seperti yang telah dibuktikan oleh Rusia ketika dalam tahun 1967 mereka berhasil menggabungkan dua kapal
ruang angkasa tak berawak mejadi satu di ruang stratosfir. Suatu bagian dari penelitian ruang angkasa
sekarang sudah bekerja dengan menggunakan layar pelindung seperti pelangi listrik, yang dibentangkan di
depan kapsul dengan maksud untuk mencegah atau mengelakkan benturan partikel-partikel. Sekelompok
sarjana fisika kenamaan, sekarang sedang berusaha menemukan apa yang dikenal dengan nama “tachyon”,
yaitu partikel yang baru ada dalam teori, yang diduga dapat bergerak lebih cepat dari cahaya dan batas
kecepatan terendahnya ialah kecepatan
cahaya. Para sarjana yakin bahwa tachyon rnemang ada. Sekarang hanyalah tinggal membuktikan
eksistensinya secara ilmiah. Pembuktiannya telah dilakukan dalam pembuktian neutrinos dan anti matter.
Akhirnya saya ingin bertanya kepada mereka yang menentang penerbangan ruang angkasa: Apakah anda
benar-benar percaya bahwa beberapa ribu orang terpandai dari zaman kita ini telah menghambur-hamburkan
waktu dan tenaga mereka hanya untuk mencapai tujuan-tujuan  utopis atau yang tak berarti ?
Izinkahlah saya menyelesaikan persoalan UFO, dengan tegas dengan mengabaikan resiko bahwa hal tersebut
tidak mendapat tanggapan serius. Jika tidak ada tanggapan serius, saya masih dapat menghibur diri dengan
keyakinan, bahwa orang terkemuka beserta saya.
UFO telah dilihat orang di mana-mana; di Amerika, di Philipina, di Jerman Barat dan di tempat-tempat lain. Mari
kita misalkan saja bahwa 98 persen dari orang-orang yang mengaku telah melihat UFO, sebenarnya hanya
melihat bola petir atau balon cuaca, atau pembentukan awan aneh, atau pesawat udara jenis baru yang tak
dikenal atau bahkan mungkin akibat-akibat ganjil dari cahaya dan bayangan di kala senja. Tak diragukan lagi,
kebanyakan orang telah menjadi korban penyakit jiwa. Mereka mengaku telah melihat sesuatu yang
sebenarnya tidak ada di tempat yang dilihatnya. Dan sudah tentu banyak juga para pencari berita yang ingin
memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri, dari hasil observasi orang-orang yang dianggap benar itu.
Mereka membuat judul artikel koran dengan huruf besar-besar bagi para pembaca yang pandir. Kalau dari
sekian banyak orang yang mengaku telah melihat UFO itu kita pisahkan orang-orang sintingnya, pendustanya,
orang-orang sakit jiwanya dan para penjual sensasinya; maka sisanya yang berupa para pengamat yang waras
otaknya, dapat dihitung dengan jari tangan. Dalam jumlah itu termasuk juga mereka yang tugasnya memang
mengenali peristiwa-peristiwa di langit.
Seorang ibu rumah tangga mungkin membuat kesalahan serupa dengan kesalahan yang dibuat oleh seorang
petani di Wild West.Tetapi jika seorang penerbang yang sudah banyak berpengalaman mengatakan telah
melihat UFO, sukar sekali untuk mencap dirinya sebagai pembual besar, karena penerbang berpengalaman
mengetahui benar apa yang disebut; bola petir, bayangan, dan balon cuaca. Sebab reaksinya terhadap
penglihatan-penglihatan semacam ini, dan juga daya tangkapnya yang jitu, selalu diuji secara teratur.
Beberapa jam sebelum dan selama terbang ia dilarang minum-minuman keras. Dan seorang penerbang dari
perusahaan penerbangan sangat kecil kemungkinannya berdusta, kalau ia tidak ingin kehilangan jabatannya
yang empuk dan bergaji besar itu. Namun demikian, kalau yang berbicara itu bukan seorang saja, melainkan
sekelompok penerbang yang di dalarnnya termasuk juga penerbang angkatan udara, maka mau tidak mau
kita harus mendengarkan ceritera mereka itu. Saya sendiri tidak mengetahui apa UFO itu. Saya tidak
mengatakan bahwa UFO itu telah dibuktikan memang benar ada, bahwa benda-benda terbang itu berasal dari
intelegensia tak dikenal; sekalipun kemungkinannya besar sekali. Sayang sekali, selama perjalanan keliling
saya tak pernah melihat UFO dengan mata kepala sendiri. Tetapi saya dapat mengajukan risalah yang masuk
akal dan telah disahkan kebenarannya, seperti berikut: “Tanggal 5 Peberuari 1965, Departemen Pertahanan
Amerika Serikat mengumumkan bahwa bagian Khusus Urusan UFO telah ditugaskan untuk menyelidiki
kebenaran laporan yang dibuat oleh dua orang operator radarnya. Kedua orang operator ini pada tanggal 29
Pebruari 1965 dengan radarnya telah menangkap dua buah UFOdi lapangan udara Angkatan Laut di
Maryland. Benda-benda tak dikenal itu terbang mendekati lapangan udara dari arah Selatan dengan
kecepatan 4.350 mil perjam. Tiga puluh mil di atas lapangan udara tesebut, benda-benda itu membelok
dengan tajam sekali dan menghilang dari layar radar. Pada tanggal 3 Mei 1964,beberapa orang di Canberra
Australia dan beberapa meteorologi melihat benda besar bercahaya terbang menyeberangi cakrawala pagi ke
jurusan Timur Laut. Dalam wawancara dengan utusan-utusan dari Nasa, para saksi mata kepala sendiri itu
menerangkan bagaimana benda itu jungkir balik di angkasa dan bagaimana sejumlah benda yang lebih kecil
menyerbu benda besar itu. Benda-benda kecil itu mengeluarkan cahaya merah yang menyilaukan kemudian
menghilang, sedangkan “benda” yang besar menghilang ke jurusan Barat Laut. Salah seorang meteorologis
itu berkata: “Sebelum ini saya selalu mencemoohkan ceritera-ceritera tentang UFO. Tetapi sekarang saya tidak
tahu apa yang harus saya katakan tentang itu”.
Tanggal 23 Nopember 1953, sebuah benda terbang tak dikenal tertangkap oleh radar di Lapangan Udara
Militer di Michigan. Letnan Udara R. Wilson yang ketika itu kebetulan sedang berlatih dengan pesawat tempur
jet F-86 diizinkan untuk mengejar “benda” itu. Para awak radar, dengan radarnya mengikuti Wilson mengejar
benda tak dikenal itu sejauh 160 mil. Pada layar radar tampak bahwa kedua benda terbang sekonyongkonyong
menjadi satu. Panggilan-panggilan dengan radio kepada Wilson tidak dijawab. Daerah tempat
terjadinya
peristiwa yang tak dapat difahami itu, selama beberapa hari berikutnya dibom oleh pasukan
penyelidik;
dan daerah dekat Lake Superior, diperiksa karena terdapat bekas oli berceceran. Tetapi mereka
tidak
menemukan apa-apa. Jejak letnan penerbang Wilson beserta pesawat terbangnya tak ditemukan. Pada
tanggal
13 September 1965 di pagi buta, sersan polisi Eugine Bertrand bertemu dengan wanita yang sedang
duduk
di belakang ke mudi mobilnya di suatu by pass Exetee, New Hampshire. Wanita itu tidak mau
melanjutkan
per jalanannya, karena ia telah dikejar-kejar oleh benda terbang besar sekali berwarna merah
menyilaukan
sejauh sepuluh mil sampai Route 101; kemudian benda itu menghilang ke dalam hutan. Mulamula
sersan polisi yang sudah berumur dan agak berkepala dingin itu menganggap wanita itu sinting.
Kemudian
ia mendengar laporan yang serupa dari patroli lain melalui radio mobilnya. Temannya Gene Toland
yang
ada di Markas Besar memanggil dia supaya lekas kembali, karena di Markas Besar pun ada seorang
pemuda
yang menceriterakan hal yang serupa dengan ceritera wanita itu. Si pemuda itu sedang mencari
perlindungan
karena merasa dikejar-kejar oleh benda bercahaya merah yang menyilaukan. Setengah segan
pemuda
itu beserta Bertrand berangkat mengendarai mobil patroli dengan keyakinan bahwa ceritera yang lucu
itu
merupakan keterangan yang masuk akal. Mereka menyelidiki daerah itu selama dua jam, kemudian pulang.
Dalam
perjalanan pulang mereka melewati sebidang tegalan, di mana terdapat enam ekor kuda. Keenam ekor
kuda
itu sekonyong-konyong bersama-sama berebutan ke luar dari tegalan itu. Pada saat yang hampir
bersamaan,
tegalan itu dan sekitarnya bermandikan cahaya merah menyala. “Itu
lihat itu”
seru seorang polisi
muda.
Ya, sebuah benda merah menyala-nyala yang bergerak pelan-pelan dan tanpa bersuara menuju
mereka,
mengapung di atas pohon-pohon. Bertrand menilpon temannya Toland, memberitahukan bahwa baru
saja
ia telah melihat benda terkutuk itu dengan mata kepala sendiri. Sekarang pertanian dekat jalan itu dan
bukit
di dekatnyapun bermandikan cahaya merah menyala-nyala. Mobil patroli kedua berhenti dekat mereka.
‘Sialan”
ucap Dave. “Aku
mendengar kau dengan Toland saling meneriaki lewat radio. Kukira kalian gila. Tetapi
coba,
lihatlah itu!”.
Berkenaan dengan peristiwa itu, lima puluh orang saksi mata yang dianggap dapat
dipercaya
telah diperiksa kemudian. Di antara yang diperiksa itu terdapat meteorologis, dan anggota Pengawal
Pantai.
Dengan perkataan lain orang-orang yang tak mungkin tidakdapat membedakan balon cuaca dengan
helikopter,
atau suatu satelit yang jatuh dengan lampu navigasi dari sebuah kapal udara. Laporan itu hanya
berisi
kenyataan-kenyataan yang telah terjadi, tetapi tidak mengandung keterangan tentang benda terbang
yang
tak dikenal itu. Tanggal 5 Mei 1967 wali kota Marliens di Cote-d’oz,
Monsieur Malliotte, menemukan
lubang
aneh di ladang semanggi yang letaknya 680 yard dari jalan. Ia menemukan pula sebuah lingkaran
bergaris
tengah 15,5 kaki, dalamnya satu kaki. Dari lingkaran ini, jaluran-jaluran sedalam 4 inci menjalur ke
luar.
Lingkaran dan jalur-jalur itu memberikan kesan. seolah-olah suatu kisi logam yang amat berat telah
ditekankan
dari atas ke dalam tanah. Pada ujung jalur-jalur itu terdapat lubang-lubang sedalam satu kaki dua
inci, seperti bekas di tekan oleh “kaki” di atas kisi itu. Suatu ciri atau bekas yang sangat mengherankan ialah
debu berwarna putih kejingga-jinggaan, yang mengendap di dalam jalur-jalur dan lubang-lubang itu. Saya
sendiri telah melihat tempat dekat Miliens ini. Makhluk halus atau hantu tak mungkin meninggalkan bekasbekas
seperti itu. Apa yang akan kita perbuat dengan laporan ini? yang diperbuat orang bahkan oleh
perhimpunan
kebatinan tentang apa yang pernah mereka lihat biasanya suka mematahkan semangat kita. Apa
yang
mereka perbuat, hanya mengaburkan pandangan kita atas kenyataan, dan menghalangi para sarjana
yang
serius menangani phenomena yang telah diuji kebenarannya, karena mereka takut pernyataannya itu
akan
membodohi dirinya sendiri. Tanggal 6 Nopember 1967, dalam acara televisi Jerman berjudul “Serbuan
dari
Kosmos?”
seorang kapten dari pesawat udara perusahaan penerbangan Luftansa, menceriterakan suatu
kejadian,
di mana dia beserta empat orang awak kapal melihatnya dengan mata kepala sendiri. Pada tanggal
15
Pebruari 1967, kira-kira sepuluh atau lima belas menit sebelum mendarat di San Fransisco, mereka melihat
suatu
benda terbang bergaris tengah kira-kira 33 kaki dekat pesawat terbang mereka. Benda itu bercahaya
menyilaukan
dan terbang beberapa saat di samping pesawat mereka. Mereka mengkhabarkan apa yang
mereka
lihat itu kepada Universitas Colorado. Universitas ini karena tidak mendapat penjelasan lebih lanjut
mengira
bahwa benda terbang itu merupakan bagian dari roket yang telah diluncurkan sebelumnya, yang
sedang
jatuh ke bumi. Kapten pilot itu menjelaskan bahwa ia yang telah mempunyai pengalaman terbang lebih
dari
sejuta mil beserta rekan-rekannya, tidak dapat percaya bahwa benda sebesar itu, yang sedang jatuh
bebas
ke bumi, dapat diam di udara selama lebih dari seperempat jam dan terbang berdampingan dengan
pesawat
terbangnya sendiri. Apalagi benda terbang tak dikenal itu dapat dilihat orang dari permukaan bumi
selama
hampir tiga perempat jam. Pilot Jerman ini sudah tentu bukan pengkhayal. Pada tanggal 21 dan 23
Nopember
1967, muncul dua buah laporan Die Suddentsche Zei tune. Munich. Beograd, koresponden dari
Amerika
melaporkan: “Beberapa
UFO telah terlihat di atas beberapa daerah di Eropa sebelah Tenggara. Pada
suatu
akhir pekan, seorarig astronom amatir telah memotret tiga buah dari benda-benda langit yang cemerlang
ini.
Sementara para akhli mengemukakan pendapatnya tentang potret ini dalam surat-surat kabar Yugoslavia,
laporan
tentang UFO lebih banyak lagi telah dilihat di daerah pegunungan Montenegro, di mana benda-benda
itu
diduga telah menimbulkan kebakaran hutan. Laporan-laporan ini datang terutama dari kampung Ivangrad di
mana
penduduknya bersumpah bahwa selama beberapa hari, tiap malam mereka melihat benda-benda langit
yang
diterangi dengan sangat menyilaukan. Para pejabat pemerintahan setempat membenarkan bahwa di
daerahnya
telah sering terjadi kebakaran hutan, tetapi sebegitu jauh belum diketahui apa yang menyebabkan”.
UPI melaporkan: “Sebuah UFO telah muncul di atas ibu kota Bulgaria, Sofia. Menurut laporan dari kantor
berita Bulgaria BTA, UFO itu dapat di lihat dengan mata telanjang. BTA melaporkan bahwa benda terbang itu
lebih besar dari bundaran matahari dan kemudian berubah bentuk menjadi trapeze. Benda terbang itu diduga
telah memancarkan sinar yang amat kuat. Benda itu telah pula terlihat oleh teropong bintang di Sofia. Dari hasil
kerja sama antara Institut Hidrologi dan Institut Meteorologi Bulgaria dikatakan bahwa benda terbang itu
bergerak dengan kekuatannya sendiri. Benda itu terbang kira-kira 18 mil di atas permukaan bumi”. Orang
menghalangi jalan menuju penelitian serius, dengan ketololan. Ada kelompok “orang perantara” yang
mengakui selalu berhubungan dengan makhluk-makhluk alam luar. Ada pula orang-orang yang
mengembangkan gagasan-gagasan keagamaan, yang hanya dikarang-karang saja dari phenomena yang
sampai sekarang tidak jelas. Atau membuat suatu falsafah hidup yang bengis dari phenomena itu, atau
mengaku telah menerima perintah dari awak UFO untuk menyelamatkan umat manusia. Pada International
World Congress dari para penyelidik UFO, di musim gugur tahun 1967, Profesor Hermann Oberth, yang
dikenal sebagai “Bapak dari penerbangan ruang angkasa” dan guru dari Wernher Von Braun, mengatakan
bahwa “UFU-UFO itu masih merupakan persoalan ekstra ilmiah, tetapi UFO-UFO itu barang kali merupakan
kapal ruang angkasa yang berasal dari dunia tak dikenal”. Selanjutnya beliau mengatakan: “Jelaslah bahwa
makhluk yang menjadi awak dan menerbangkannya telah maju dalam segalanya sebagai mana mestinya, kita
dapat belajar banyak dari mereka”. Oberth, yang telah meramalkan perkembangan roket di bumi dengan tepat;
menduga bahwa di planet lain dalam tata surya kita, terdapat prasyarat-prasyarat bagi generasi-generasi
spontan. Obert, selaku sarjana penelitian meminta supaya para sarjana lain yang serius pun turut menangani
persoalan-persoalan yang mula-mula mungkin merupakan fantastis ini. “Para sarjana itu biasanya bagaikan
angsa yang kekenyangan, yang tidak mau makan apa-apa lagi. Mereka menolak gagasan-gagasan baru, dan
menyebutnya sebagai omong kosong”. Tanggal 17 Nopember 1967, dengan judul “Gagasan-gagasan Kedua”
surat kabar Die Zeit mengatakan: “Bertahun-tahun orang Rusia menertawakan orang Barat seperti yang sakit
jiwa mengenai piring terbang. Belum lama berselang Pravda memuat sangkalan resmi, bahwa kendaraankendaraan
langit yang ganjil itu pernah ada. Sekarang Jenderal Angkatan Udara Anatolyi Stolyakov telah
ditunjuk
sebagai direktur dari suatu komite yang tugasnya meneliti laporan-laporan mengenai UFO.
Berhubungan
dengan ini, surat kabar London Times, menulis: “Apakah
UFO itu hasil dari pengkhayalan
bersama,
ataukah berasal dari para pengunjung dari planet Venus, atau harus diartikan sebagai wahyu
ketuhanan;
harus ada penjelasan, sebab andai kata UFO itu tak ada,orang-orang Rusia tentu tidak akan
membentuk
komite Pencari Keterangan”.
Kejadian yang paling menggemparkan dan paling membingungkan
sehubungan
dengan phenomena tentang benda dari alam semesta, terjadi pada pukul 7.17 pagi tanggal 30
Juli
1908,di Taiga, Siberia. Sebuah bola api bagaikan ditembakkan melintasi cakrawala dan menghilang di
padang
rumput. Para penumpang kereta api Transs-Siberia melihat benda yang menyala-nyala bergerak dari
Selatan ke Utara. Suatu halilintar yang diikuti dengan ledakan menggoncang kereta api. Kebanyakkan stasion
seismograph di dunia mencatat ledakan ini sebagai getaran bumi yang cukup kuat. Di Irkutsk, 550 mil dari
pusat gempa jarum seismograph tetap bergetar hampir selama satu jam. Suara ledakannya terdengar sampai
sejauh radius 612 mil. Ratusan rusa kutub telah mati terbunuh oleh ledakan itu. Suku-suku pengembara
banyak yang terpental ke udara bersama tenda-tendanya. Sebelum tahun 1912, Profesor Kulik mulai
mengumpulkan laporan-laporan dari para saksi mata. Akhirnya ia berhasil pula mengumpulkan uang untuk
mengadakan ekspedisi ilmiah ke daerah Taiga yang jarang penduduknya ini. Ketika ekspedisi itu sampai di
daerah berbatu-batu Tunguska, mereka yakin benar bahwa mereka akan menemukan kawah raksasa yang
disebabkan oleh batu meteor. Tetapi keyakinan mereka itu ternyata salah. Mereka melihat pohon-pohon yang
patah bagian atasnya sampai sejauh 37 mil dari pusat ledakan. Semakin dekat mereka ke titik kritis, tanahnya
semakin tandus. Pohon-pohon di sana tampak seperti tiang-tiang telegraph tanpa apa-apa. Di sekitar pusatnya
bahkan pohon-pohon terbesar pun telah patah dan terlempar ke luar daerah lingkungan itu. Akhirnya mereka
menemukan bekas-bekas kebakaran hebat. Semakin jauh ke Utara ekspedisi itu semakin yakin bahwa di sana
telah terjadi ledakan dahsyat. Ketika mereka melewati lubang-lubang dari berbagai ukuran di atas tanah yang
berpaya-paya, mereka menduga bahwa lubang itu disebabkan oleh benturan batu-batu meteor. Mereka
menggali dan membor tanah yang berpaya-paya itu, tetapi mereka tidak menentukan sedikit pun sisa-sisa dari
sepotong besi atau sepotong nekel, atau sebongkah batu. Dua tahun kemudian pencarian diteruskan lagi
dengan menggunakan bor-bor yang lebih besar dan alat-alat teknik yang lebih baik. Mereka membor sampai
sedalam 118 kaki, tetapi tetap tidak menemukan bekas meteor atau batu-batu serupa. Pada tahun 1961 dan
1963, Akademi Ilmu Pengetahuan Uni Sovyet mengirim dua ekspedisi lagi ke Tunguska. Ekspedisi tahun 1963
dipimpin oleh akhli geofisika-Solotov. Kelompok para sarjana yang diperlengkapi dengan alat-alat teknik paling
modern ini, sampai kepada kesimpulan bahwa ledakan di Tunguska Siberia itu pasti merupakan ledakan nuklir.
Jenis ledakan dapat ditentukan jika beberapa urutan besarnya kekuatan yang menyebabkan ledakan itu
diketahui. Satu di antara urutan besarnya kekuatan ledakan Tunguska itu diketahui dari besarnya energi radiasi
yang dipancarkan.
Di Talga ekspedisi itu menemukan beberapa pohon, 11 mil jauhnya dari pusat ledakan. Pohon pohon itu telah
terkena radiasi lalu terbakar pada saat terjadinya ledakan itu. Pohon hidup hanya dapat terbakar apabila
banyaknya panas yang diradiasikan tiap cm2 mencapai 70 sampai 100 kalori. Dan memang kilatan ledakan itu
demikian terangnya, sehingga sampai sejauh 124 mil dari pusat gempa, cahayanya masih memantulkan
bayangan
kedua. Dari data ini para sarjana memperhitungkan besarnya energi yang diradiasikan oleh ledakan itu sekitar
2,8 x 1028 erg. (erg  “banyaknya tenaga kerja”). Seekor kumbang yang beratnya satu gram, akan harus
mengeluarkan tenaga kerja satu erg untuk memanjat dinding setinggi satu cm. Ekspedisi itu menemukan
cabang dan ranting pohon yang sudah jadi arang sampai setinggi sebelas mil. Dari fakta ini mereka
berkesimpulan bahwa di tempat itu telah terjadi pemanasan yang amat tinggi dan mendadak. Ini adalah akibat
dari suatu ledakan, bukan suatu kebakaran hutan. Pohon yang jadi arang ini hanya ditemukan di tempat mana
tidak terdapat bayangan yang menghalangi difusi kilatan cahaya. Jelas dan pasti bahwa di sana pernah terjadi
suatu radiasi. Keseluruhan dari efek ini, memerlukan tenaga 10 pangkat 28 erg. untuk dapat menimbulkan
kehancuran yang amat luas itu.
Energi sebesar ini, sama kuatnya dengan kekuatan perusak dari bom atom seberat 10 megaton atau
100.000.000.000.000.000.000.000 erg.
Penyelidikan-penyelidikan memastikan bahwa di tempat itu pernah terjadi ledakan nuklir. Kepastian itu
menghapus keterangan-keterangan yang berbau dongeng seperti tubrukan komet atau batu meteor yang
jatuh ke bumi. Bagaimana bunyi keterangan mengenai ini di tahun 1908? Surat kabar di Leningrad Svesda,
terbitan bulan Maret 1964, mengemukakan suatu teori bahwa makhluk cerdas dari sebuah planet dalam
konstelasi Cygnus telah mencoba untuk mendapat kontak dengan bumi kita. Para penulis Genrich Altov dan
Valentina Shuraleva mengatakan bahwa tubrukan di Taiga, Siberia itu merupakan jawaban terhadap ledakan
yang disebabkan oleh meletusnya gunung Krakatau di Samudra Indonesia dalam tahun 1883; di mana letusan
itu telah memancarkan gelombang-gelombang radio alam semesta. Makhluk bintang yang jauh dari bumi itu
keliru, mereka mengira bahwa gelombang-gelombang itu berasal dari ruang angkasa. Karena itu, mereka
mengarahkan sinar laser ke bumi. Sinar laser itu terlalu kuat, sehingga ketika sinar laser itu menyentuh atmosfir
dunia jauh di atas Siberia, sinar itu berubah ujud menjadi benda padat.
Saya akui, bahwa saya tak dapat menerima keterangan demikian, karena terlalu jauh jangkauannya sehingga
sukar masuk di benak kita. Saya juga tidak dapat menerima teori yang mencari keterangannya dalam tubrukan
anti zat. Sekalipun saya percaya bahwa jauh di alam kosmos mungkin ada unsur-unsur yang di sebut anti zat,
namun di Tunguska tidak mungkin akan terdapat bekas-bekasnya, apalagi sisa-sisanya; karena apabila anti zat
itu beradu dengan zat padat, kedua zat itu akan terurai dan lenyap kedua-duanya. Selain dari itu, kemungkinan
bagi anti zat untuk mencapai bumi tanpa bertubrukan dengan zat lain di tengah perjalanan, sangat kecil. Saya
lebih suka menyokong pendapat yang menduga bahwa ledakan nuklir itu disebabkan oleh meledaknya
persediaan tenaga nuklir dari kapal ruang angkasa yang tak di kenal. Fantastis? Ya, memang! Tetapi apakah
ini harus berarti, bahwa hal itu tidak mungkin? Tidak sedikit terdapat buku mengenai batu meteor Tunguska itu.
Ada fakta lain yang ingin saya tekankan. Radio aktivitas di sekitar pusat ledakan di Taiga itu intensitasnya atau
kekuatannya dua kali kekuatan di tempat lain. Sekarang pun demikian keadaannya. Penelitian cermat pada
pohon-pohon dan gelang tahunannya, menunjukkan bahwa sejak tahun 1908 radio aktivitas itu meningkat.
Sebelum ada bukti ilmiah yang pasti tepat dan meninggalkan tentang kejadian itu tak seorang pun berhak
mengeluarkan keterangan keterangan tanpa alasan yang kuat untuk dapat dipercaya. Pengetahuan kita
tentang planet planet dalam tata surya kita, agak lengkap kiranya. Mars adalah satu-satunya planet di mana
diduga mungkin terdapat “kehidupan” dalam arti kata menurut pengertian kita. Itupun dalam jumlah yang amat
terbatas. Manusia telah menentukan batas-batas secara teoritis terhadap kehidupan dalam arti seperti di atas.
Batas lni disebut ecosphere. Dalam tata surya kita, hanya venus, bumi dan mars yang ada dalam batas-batas
ekosfir. Walaupun demikian, kita hendaknya tidak lupa bahwa penentuan ecos phere itu didasarkan kepada
gambaran kita tentang kehidupan; dan bahwa kehidupan yang belum kita kenal, sama sekali tidak perlu terikat
kepada dasar pikiran kita. Mariner II telah sampai pada jarak 21.000  mil dari Venus.Menurut informasi yang
dipancarkan dari Mariner II itu, Venus dapat di coret dari daf tar planet-planet di mana mungkin ada kehidupan.
Mariner II itu melaporkan pula bahwa suhu permukaan Venus, siang maupun malam panasnya 420 C. Suhu
demikian itu, berarti di sana tidak ada air, melainkan hanya ada kolam-kolam berisi logam cair, Maka punahlah
anggapan orang, bahwa Venus itu saudara kembar bumi, sekalipun persenyawaan hidrogen karbon yang ada
dapat di gunakan sebagai tempat pembiakan bagi segala jenis bakteri. Belum lama berselang, para sarjana
menyatakan bahwa kehidupan di planet mars tidaklah mungkin ada. Pada suatu hari belakangan ini,
pernyataan itu berubah menjadi “hanya sedikit kemungkinannya”.Setelah Mariner IV berhasil mengadakan
pengintaian di atas mars, sekalipun agak segan, kita harus mengetahui bahwa kemungkinan adanya
kehidupan di mars bukanlah mustahil Bahkan sangat mungkin pula, bahwa tetangga kita mars itu pernah
mempunyai kebudayaan sendiri jutaan tahun yang lalu, tetapi tak pernah ada yang diceriterakannya.
Bagaimanapun juga bulan mars yang disebut phobos perlu mendapat perhatian khusus. Mars mempunyai dua
buah bulan yakni “phobos” dan “deimos”. Kedua nama itu adalah dari bahasa Yunani yang dalam bahasa
Indonesia berarti: “ketakutan” dan “teror”. Kedua bulan itu sudah dikenal orang jauh sebelum seorang
astronom Amerika yang bernama Asoph Hall menemukannya dalam tahun 1877. Jauh sebelumnya, se
kitar tahun 1610, Johannes Kepler menduga, bahwa mars diikuti oleh dua buah satelit alamiah. Schyrl,
seorang biarawan Capucine mengaku telah melihat bulan Mars itu beberapa tahun sebelumnya. Namun
mungkin ia keliru melihat, karena bulan mars
yang kecil-kecil itu tak mungkin dapat dilihat dengan alat-alat optik pada zamannya. Kedua bulan itu dilukiskan
dengan indah sekali oleh Jonathan Swift dalam bukunya berjudul Perjalanan ke Laputa dan Jepang. Buku ini
merupakan jilid ke III
dari perjalanan Guliver Jonathan. Swift tidak hanya melukiskan kedua bulan mars itu melainkan juga
memberikan ukuranukuran serta orbitnya. Di bawah ini adalah kutipan dari bab 3 nya: “Para astronom Laputan
melewatkan sebagian besar dari masa hidupnya untuk mengamati benda-benda langit, yang dilakukannya
dengan menggunakan teropong-teropong yang jauh lebih baik dari pada teropong kita. Sekalipun teleskop
mereka yang terbesar tak ada yang lebih dari tiga kaki, tetapi teropong mereka itu mempunyai daya
membesarkan lebih tinggi dari teropong kita yang panjangnya seratus yard; dan dengan sendirinya, bintangbintang
dapat mereka lihat lebih jelas. Hal-hal yang menguntungkan ini, memungkinkan mereka untuk
memperluas
penemuan-penemuan mereka lebih jauh dari pada para astronom Eropa. Ini terbukti dari daftar
bintang-bintang
yang mereka buat Daftarnya membuat sepuluh ribu bintang tetap, sedang daftar terluas di
Eropa
hanya meliputi tidak lebih dari sepertiganya. Besar kemungkinannya bahwa mereka telah menemukan
bintang-bintang
yang lebih kecil, atau satelit-satelit yang beredar mengitari mars. Di antaranya tiga buah yang
beredar
pada lingkaran dalam dan lima buah pada lingkaran luar. Yang ada pada lingkaran dalam berputar
pada
sumbunya dalam 10 jam, sedangkan yang ada dalam lingkaran luar berputar pada sumbunya dalam 21
l/2
jam; sehingga kwadrat dari waktu perputarannya dalam perbandingan yang sama mendekati pangkat tiga
dari
jarak antara satelit-satelit itu dengan titik tengah dari mars; yang membuktikan bahwa satelit-satelit itu
diatur
oleh hukum gravitasi yang sama, yang mengatur benda-benda langit lainnya”.
Bagaimana Swift dapat
menceriterakan
satelit-satelit mars, padahal benda-benda langit baru ditemukan 150 tahun kemudian?.
Tak dapat disangsikan bahwa sebelum Swift, satelit-satelit itu telah diduga oleh beberapa astronom. Tetapi
duga-dugaan biasanya tidak sampai mendekati data yang tepat. Kita tidak mengetahui dari mana Swift
mendapat pengetahuannya itu. Satelit-satelit itu sebenarnya merupakan bulan-bulan terkecil dan terganjil dari
tata surya kita. Satelit-satelit itu beredar hampir berbentuk lingkaran bundar di atas ekuator Mars. Jika satelitsatelit
itu dapat memantulkan cahaya yang sama banyaknya dengan cahaya yang dipantulkan oleh bulan kita,
maka
phobos harus bergaris tengah sepuluh mil dan deimos 5 mil. Tetapi jika satelit-satelit itu merupakan
bulan
buatan, dan memantulkan lebih banyak lagi cahaya, maka diameternya akan lebih kecil lagi. Satelit satelit
itu
merupakan bulan-bulan yang dikenal dalam tata surya kita, yang waktu beredarnya mengelilingi planet
induknya paling pendek dibanding dengan waktu perputaran pada sumbunya. Dibanding dengan perputaran
mars pada sumbunya phobos dapat beredar mengelilingi Mars dua kali dalam satu hari mars, sedang deimos
hanya lebih cepat sedikit dari pada perputarannya sendiri pada sumbunya. Ketika posisi bumi terhadapMars
sangat baik dalam tahun 1862, orang dengan susah payah mencari satelit-satelit mars itu, dan baru berhasil 15
tahun kemudian.
Teori tentang planetoid, timbul karena beberapa astronom menduga bahwa bulan-bulan mars itu merupakan
pecahan-pecahan benda langit yang ditarik oleh Mars. Tetapi teori itu tak mampu menerangkan mengapa
satelit itu kedua-duanya dapat berputar pada sumbunya, pada bidang ekuator yang sama. Kalau hanya satu
yang berputar, dapat dikatakan karena kebetulan. Tetapi kalau dua-duanya berputar, itu bukan karena
kebetulan. Karena itu akhirnya timbul teori modern tentang satelit. Seorang astronom Amerika kenamaan Carl
Sagan, dalam bukunya berjudul “Kehidupan Intelegensi dalam Alam Semesta” yang diterbitkan pada tahun
1966 menduga bahwa phobos merupakan satelit buatan. Setelah mengadakan pengukuran dan perhitunganperhitungan,
Sagan sampai pada kesimpulan bahwa di dalam phobos itu pasti kosong. Bulan kosong tidak
mungkin
alamiah, melainkan buatan. Dalam kenyataannya, memang kejanggalan-kejanggalan orbit phobos
sama
sekali tidak sebanding dengan masanya. Orbit demikian lebih sesuai dengan orbit benda kosong.
Shklovskii,
Direktur Departemen Astronom Radio dari Institut Astrologi Sternberg di Moskow membuat
pernyataan
serupa, setelah ia melihat bahwa dalam gerak phobos dapat dipastikan ada percepatan yang luar
biasa.
Percepatan ini identik dengan percepatan yang telah kita lakukan terhadap gerak dari satelit-satelit
buatan
kita sendiri. Sekarang orang memperhatikan teori Sagan dan Shklovski yang fantastis ini dengan
serius.
Sekarang sedang direncanakan untuk penyelidikan lebih lanjut terhadap planet mars dan sekaligus
juga
untuk menentukan posisi bulan-bulannya. Orang Rusia sudah beberapa tahun terlebih dahulu mengamati
bulan-bulan
mars dari berbagai ovservatorium. Jika anggapan yang diperkuat pula oleh para akhli Timur dan
Barat
bahwa di planet mars pernah ada peradaban yang telah maju itu benar, maka akan timbul pertanyaan;
mengapa
peradaban itu sekarang tidak ada? Apakah para intelegensia dari mars itu harus mencari lingkungan
lain?
Apakah mereka itu terpaksa mencari tempat tinggal lain karena oksigen tempat tinggal mereka semakin
lama
semakin habis? Apakah hancurnya peradaban mereka karena di landa malapetaka kosmis? Dan
pertanyaan
terakhir; Apakah ada beberapa orang di antara penduduknya selamat, lalu mengungsi ke Planet
lain
yang berdekatan? Imanuel Nelikovsky dalarn bukunya berjudul “Dunia-dunia
bertubrukan”
yang diterbitkan
tahun
1950, dan yang banyak diperbincangkan dalam kalangan para ilmiawan menerangkan, bahwa sebuah
komet
raksasa telah menabrak planet mars. Dari tabrakan ini terjadilah planet venus sebagai pecahan mars
yang
terpental. Teorinya ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa permukaan venus mempunyai suhu yang
begitu
tinggi, berawan yang mengandung persenyawaan hidrokarbon, dan berotasi tidak teratur. Evaluasi data
yang
diterima dari Mariner II memperkuat teori Nelikovsky ini. Venus adalah satu-satunya planet yang arah
perputaran
pada sumbunya terbalik, yakni tidak searah dengan perputaran dari planet-planet; merkurius, bumi,
mars
jupiter, saturnus, uranus, dan neptunus pada sumbunya masing masing. Tetapi kalau malapetaka
kosmos
merupakan alasan yang paling mungkin dari hancurnya peradaban di planet mars, maka hal ini akan
merupakan
bahan bagi teori saya; bahwa bumi kita ini di zaman purba pernah menerima kunjungan dari ruang
angkasa.
Maka tesis yang mengatakan bahwa sekelompok raksasa dari mars barangkali lari ke bumi untuk
menemukan
kebudayaan baru dari homosapiens dengan jalan mengembangbiakkan makhluk-makhluk
setengah
intelegensia yang hidup di bumi, menjadi kemungkinan yang spekulatif. Oleh karena daya gravitasi di
bumi
maka dapat diperkirakan bahwa tubuh orang-orang mars akan lebih besar dan lebih berat dari pada
orang-orang
bumi. Kalau saja ada sesuatu dalam argumentasi ini yang memperkuat bahwa pernah ada
raksasa
yang datang dari bintang-bintang; yang mampu memindahkan batu besar, dan yang mengajar orang
orang
di bumi tentang seni yang belum dikenalnya, dan yang akhirnya punah; maka tak pernah kita ketahui
sedikitpun
tentang hal itu, seperti halnya sekarang tentang banyak hal. Saya yakin bahwa masalah orang dan
intelegensia
yang tak di kenal ini akan tetap mau jadi acara dalam penelitian, sampai setiap teka teki yang
seharusnya
dapat dipecahkan itu terjawab semuanya.
MENCARI KOMUNIKASI LANGSUNG
Pukul 4 pagi pada suatu hari dalam bulan April tahun 1960, di suatu lembah sunyi di Virgi nia Barat, telah
dimulai suatu eksperimen. Teleskop radio yang tingginya 85 kaki itu, yang terdapat di Green Bank sedang
dicoba ditujukan ke bintang “tau ceti”, yang jauhnya dari bumi kita 11,8 tahun cahaya.Proyek ini dipimpin oleh
Dr. Trank Drake, seorang astronom muda Amerika yang di kalangan ilmiawan termasyur sekali. Ia ingin
menyetel teleskop radio itu ke arah pemancar-pemancar radio dari peradaban lain. agar dapat menangkap
isyarat-isyarat dari intelegensia di ruang angkasa. Rentetan pertama dari esksperimen itu memakan waktu 150
jam. Sejarah dapat mencatat proyek Ozma ,walaupun proyek itu gagal. Nama Ozma ialah nama puteri
mahkota dalam dongeng dari negara Oz. Eksperimen itu dihentikan bukan karena adanya pendapat di
kalangan para sarjana yang ikut serta dalam proyek itu bahwa diruang angkasa tidak ada stasion radio,
melainkan karena kala itu tidak terdapat alat-alat yang cukup peka untuk mencapai sasaran. Tetapi Ozma tidak
akan merupakan satu-satunya eksperimen semacam itu. Bulan Juli 1969 di permukaan bulan telah
ditempatkan instrumen-instrumen. Pada pendaratan-pendaratan berikutnya, oleh para astronot akan didirikan
lebih banyak lagi stasion pemancar di sana. Para astronot ini akan mampu meneliti ruang-ruang, antar bintang
mana yang baik dan bebas gangguan bagi isyaratisyarat radio. Tetapi harus dipertanyakan, apakah pencarian
isyarat isyarat radio itu akan banyak membantu penyelidi kan ruang angkasa ? Apakah tidak lebih praktis kalau
kita saja yang mengirim isyarat-isyarat radio ke ruang angkasa ? Memang kita tidak dapat mengharapkan
adanya cendekiawan yang mengerti bahasa Rusia, Spanyol atau Inggris, yang menanti untuk kita hubungi di
sana. Tetapi ada tiga cara untuk memperkenal kan kita kepada mereka; yakni dengan mengirim simbol-simbol
matematika, mengirim pancaran sinar laser atau gambar-gambar yang paling mungkin berhasil. Untuk dapat
mengirim simbol-simbol demikian, kita harus terlebih dahulu menemukan gelombang radio antar bimasakti
yang mungkin dapat diterima di seluruh kosmos. Frekwensi 1420 mega hertz akan dapat menghasilkan
gelombang radio yang diperlukan, karena frekwensi itu ialah frekwensi radiasi dari hidrogen netral yang timbul
dari benturan-benturan antara atom-atom hidrogen. Oleh karena hidrogen itu merupakan suatu unsur kimiawi
maka frekwensi radiasi ini pasti dikenal di seluruh alam semesta. Selain itu, 1420 megahertz adalah di luar
skala gelombang-gelombang radio di bumi yang sudah berjubel itu. Kemungkinan adanya kesalahan dan
gangguan-gangguan udara sangat di perkecil sampai batas minimum. Dengan cara ini pulsa-pulsa radio dapat
dikirim ke ruang angkasa, dan jika di sana ada inteligensia yang tak dikenal, mereka akan dapat menangkap
isyarat-isyarat itu dan mengenalinya. Dalam hubungan ini, dalam surat kabar Die Zeit terbitan tanggal 22
Desember 1967, terdapat suatu artikel yang menarik mengenai pendaratan manusia di bulan pada bulan Juli
1967. Artikel yang berjudul “Bulan Akan Ditembaki Dengan Kedipan-Kedipan Sinar”, berbunyi: “Jarak antara
bumi dan bulan telah diketahui dengan ketelitian sampai ratusan yard terdekat,tetapi para astronom tidak puas
hanya sampai di sana. Maka para astronot pada penerbangan pertama berikutnya akan membawa kaca
cermin dan menempatkannya di permukaan satelit bulan itu. Kaca-kaca cermin yang bentuknya seperti sudut
ruangan ini, terdiri dari tiga bidang pantul, letaknya tegak lurus terhadap satu sama lain. Tiap bidang akan
dapat memantulkan setiap cahaya yang mengenainya kembali ke sumber asalnya”. “Kaca cermin ini akan
ditembaki dari bumi dengan kedipan-kedipan cahaya laser. Tiap kedipan lamanya satu perseratus juta detik.
Laser ini akan diperlengkapi dengan sebuah teleskop yang lubangnya berdiameter 150 meter. Cahaya yang
dipantulkan dari bulan akan ditangkap oleh teleskop ini dan diteruskan ke alat pencetak foto”. “Dengan
demikian jarak antara bumi dan bulan dapat ditentukan seteliti sampai satu setengah meter. Jarak itu dapat
dihitung dari kecepatan cahaya per detik dan waktu yang diperlukan oleh pancaran sinar laser untuk
menempuh jarak itu pulang pergi”. Kebalikan dari hal tersebut di atas dapat juga masuk akal. Gelombanggelombang
radio telah lama sekali menjelajahi alam semesta. Jika hipotesa saya ini benar, apakah tidak masuk
akal
kalau ada intelegensia yang belum kita kenal yang mencoba memperkenalkan eksistensi mereka kepada
kita
dengan mengirim isyarat-isyarat radio? Sebagai contoh; energi radiasi dari CTA 102 tercatat dalam katalogi
dari
radio para astronom di Institut Teknologi California di bawah nomor 102 sekonyong-konyong meningkat
dalam
musim rontok tahun 1964. Para astronom Rusia memberitahukan ke seluruh dunia, bahwa mereka
mungkin
telah menerima isyarat-isyarat dari supersivilisasi jauh di luar bumi. Astronom Skolosnitski dalam
ruang
kuliah Institut Astrologi Sternberg di Moskwa tanggal 13 April 1965 berkata: “Pada
akhir September dan
pada
awal Oktober 1964, energi radiasi dari CTA 102 mendadak meningkat, tetapi hanya sebentar saja,
kemudian
menurun kembali. Kami mencatatnya dan menanti.Menjelang akhir tahun, intensitas sumber energi
itu
meningkat lagi. Kenaikan intensitas itu mencapai puncaknya lagi persis 100 hari setelah puncak yang
pertama”
pimpinan astronom itu Profesor P.S. Shklovskii, menambahkan bahwa fluktuasi demikian dalam
radiasi
sangat luar biasa.
Sementara itu akhli astrofisika Belanda Maarten Schmidt telah dapat mengukur, bahwa CTA 102 letaknya
pada jarak 10 milyar tahun cahaya dari bumi. Ini berarti bahwa jika isyarat radio itu berasal dari makhluk cerdas,
maka isyarat tersebut telah dikirim 10 milyard tahun yang lalu. Tetapi menurut perhitungan penelitian zaman
sekarang, pada 10 milyard tahun yang lalu planet kita belum ada. Realisasi ini dapat berarti “pukulan maut”
bagi usaha pencarian makhluk hidup lain di alam semesta. Tetapi kalau pencarian kehidupan di alam semesta
ini tak berhasil, maka para ahli astrofisika di Amerika, di Rusia, di Jodrell Bank, Inggris, dan di Stochert dekat
Bonn di Jerman, tidak akan tetap memusatkan penelitian mereka kepada apa yang dikenal sebagai bintang
yang memancarkan gelombang radio dengan menggunakan antena raksasa. Bintang tetap epsilon eridiani
dan tan ceti jauhnya dari kita masing-masing 10,2 dan 11,8 tahun cahaya. Jadi gelombang-gelombang radio
yang kita pancarkan ke arah “tetangga” kita itu akan membutuhkan waktu kirakira 11 tahun per jalanan untuk
mencapai mereka. Jawaban dari mereka baru akan kita terima 22 tahun kemudian. Komunikasi radio dengan
bintang-bintang yang letaknya jutaan tahun cahaya jauhnya dari kita tidaklah tepat untuk dihubungi dengan
radio, karena waktunya terlalu lama. Apakah hanya gelombang radio itu satu-satunya cara teknis yang
memungkinkan untuk mencapai tujuan kita? Sebagai contoh, kita dapat juga mengadakan kontak dengan
mereka secara optis. Suatu pancaran laser yang kuat sekali yang diarahkan ke mars atau jupiter, suatu saat
akan mencapai sasaran, asal saja di sana ada makhluk hidup. Kemungkinan lain yang kedengarannya agak
fantastis ialah dengan mengerjakan areal tanah luas sedemikian rupa sehingga terdapat warna kontras
menyolok yang sekaligus juga merupakan simbol-simbol geometris atau matematis yang dikenal jagat raya.
Satu gagasan yang mungkin dianggap terlalu nekad, tetapi sepenuhnya dapat dilaksanakan ialah misalnya
dengan membuat segitiga raksasa yang sama sisi, berisi 600 mil dan ditanami dengan kentang. Di dalamnya
dibuat satu bundaran yang ditanami dengan gandum. Dengan cara ini tiap musim panas akan nampak suatu
bundaran yang amat besar berwarna kuning, di dalam segitiga raksasa berwarna hijau. Dan secara kebetulan,
merupakan suatu eksperimen yang paling berguna dan produktif. Tetapi jika ada intelegensia tak dikenal yang
sedang mencari seperti kita mencari mereka, pemberian warna pada lingkaran dan segitiga ini akan
merupakan isyarat kepada mereka; bahwa semua ini bukanlah suatu keajaiban alam belaka. Ada juga orang
yang mengusulkan supaya didirikan suatu deretan mercusuar yang memancarkan sinarnya secara vertikal.
Lautan cahaya yang dihasilkan oleh mercusuar itu harus diatur sedemikian rupa, sehingga merupakan atau
berbentuk model dari suatu atom. Masih banyak lagi saran-saran yang didasarkan kepada dugaan bahwa nun
jauh di sana ada yang sedang mengamati bumi kita ini. Apakah kita telah salah menangani persoalan ini
dengan cara-cara tersebut di atas?
Betapapun ragu dan tidak menyukainya kepada setiap kegaiban, mau tidak mau kita harus memperhatikan
kejadian-kejadian fisik yang tak dapat dijelaskan; misalnya cara pemindahan alam pikiran antara otak-otak
intelegensia suatu cara yang berdasar ilmiah luas, yang sampai sekarang belum dapat diterangkan. Di Fakultas
Psikologi dari berbagai Universitas yang menonjol sekarang secara seksama dan dengan alat-alat ilmiah
sedang diselidiki gejala-gejala alamiah yang selama ini belum dapat dijelaskan; seperti telepati, penglihatan dan
pemindahan pikiran. Hantu, dongeng-dongeng tentang makhluk halus yang menyeramkan, serta sumber
keajaiban yang meragukan atau diilhami oleh kefanatikan agama; semua disisihkan dan tidak masuk dalam
penyelidikan itu. Dengan adanya penyelidikan ini, maka yang selama ini merupakan hal yang tabu sekarang
telah mendapatkan banyak kemajuan. Bulan Agustus 1959, berakhirlah eksperimen kita dengan kapal selam
Nountilees. Eksperimen itu tidak hanya mendemonstrasikan kemungkinan pemindahan pikiran, melainkan juga
menunjukkan bahwa komunikasi mental antar benak dapat lebih kuat dari pada gelombang-gelombang radio.
Dalam eksperimen, ribuan mil jauhnya dari “Pemancar Pikiran”, pada saat kapal selam Nountiless menyelam
sampai beberapa ratus kaki di bawah permukaan laut, segala komunikasi radio terputus. Memang
sekarangpun, gelombang gelombang radio tak dapat menembus lapisan air sampai kedalaman demikian.
Tetapi di pihak lain, komunikasi mental antara tuan X dan tuan Y berfungsi seperti biasa. Setelah percobaan
ilmiah itu terjadi, maka orang bertanya kepada dirinya sendiri kemampuan apa lagi yang akan dimiliki otak
manusia itu. Mungkinkah manusia itu nantinya mampu membuat komunikasi mental lebih cepat dari cahaya?
Peristiwa Cayce, yang menambahkan bacaan ilmiah kepada lembaran sejarah umat manusia memberikan
dorongan kepada gagasan demikian. Edgar Cayce, seorang anak petani sederhana dari Kentucky tidak
mengetahui apa-apa tentang kemampuan fantastis yang tersembunyi dalam otaknya. Sekalipun ia telah
meninggal dunia tanggal 5 Januari 1945, para dokter dan para akhli ilmu jiwa sekarang masih sibuk
mengevaluasikan tingkah laku hidupnya. Walaupun ia bukan seorang dokter, persatuan dokter Amerika telah
mengizinkan Edgar untuk menyelenggarakan konsultasi. Edgar Cayce jatuh sakit ketika ia masih muda belia.
Ia menderita kejang-kejang. Demam suhu tinggi menyebabkan badannya semakin lama semakin kurus. Ia
jatuh pingsan lama sekali. Sementara para dokter tak berhasil menyadarkannya kembali, Edgar sekonyongkonyong
berbicara keras dan jelas. Ia menerangkan mengapa ia jatuh sakit. Ia menyebut obat-obat yang ia
perlukan,
ia menyuruh agar dibuat obat oles dan menyuruh mengolesi tulang punggungnya dengan obat oles
itu.
Para dokter dan keluarga Edgar keheran-heranan karena mereka sama sekali tidak mengetahui dari mana
Edgar
mendapat pengetahuan itu dan istilah-istilah kedokteran yang sebelumnya sama sekali asing baginya.
Setelah
diobati dengan obat-obat yang ia sebut, ia berangsur-angsur nyata sembuh. Kejadian itu menjadi
pembicaraan
negara bagian Kentucky. Oleh karena Edgar telah berbicara dalam keadaan tidak sadar, banyak
orang
mengira ia telah dihipnose untuk memancing cara-cara penyembuhan baginya. Tetapi bagi Edgar tidak
mungkin
jika harus membayar mahal untuk ini. Suatu saat seorang di antara teman-temannya, jatuh sakit. Dan
baru
kala itulah ia melisankan suatu resep yang tepat dengan menggunakan kata-kata Latin yang sebelumnya
ia
sendiri belum pernah mendengar atau melihatnya. Seminggu kemudian temannya itu sembuh kembali.
Kalau
kejadian pertama cepat dilupakan orang dan dianggap sebagai suatu sensasi kecil yang secara ilmiah
tak
perlu dianggap serius; maka kejadian kedua telah mengundang Persatuan Dokter Amerika untuk
membentuk
suatu komisi, yang ditugaskan membuat laporan tertulis secara mendetail bila ada lagi kejadian
semacam
itu. Dalam keadaan tidur, Cayce mengetahui hal-hal dan mempunyai kecakapan yang dalam
keadaan
normal hanya mungkin dia miliki kalau ia telah merundingkannya atau telah mendapat nasihat dari
orang
lain terlebih dahulu.
Pada suatu hari, Cayce “membuat resep” obat bagi seorang pasien yang sangat kaya. Obatnya tak bisa
didapat di manapun. Orang yang sakit ini telah memasang iklan dalam koran-koran yang peredarannya luas,
termasuk koran internasional. Seorang dokter muda dari Perancis menulis bahwa beberapa tahun yang lalu
ayahnya pernah membuat obat itu, tetapi sekarang tidak nembuatnya lagi. Komposisi obat itu identik dengan
komposisi obat menurut resep dari Edgar Cayce itu. Kemudian “membuat resep” obat lagi, disertai alamat dari
laboratorium yang membuat obat itu. Alamatnya sangat jauh. Suatu berita tilpon dari laboratorium itu,
menyatakan bahwa obat itu sedang dibuat. Suatu rumus sedang dikerjakan, tetapi namanya belum diketahui
bahkan sedang dicarikan, dan tidak terdapat di toko-toko kimia. Dokter-dokter yang duduk dalam komisi itu
satupun tidak ada yang percaya akan telepati. Mereka mengadakan pemeriksaan seobyektif dan sebijaksana
mungkin. Hasil observasinya mereka periksa kembali. Mereka mengetahui bahwa Cayce selama hidupnya tak
pernah melihat dan membaca buku tentang pengobatan. Orang berdatangan dari seluruh penjuru dunia untuk
berkonsultasi dengan Cayce. Cayce setiap hari didampingi oleh para dokter dapat memberikan nasihat kepada
dua orang pasien, tanpa memungut pembayaran. Diagnosanya maupun resep therapinya selalu tepat. Tetapi
kalau ia sadarkan diri kembali, ia tidak ingat apa yang telah ia katakan dalam keadaan tidak sadar. Ketika para
dokter dari komisi menanyakan dari mana ia mendapatkan diagnosa, Cayce menduga bahwa ia dapat
mengadakan kontak dengan setiap otak yang diperlukan, dan mengumpulkan segala informasi yang
diperlukan untuk membuat diagnosanya. Tetapi oleh karena otak pasien mengetahui benar kekurangan apa
yang ada pada diri Cayce, maka segala sesuatunya mudah dipahami. Cayce menanya otak orang yang sakit
itu, kemudian ia mencari otak di seluruh dunia yang bisa menerangkan kepadanya apa yang harus ia lakukan.
Ia sendiri kata Cayce hanyalah sebagaian dari seluruh otak yang ada di dunia ini. Suatu pikiran yang
mengherankan. Kalau dipindahkan ke dalam alam teknologi, mungkin seperti itulah keadaannya. Sebuah
komputer raksasa di New York, mungkin telah diisi oleh segala data yang telah diketahui di bidang fisika. Dan
jika komputer itu ditanyai oleh siapa saja dan dari mana saja datangnya pertanyaan, maka komputer itu akan
memberikan jawabannya dalam waktu kurang dari satu detik. Komputer lain di Zurich, mungkin telah diisi
dengan segala pengetahuan tentang kedokteran. Satu lagi di Moskow mungkin telah diisi dengan segala
macam fakta tentang biologi. Yang lainnya lagi di Kairo mungkin tak ada kekurangannya dalam hal astronomi.
Singkatnya segala ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini disusun menurut cabangnya, mungkin telah
disimpan dalam berbagai pemusatan. Komputer di Kairo yang dihubungkan melalui radio dengan komputer di
Zurich, mungkin akan meneruskan pertanyaan ke Zurich misalnya tentang kesehatan atau kedokteran hanya
dalam waktu beberapa per seratus detik. Otak Edgar Cayce, pasti telah berfungsi dengan cara yang sama
seperti hubungan antara komputer seperti telah diuraikan di atas. Sekarang saya berani mengajukan
spekulasi. Apakah yang akan terjadi bila semua atau beberapa otak manusia yang sangat terlatih saja
mempunyai bentuk-bentuk energi yang tak dikenal dan memiliki kemampuan untuk mengadakan hubungan
dengan semua makhluk hidup? Kita tidak banyak mengetahui tentang fungsi dan potensi dari otak manusia.
Tetapi kita mengetahui bahwa hanya sepersepuluh dari kulit otak yang berfungsi dalam benak manusia yang
sehat. Lalu sisanya yang sembilan persepuluh berbuat apa? Kenyataan bahwa orang yang tak dapat di obati
dapat sembuh dari penyakitnya hanya oleh kemauan yang keras; sudah diketahui orang banyak dan telah
dicatat secara ilmiah. Barang kali ada semacam “roda gigi” yang tidak kita ketahui, yang menggerakkan
sepersepuluh atau dua persepuluh lagi dari kulit otak sebagai tambahan. Andai kata ada satu bentuk terkuat
dari energi yang bekerja dalam otak manusia, maka harus terdapat getaran mental di mana-mana secara
bersamaan waktu. Jika ilmu pengetabuan berhasil memperlihatkan alam pikiran “liar” demikian, maka itu akan
berarti bahwa semula intelegensia di alam semesta ini merupakan bagian dari satu struktur yang sama.
Izinkanlah saya memberikan sebuah contoh. Bila suatu pulsa listrik yang amat kuat dilepaskan di bagian mana
saja dalam suatu tank yang pendek di mana terdapat berjuta-juta bakteri, maka pulsa itu akan terasa oleh tiap
bakteri di segala tempat dalam tank itu. Sentakan arus listrik itu akan dirasakan di seluruh bagian tank pada
waktu yang bersamaan. Saya menyadari sepenuhnya bahwa contoh ini sangat tidak sempurna, karena listrik
merupakan suatu bentuk energi yang dikenal dan tergantung pada kecepatan cahaya. Tetapi yang menjadi
persoalan sekarang ialah suatu bentuk energi yang ada dan efektif di mana-mana pada waktu yang
bersamaan. Saya membayangkan suatu bentuk energi yang tidak dikenal apa namanya yang suatu waktu
akan memberikan penjelasan apa yang tidak dapat dipahami. Untuk memberikan suatu kemungkinan dari
khayalan yang luar biasa ini, saya akan mengutip laporan tentang suatu eksperimen yang dilakukan tanggal 29
dan 30 Mei tahun 1965. Baik sifat maupun ruang lingkup eksperimen itu betul-betul unik. Pada hari itu, 1.008
orang pada waktu yang bersamaan, ya, bahkan pada detik yang bersamaan; secara bersama-sama
memusatkan perhatian mereka kepada gambar dan kalimat-kalimat dari sekelompok simbol, yang mereka
“radiasikan” ke ruang angkasa dengan kekuatan yang terkonsentrasikan. Bukan hanya fakta eksperimen
massal itu saja yang mengherankan, tetapi hasilnya pun demikian iuga. Tiada seorangpun di antara para
peserta yang saling mengenal satu sama lain. Tempat tinggal mereka berjauhan. satu sama lainnya terpisah
sampai ratusan mil. Namun 2,7 persen dari para peserta memberikan jawaban yang sama; mereka melihat
suatu gambar yang sama, yaitu sebuah model atom. Oleh karena di antara “kelinci-kelinci percobaan” itu tak
mungkin ada persekongkolan, maka hasil itu sangat mengejutkan; 2,7 persen dari para peserta telah melihat
“gambaran mental” yang sama. Apakah itu telepathi? Apakah itu sulap? Apakah hanya kebetulan saja?
Memang keseluruhan pokok persoalannya merupakan persoalan khayalan ilmiah, tetapi eksperimen tadi
diselenggarakan oleh para sarjana, dan benar-benar pernah terjadi.
Jelas sekali bahwa kita ini masih belum mengetahui banyak. Hasil dari ekperimen yang dilakukan oleh
sekelompok akhli fisika pada Universitas Princeton pun sama, tidak dapat dijelaskan. Ketika akhli itu menyelidiki
pendisintegrasian Meson K yang tak bermuatan listrik, mereka mencapai suatu hasil yang menurut teori tidak
mungkin, karena bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmu fisika nuklir yang sudah lama diakui kebenarannya.
Satu lagi contoh yang luar biasa. Menurut teori relativitas dari Einstein, masa dan energi hanyalah dua bentuk
yang berbeda dari satu kejadian yang sama. (E=Mc2). Atau dalam kalimat yang sederhana, dapat dikatakan
bahwa secara harafiah; masa dapat dihasilkan dari ketiadaan, dari kehampaan, atau kekosongan. Jika suatu
pen
caran energi yang kuat ditembakkan melalui inti atom yang tebal, maka pancaran energi itu akan lenyap ditelan
oleh lapangan listrik dari energi inti atom tadi, dan sebagai gantinya timbul elektron dan positron. Energi dalam
bentuk suatu pancaran bertukar wujud menjadi masa dari dua macam elektron. Bagi orang awam proses itu
memang sukar di fahami, tetapi kejadiannya memang persis demikian, tak kurang tak lebih. Kita tak usah malu
kalau tak dapat memahami Einstein. Seorang sarjana menyebut Einstein seorang yang memencilkan diri,
karena ia hanya dapat menguraikan teorinya kepada 12 orang saja.
Setelah kita berkelana ke bidang pemindahan pikiran dan fungsi otak manusia, mari kita kembali ke pokok
pembicaraan kita semula. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa dalam bulan Nopember 1961, sebelas orang
sarjana mengadakan rapat rahasia di National RadioAstronom Observatory di Green Bank, Virginia Barat
Amerika Serikat. Dalam konperensi inipun yang menjadi pokok persoalan ialah eksistensi dari intelegensia di
luar bumi. Para sarjana yang hadir dalam konperensi itu antara lain: Giuseppe Cocconi, Su Shu Huang, Philip
Morrison, Frank Drake, Otto Struve dan Carl Sagan, maupun pemenang hadiah Nobel Melvin Colvin. Pada
akhir konperensi, mereka bersama-sama menyusun rumus yang disebut Rumus Green Bank. Menurut rumus
itu setiap saat dalam bimasakti kita saja terdapat 50.000.000 kebudayaan yang berbeda-beda. Mereka sedang
mencoba mengadakan ‘ kontak dengan kita atau sedang menanti isyarat dari planet lain .
Suku-suku dari Rumus Green Bank itu memperhitungkan segala aspek dalam persoalan pokok, tetapi di
samping itu para sarjana menyediakan dua nilai kepada tiap suku. Satu nilai biasa yang dapat diterima menurut
keadaan ilmu pengetahuan kita sekarang dan satu nilai absolut minimum.
N =R+FpNeF1 FiFc,L
Dalam Rumus ini:
R+ = Jumlah rata-rata bintang baru tiap tahun yang menyerupai matahari kita.
Fp = Jumlah bintang di mana mungkin terdapat makhluk hidup.
Ne = Jumlah rata-rata planet yang mengorbit dalam etosfir sekitar mataharinya dan dengan
demikian mempunyai alasan bagi perkembangan kehidupan dengan syarat-syarat kehi dupan manusia.
F1 = Jumlah planet di mana kehidupan telah benar-benar berkembang, karena dimungkinkan oleh cara dalam
Ne di atas.
Fi = Jumlah planet yang dihuni oleh inteligensia-inteligensia dengan kemampuan mereka sendiri, untuk berbuat
sesuatu selama hidup matahari mereka (selama matahari mereka masih menjadi sumber kehidupan).
Fc= Jumlah planet yang dihuni oleh inteligensia yang sudah mempunyai kebudayaan tehnik yang sudah maju.
L = Umur kebudayaan, karena hanya kebudayaan yang dapat hidup lama yang dapat saling bertemu satu
sama lain, asal jaraknya di ketahui. Jika kita mengambil angka-angka minimum yang mungkin bagi tiap suku
dalam rumus itu kita akan mendapat nilai 40 bagi N. Tetapi jika kita ambil nilai maksimum yang mungkin ada,
maka kita mendapat N= 50.000.000,- Dengan perkataan lain, dalam hal yang paling buruk, Rumus Green
Bank itu memperhitungkan adanya empat puluh kelompok inteligensia dalam Bima Sakti kita yang sedang
mencari hubungan dengan inteligensia kita. Kemungkinan yang paling nekad ialah 50.000.000. inteligensia
diduga sedang menanti isyarat dari ruang angkasa. Semua perhitungan Green Bank tidak didasarkan kepada
angka-angka astronomi sekarang, melainkan kepada banyaknya bintang dalam bima sakti kita sejak adanya
bima sakti itu. Jika kita akui kebenaran rumus dari persekutuan otak ilmiah ini, berarti kita yakini pula bahwa di
luar bumi kita ini ratusan ribu tahun yang lalu pernah ada peradaban yang teknologinya sudah lebih maju dari
pada yang telah kita capai sekarang. Suatu keyakinan yang mendukung teori yang pernah kita kemukakan
bahwa bumi kita ini pernah mendapat kunjungan para “dewa” dari kosmos, ratusan ribu tahun yang lalu. Dr.
Carl Sagan, seorang astrobiologis, memastikan bahwa berdasarkan perhitungan-perhitungan statistik saja ada
kemungkinan bahwa bumi ini pernah dikunjungi oleh wakil-wakil dari Peradaban luar bumi; sekurangkurangnya
satu kali dalam sejarah hidupnya. Pemisalan dan pertimbangan ini mungkin mengandung khayalan
dan
angan-angan, tapi rumus Green Bank itu merupakan rumus matematika; jadi sudah jauh dari spekulasi
belaka.
Suatu cabang baru dalam ilmu pengetahuan yang disebut eksobiologi, sekarang sedang di proses dan
dikembangkan.
Suatu cabang ilmu yang baru biasanya tidak mudah untuk mendapat pengakuan. Demikian
juga
eksobiologi, kiranya akan lebih sukar lagi untuk diakui jika belum ada orang-orang yang dikenal
kecendekiaannya
yang mengabdikan diri pada pekerjaan penelitian di bidang ilmu itu; yakni penelitian
kehidupan
di luar bumi dengan bebas. Bukti apa lagi yang dapat melebihi deretan nama-nama sarjana tersebut
di
bawah ini, yang turut menguraikan cabang ilmu baru itu?  Dr. Freeman Quimby (Kepala dari Program ekso
biologi
NASA).
Ira Blei (NASA), Joshua Lederberg (NASA) L.P. Smit (NASA), R.E. Kay (NASA), Richard Young (NASA) H.S.
Brown (Institut Teknologi California) Edward Purcel (Profesor Fisika pada Universitas Hervad), R.N. Bracewells
(Institut Astronomi Radio dari Stanford), Charkes Townes (Pemenang Hadiah Nobel, ilmu Fisika tahun 1964),
P.S. Shklovski (Institut Stenberg, Moskwa) N.S. Kargashev (Institut Stenberg Moskwa) Sir Bernard Lovell
(Jodrell Bank), Wernher von Braun, Hermann Oberth, Ernst Stuhlinger (guru Von Braun) Eugene Sanger, dan
banyak lagi. Nama-nama ini, mewakili beribu-ribu ekso biologis sedunia. Para sarjana ini ingin mendobrak
segala tabu, meruntuhkan segala dinding kelesuan yang sampai sekarang selalu memagari bidang penelitian
yang dalam buku ini selalu kita pisahkan. Eksobiologi ini hadir dengan menghadapi segala macam
tantangan.Tetapi suatu waktu akan menjadi bidang penelitian yang paling menarik.
Tetapi bagaimana membuktikan adanya kehidupan di dalam kosmos sebelum ada seseorang yang pernah
berkunjung ke sana? Statistik dan perhitungan perhitungan menunjukkan bahwa kehidupan di luar bumi ini sa
ngat mungkin adanya. Di ruang angkasa terdapat bukti dari adanya bakteri dan spora. Pancaran inteligensia
yang tak dikenal telah lama dimulai, tetapi masih belum mencapai hasil yang dapat diukur, atau
diperlihatkan,dan meyakinkan. Yang kita butuhkan sekarang ialah verifikasi dari teori-teori itu. Bukti dari
permisalan-permisalan sekarang masih dicap sebagai utopi. Sekarang, NASA sudah siap dengan program
penelitian yang ditujukan pada pencarian bukti tentang adanya kehidupan di dalam kosmos. Sekarang ada
delapan macam penyelidikan yang unik dan rumit, yang masing-masing dimaksudkan untuk memperlihatkan
bukti tentang adanya ke hidupan pada planet-planet dalam tata surya kita. Penyelidikan-penyelidikan itu
berupa: 1. Optical Rotary Dispersion Profiles. 2. The Multivator. 3. The Vidicon Microscope.
4. The J-Band Life Ditector. 5. The Radioisotope Biochemical Probe. 6. The Mass Spectrometer. 7. The Wolf
Trop. 8. The Ultraviolet Spectrophotometer.
Di bawah ini beberapa petunjuk yang dapat memberikan sedikit keterangan tentang apa yang ada di balik
nama-nama teknis penyelidikan itu. Petunjuk inipun bagi orang awam akan tambah membingungkan. Optical
Rotary Dispersion Profiles ialah nama bagi penyelidikan di laboratorium dengan menggunakan lampu sorot
pencari yang dapat berputar. Begitu lampu ini mendarat di atas suatu planet, langsung memancarkan cahaya
dan mencari molekul-molekul. Molekul adalah persyaratan bagi kehidupan. Satu di antara molekul-molekul ini
ialah molekul DNS yang berbentuk spiral besar, yang terdiri dari campuran-campuran kimiawi yang tersusun
berurutan yakni: nitrogen, gula, dan asam fosfor. Kalau pancaran sinar lampu sorot itu mengenai molekul;
pancarannya akan terhenti, karena adenin basa nitrogen dalam campuran kimiawi dengan gula mempunyai
efek yang “secara optic aktif “. Karena kombinasi gula dalam molekul DNS itu “secara optic aktif”, maka untuk
dapat segera mengirim isyarat ke bumi; pancaran sinar pencari itu hanya tinggal melawan kombinasi adenin
gula saja. Isyarat-isyarat itu dikirim ke bumi dan akan menjadi bukti tentang adanya kehidupan di planet yang
tidak dikenal itu. Multivator terdiri dari suatu alat penyelidikan yang beratnya hanya satu pon, yang dibawa oleh
roket sebagai beban ringan saja, dan dilepaskan bila roket itu mendekati sebuah planet. Laboratorium mini ini,
jika sudah ada pada posisinya yang tepat di atas planet akan melakukan sebanyak lima belas macam
eksperimen dan mengirimkan hasilnya ke bumi.
Radio isotope Biochemical Probe adalah nama resminya. Nama samarannya ialah Gulliver. Alat ini harus dapat
mengusahakan pendaratan empuk di atas suatu planet, dan setelah mendarat segera meluncurkan tiga utas
tali yang dilumuri dengan perekat ke tiga arah berlainan. Panjangnya masing-masing 45 kaki. Setelah
beberapa menit, tiap utas tali itu secara otomatis akan ditarik lagi masuk ke dalam alat penyelidik. Apa saja
yang melekat pada tali itu; debu, jasad renik atau sejenis jasad biokimiawi, akan direndam dalam suatu cairan
tertentu bersama tali tadi. Cairan ini selain mengandung jasad-jasad yang tadi melekat pada tali, akan dibubuhi
pula dengan isotop karbon C 14 yang radioaktif. Secara logis organisme-organisme renik yang ada dalam
cairan itu akan mengeluarkan dioksida karbon C02 melalui metabolismenya. Gas dioksida karbon dengan
mudah dapat dipisah kan dari cairan itu, dan dimasukkan ke dalam alat pengukur radioaktivitas dari gas yang
mengandung C 14 itu dan mengirimkan hasil pengukurannya ke bumi. Wolf Trap juga sebuah laboratorium
mini, semula oleh penemunya disebut Bug Detector. Tetapi teman-temannya mengganti nama itu menurut
nama atasan mereka yang bernama Wolf Vishniac. Alat inipun diharapkan dapat mendarat dengan empuk di
atas sebuah planet. Begitu mendarat alat itu akan mengukurkan sebatang tabung hampa udara yang ujungnya
sangat mudah pecah. Apabila tabung itu menyentuh tanah, ujungnya akan pecah, dan segala contoh tanah
akan diisap ke dalam tabung itu. Alat ini juga mengandung  berbagai media steril yang dapat menjamin
pertumbuhan bagi tiap jenis bakteri dengan cepat. Perkembang-biakan bakteri itu akan membuat media cair itu
menjadi berembun, dan derajat keasamannya berubah. Kedua perubahan itu akan dapat di ukur dengan
mudah. Intensitas embunnya diukur oleh pancaran sinar dan photosel, sedangkan perubahan keasamannya
diukur oleh alat pengukur pH elektrik. Hasil dari kedua pengukuran ini pun dapat memberikan kesimpulan
tentang adanya kehidupan yang tidak kita kenal.
Jutaan dollar akan diperlukan untuk membiayai program NASA dan kerjasama untuk menyelidiki dan mencari
bukti tentang adanya kehidupan di luar bumi kita ini.
Penyelidikan biologis pertama akan dilakukan di planet Mars. Tak ayal lagi manusia akan mengikuti hasil
beberapa laboratorium mini yang sedang merintis jalan itu. Para pejabat Senior NASA semuanya sepakat
bahwa astronot pertama akan mendarat di planet rnars sekitar tanggal 23 September 1986. Penentuan
tanggal secara pasti itu cukup beralasan. Tahun 1986 itu, merupakan tahun yang tidak banyak ativitas
suryanya. Dr. Von Braun sependapat pula bahwa manusia akan dapat mendarat di planet mars sekitar tahun
1982. NASA tidak kekurangan sumber teknik, yang dibutuhkannya hanyalah bantuan keuangan dari Congress
Amerika Serikat. Di samping segala kewajiban Amerika Serikat, sekarang ada dua penelan biaya yang besar;
yakni perang Vietnam, dan program ruang angkasa ini. Kedua anggaran biaya ini merupakan beban paling
berat bagi negara terkaya di dunia ini.
Rencana penerbangan ke mars memang ada. Kapal ruang angkasanya sudah dirancang; Sekarang hanya
tinggal membuatnya. Model dari pesawat ruang angkasa itu sekarang sudah ada di atas meja tulis seseorang
yang luar biasa di Hantsville, ialah Dr. Ernst Stuhlinger. Stuhlinger ini ialah Direktur dari Research Project
Laboratory yang merupakan bagian dari George C Marshall Space Flight Centre di Huntsville, negara bagian
Alabama. Stuhlinger membawahi lebih dari 100 orang pembantu dalam laboratoriumnya. Mereka sedang
membuat berbagai eksperimen fisika bidang plasma, nuklir dan thermo. Mereka juga sibuk dengan penelitian
dasar mengenai arah proyek di kemudian hari setelah Mars.
Penelitian mesin roket elektrik bagi masa depan selamanya akan dihubungkan dengan nama Stuhlinger. Ia
adalah perancang pesawat ruang angkasa yang akan menerbangkan manusia ke planet merah dalam abad
kita ini. Dr. Stuhlinger dibawa ke Amerika Serikat oleh temannya Dr. Wernher Braun segeera setelah Perang
Dunia  II berakhir. Mereka berdua membuat roket bagi Angkatan Udara di Fort Bliss. Kemudian, setelah pecah
perang Korea, kedua orang perintis peroketan ini pindah ke Huntswille diikuti 162 rekan sebangsanya (Jerman)
untuk menciptakan suatu proyek yang Amerika sendiripun yang sudah terbiasa pada segala sesuatu yang
hebat-hebat belum pernah melihatnya sebelumnya.
Pada waktu itu Huntsville hanyalah sebuah kota kecil yang sunyi di penghujung Pegunungan Appalacia.
Dengan kedatangan akhliakhli roket ini, kota kapas kecil itu berubah menjadi sebuah sirkus pabrik. Iandasan
percobaan roket, labora torium, pelabuhan udara raksasa, dan bangunan bangunan kantor beratap seng
gelombang bermunculan hanya dalam beberapa tahun saja. Sekarang Huntsville berpendudukl50.000 orang.
Kota kecil itu telah bangun dari tidurnya, dan penduduk telah menjadi penggemar ruang angkasa yang
antusias.
Ketika roket Redstone pertama menggelegar meluncur meninggalkan landasan percobaan nya, banyak
penduduk kota itu yang panik dan berlarian masuk ke kamar di bawah tanah. Sekarang jika roket Saturn
sedang dicoba dan guruhnya terdengar di seluruh kota bagaikan dunia ini akan kiamat dalam beberapa detik
saja, tak ada seorang pun yang memperhatikannya.orang-orang Hunts wille selalu membawa tutup telinga,
seperti orang orang London selalu membawa payungnya. Mereka menyebut kotanya “Kota Roket”, dan
apabila Congress tidak memberikan bantuan keuangan yang jumlahnya ratusan ribu bahkan bisa sampai
jutaan dolar itu, mereka marah-marah dan mulai beragitasi. Mereka mempunyai alasan untuk merasa bangsa
dengan orang-orang “Jerman” nya dan NASAnya itu karena Hunstville telah menjadi pusat NASA terbesar di
seluruh dunia. Roket yang menjadi pokok pembicaraan di seluruh dunia, mulai dari jenis Redstone sampai ke
roket raksasa Saturn V, dipikirkan dan dirancang di kota ini. Pada saat akan diluncurkannya tanki yang berisi
880.000 galon bahan bakar dengan roket raksasa yang beratnya hampir 3.000 ton dan dapat menghasilkan
tenaga dorong sebesar 150.000 tenaga kuda; di kota Huntsville bekerja sekitar 7.000 orang dari berbagai
bidang yang ada hubungannya dengan peroketan; akhli teknik, insinyur dan para sarjana lainnya, di bawah
pimpinan Von Braun; untuk mencapai tujuan yang besar, yakni menaklukkan ruang angkasa. Dalam tahun
1967 kira-kira 300.000 orang sarjana dari segala bidang bekerja pada Program Ruang Angkasa Amerika.
Lebih dari 20.000 perusahaan industri mengerjakan pekerjaan penelitian terbesar dalam sejarah.
Ketika saya berkunjung ke Huntsville, Dr. Pscherra seorang sarjana Australia mengatakan bahwa kelompok
penelitian secara konstan harus mengembangkan bahan-bahan baru yang sebelumnya belum pernah
dihasilkan di dunia ini. “Lihat ini” katanya sambil memperlihatkan sebuah silinder besar. Dari silinder itu
terdengar bunyi dengung dan gemuruh. “Dalam silinder ini, kami sedang membuat suatu eksperimen
pelumasan dalam ruang yang sama sekali hampa udara. Tahukah anda bahwa kami tak dapat menggunakan
minyak pelumas yang sekarang telah dihasilkan di dunia? Minyak pelumas itu semuanya akan hilang daya
lumasnya dalam ruang angkasa, Dengan minyak pelumas yang ada sekarang, motor listrik yang paling
sederhanapun akan berhenti berfungsi hanya dalam tempo setengah jam setelah berada dalam ruang hampa
udara. Tak ada jalan lain bagi kami selain berusaha sendiri untuk menemukan bahan pelumas yang dapat
berfungsi sempurna walaupun dalam ruang yang sama sekali hampa udara”. Dari ruang lain terdengar suara
deruman dan lengkingan. Dua buah cotok raksasa yang ditancapkan kuat-kuat di lantai, sekarang mencoba
menarik dan mencabik selembar logam yang tebalnya empat inci.
“Srentetan percobaan lain yang ingin kami lepaskan” kata Pcherra “Tetapi pengalaman kami menunjukkan,
bahwa logam campuran yang ada sekarang tak dapat menahan tekanan-tekanan dalam ruang angkasa. Oleh
karena itu kami harus menemukan logam campuran yang memenuhi syarat. Itulah alasan dari pengujian
logam ini dan eksperimen- eksperimen yang mungkin dapat menghadapi segala keadaan di ruang angkasa.
Juga harus kami kembangkan teknik baru dalam pengelasan karena sambungan-sambungan las itu nantinya
akan kena hawa dingin dan panas, akan mengalami getaran, kekuatan daya tarik, dan tekanan. Karena itu
kami harus menemukan batas-batas kekuatan sambungan las”.
Tuan rumah yang mengantar kami itu melihat pada jamnya. Dr. Pscherra melihat pada
jamnya. Tiap orang melihat pada jamnya masing-masing. Pegawai NASA tentu sudah tidak ada yang
memperhatikan ini. Mula-mula seorang pengunjung tentu akan heran, mengapa demikian. Tetapi lama
kelamaan ia akan menjadi terbiasa, karena hal itu bagi pegawai NASA baik di Cape Kennedy, atau Houseton
ataupun di Huntsville, sudah
merupakan gerak isyarat baku. Mereka kelihatannya selalu akan menghitung detik-detik terakhir; empat tiga
dua satu nol. Dengan kendaraan, berjalan kaki memasuki ruangan demi ruangan, gang demi gang, dan pintu;
akhirnya setelah melalui banyak pengawas
keamanan, saya sampai ke ruang kerja Tuan Pauli, yang juga berasal dari Eropa yang berbahasa Jerman. Ia
sudah tiga belas tahun bekerja di NASA. Saya memakai helm putih dengan simbol NASA. Tuan Pauli
membawa saya ke landasan percobaan roket Saturn V.
Kata-kata  “landasan percobaan” yang amat sederhana itu adalah beton raksasa yang
beratnya beberapa ratus ton, tingginya beberapa lantai, mempunyai lift dan derek, dan dikelilingi oleh jalur-jalur
landai di mana terdapat instalasi-instalasi jaringan kabel listrik yang panjangnya bermil-mil dan
membingungkan. Begitu peralatan itu di hidupkan, roket Saturn V menggelegar. Guruhnya terdengar sampai
sejauh 12 mil dari tempat peluncuran.  Selama percobaan berlangsung, landasan yang dipancangkan dalam
beton dan batu karang itu dapat terangkat sarnpai setinggi tiga inci dari dasarnya. Untuk pendinginan, 333.000
galon air per detik dipompakan melalui suatu pintu air. Untuk keperluan pendinginan percobaan roket di atas
landasan percobaan, NASA telah memasang pompa air dengan jumlah kapasitas yang cukup untuk air minum
kota sebesar Manchester. Suatu percobaan saja akan memakan biaya pendinginan sebesar $14.000.000.
Ruang angkasa itu memang tidak murah. Huntsvilles ialah salah satu dari sekian banyak pusat NASA. Kita
perlu mencatat ini karena, pusat-pusat NASA itu mungkin nantinya dijadikan stasiun pemberangkatan bagi
penerbangan ruang angkasa. Pusat lainnya adalah seperti yang tercantum di bawah ini:  Pusat penelitian
Angkatan Darat, MoffetField, California.
Pusat Penelitian Elektronik, Cambridge, Massachusetts. Pusat Penelitian Penerbangan, Edwards, California.
Pusat Penerbangan Ruang Angkasa Goddard, Greenbelt, Maryland. Laboratorium Propulsi, tasadena,
California. Pusat Ruang Angkasa John F. Kennedy, Florida. Pusat Penelitian Langley, Hampton, Virginia.
Pusat Penelitian Lewis, Cleveland Ohio. Pusat Pesawat Ruang Angkasa Berawak, Houston, Texas. Stasiun
Pengembangan Roket Nuklir, Jacoss Flats, Nevada. Kantor Operasi Peluncuran Pacific, Lompoc, California.
Stasiun Wallops, Wallops Island, Virginia. Kantor Operasi Bagian Barat, Santa Monica, California. Markas
Besar NASA, Washington D.C. Industri pesawat ruang angkasa telah lama melampaui industri mobil yang
merajai pasar. Pada tanggal 1 Juni 1967, 22.828 orang bekerja di Pusat Ruang Angkasa di Cape Kennedy.
Anggaran Belanja tahunan untuk stasiun ini saja dalam tahun 1967, besarnya $ 475.784.000. Apakah semua
ini, disebabkan oleh adanya beberapa orang yang kegila-gilaan ingin terbang ke bulan? saya telah memberikan
beberapa contoh yang meyakinkan tentang apa yang telah kita terima dari penelitian penerbangan ruang
angkasa sekarang (yang semuanya hanya merupakan hasil sampingan), mulai dari barang-barang keperluan
sehari-hari sampai ke alat-alat kedokteran yang pelik rumit, yang dapat menyelamatkan jiwa orang tiap jam di
seluruh dunia. Teknologi super, dalam masa perkembangannya betul-betul tidak merupakan momok.
Teknologi super itu membawa umat manusia ke masa depan yang mulai mengadakan pembaharuan tiap hari
dengan langkah yang cepat. Penulis sempat menanyakan kepada Wernher Von Braun, bagaimana
pendapatnya tentang hipotesa yang dikemukakan dalam buku ini. “Dr. Von Braun, apakah anda menganggap
mungkin, bahwa kita akan menemukan kehidupan di planet lain dalam tata surya kita?”. “Saya kira mungkin,
kita akan menemukan kehidupan yang lebih rendah tarafnya di planet
Mars”. “Apakah anda menganggap mungkin, bahwa kita bukanlah satu-satunya inteligensia yang ada di alam
semesta ini ?”  “Saya kira sangat mungkin, bahwa bukan
hanya kehidupan nabati dan hewani saja yang ada dalam alam semesta yang tanpa batas ini, melainkan juga
makhluk hidup yang berakal. Penemuan kehidupan demikian itu memang merupakan tugas yang sangat
menarik dan menyenangkan. Tetapi kalau mengingat jaraknya yang begitu jauh antara tata surya kita dan yang
lain, dan jarak yang lebih jauh lagi antara bimasakti kita dan tata galaksi lainnya; maka diragukan, apakah kita
akan berhasil membuktikan adanya bentuk kehidupan demikian atau mendapat hubungan langsung dengan
mereka”. “Apakah masuk di akal bahwa di galaksi kita ada atau pernah ada inteligensia yang lebih tua, lebih
maju budaya tekniknya ?. “Sampai sekarang, kita belum mempunyai bukti atau indikasi, bahwa di galaksi kita
ada atau pernah ada makhluk hidup yang lebih tua dan le bih maju dari kita sendiri. Tetapi berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan statistik dan falsafah, saya yakin akan adanya makhluk hidup yang sudah maju
itu. Tetapi harus saya tekankan, bahwa kita tidak mempunyai landasan ilmiah yang kuat bagi keyakinan itu”.
“Apakah ada kemungkinan bahwa inteligensia yang lebih tua dari kita, pernah berkunjung ke bumi kita ini di
masa yang telah silam?”. “Saya tidak akan menyangkal kemungkinan ini. Tetapi sejauh pengetahuan saya
sebenarnya belum pernah ada suatu studi arkeologis pun yang pernah memberikan landasan spekulasi
demikian”.
“Sampai di sini, berakhirlah percakapan saya dengan “Bapak roket Saturn” itu. Saya tak dapat menceriterakan
kepadanya secara mendetail, tentang segala penemuan yang aneh-aneh; tentang hal-hal yang menggelikan,
tentang buku-buku kuno yang mengandung teka-teki yang tak terpecahkan dan pertanyaan yang tak terhitung
banyaknya dari penemuan-penemuan arkeologis; jika dilihat dengan kaca mata ruang angkasa. Tetapi Dr. Von
Braun menanti pendokumentasian buku ini.
HARI   ESOK
Dimanakah kita berada sekarang? Apakah pada suatu hari nanti manusia akan menguasai ruang angkasa?
Apakah makhluk hidup dari daerah kosmos yang tak ada batasnya ini pernah ada yang berkunjung ke bumi,
jauh di masa silam? Apakah ada inteligensia yang tak dikenal di suatu  tempat di alam semesta ini yang sedang
mencoba mencari hubungan dengan kita? Apakah zaman kita ini, dengan segala penemuannya yang
membawa masa depan yang menggemparkan itu benar-benar mengerikan ?
Apakah hasil penelitian yang hebat hemat itu harus dirahasiakan?
Apakah ilmu kedokteran atau obat-obatan dan biologi akan mampu menghidupkan kembali mumi-mumi yang
sudah membeku? Apakah manusia bumi akan dapat berkoloni atau bermukim di planet lain? Apakah mereka
akan dapat bersahabat dengan penghuni planet itu? Apakah manusia akan menciptakan bumi kedua, ketiga
dan keempat?
Apakah suatu hari kelak, para dokter akhli bedah akan digantikan oleh robot-robot spesial? Apakah rumah
sakit pada tahun 2.100 nanti akan menjadi penjual onderdil atau spareparts bagi orang-orang cacad? Apakah
di masa mendatang yang dekat ini akan ada kemungkinan untuk memperpanjang umur manusia tanpa batas
dengan; jantung, paru paru, ginjal dan lain-lain organ tubuh buatan? Apakah khayalan Huxlby tentang “Dunia
baru yang berani” dengan keganasan dan kemustahilan yang menakutkan itu, akan menjadi kenyataan?
Ringkasan dari pertanyaan-pertanyaan demikian dengan mudah dapat dikumpulkan sampai setebal buku
tilpon kota New York. Setiap hari selalu ada penemuan baru di suatu tempat di dunia ini. Setiap hari selalu
timbul pertanyaan yang jawabnya “mustahil” Universitas Edinburgh, telah menerima hadiah pendahuluan
sebesar
$ 6.480.000 dari Nuffield Trust untuk pembuatan suatu komputer yang cerdik. Prototype dari komputer ini
disuruh bercakap-cakap dengan seorang pasien. Setelah percakapan selesai, pasien itu tidak percaya bahwa
ia telah bercakap-cakap dengan sebuah mesin komputer. Pencipta komputer itu  -Dr. Donald Michiemenyatakan
bahwa mesin itu sudah mulai mengembangkan kehidupan orang.
Ilmu pengetahuan baru itu disebut “Futurologi”. Tujuannya ialah perencanaan,
penyelidikan dan pemahaman masa depan dengan menggunakan segala teknik dan cara-cara mental yang
ada. Tanki-tanki otak alias pusat-pusat penelitian bermunculan di mana-mana di dunia ini. Arti dari semua itu
ialah, biara-biara penuh sarjana masa sekarang yang sedang memikirkan hari esok. Di Amerika saja terdapat
164 buah pusat penelitian demikian. Mereka mendapat komisi dari pemerintah dan dari perusahaanperusahaan
industri berat. Pusat penelitian yang paling ternama ialah Rand Corporation di Santa Monica di
California.
Pusat penelitian itu didirikan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat dalam tahun 1945. Alasannya?
Para
perwira tinggi ingin memiliki program penelitian sendiri mengenai peperangan antar benua. Sekarang di
Gedung
Pusat Penelitian yang
berlantai dua itu bekerja 850 orang ilmiawan pilihan. Gagasan dan rencana pertama tentang petualangan umat
manusia yang paling mustahil, diciptakan di pusat penelitian ini. Sudah sejak tahun 1946 para sarjana Rand
menetapkan kegunaan militer dari kapal ruang angkasa. Ketika Rand mengembangkan program pengorbitan
berbagai macam satelit buatan dalam tahun 1951, gagasan itu dianggap utopi. Sejak berfungsinya Rand, dari
pusat penelitian ini, dunia telah menerima 3.000 buah laporan yang lengkap tentang phenomena yang sampai
sekarang belum diobservasi. Para sarjana Rand telah menerbitkan 110 buah buku lebih, yang mendahului
kebudayaan dan peradaban kita secara tak terduga.
Penjengukan ke dalam pekerjaan penelitian itu tak akan ada akhirnya. Pekerjaan serupa bagi masa depan
sedang dilaksanakan pula dalam Institut Hudson di Harmon on Hundson, New York; Pusat Tempo bagi Studi
lanjutan, kepunyaan General Electric di Santa Barbara, California; Institut kecil Arthur, di Cambridge,
Massachusetts, dan Institut Battella di Columbus, Ohio. Pemerintah dan perusahaan-perusahaan tak dapat
berbuat apa-apa mengenai masa depan tanpa para akhli pikir ini. Pemerintah harus membuat keputusan
militernya jauh di muka. Perusahaan-perusahaan harus memperhitungkan investasinya puluhan tahun di
muka. Futurologi harus merencanakan perkembangan ibu kota negeri seratus tahun atau lebih di muka.
Diperlengkapi dengan pengetahuan masa
sekarang, tidaklah sulit bagi futurologi untuk menafsirkan; katakanlah, perkembangan Mexico di masa lima
puluh tahun mendatang. Dalam membuat ramalan demikian, setiap fakta yang masuk akal seperti teknologi
yang sudah ada sekarang, alat-alat komukasi dan transport, aliran-aliran politik, dan oposisi yang potensial di
Mexico, harus turut diperhitungkan. Kalau ramalan ini sekarang mungkin dibuat, maka inteligensia yang belum
dikenal itu mungkin telah membuat  ramalan semacam ini 10.000 tahun yang lalu. Manusia selalu didorong
oleh keinginan untuk meramalkan sesuatu yang jauh di muka dan untuk menyelidiki masa depan dengan
segala kemampuan yang dimilikinya. Tanpa penyelidikan masa depan ini, barangkali kita tak akan pernah
mampu menyelesaikan keruwetan masa silam. Karena siapa tahu kalau-kalau petunjuk untuk menyelesaikan
masa silam kita itu tidak terdapat di tempat sekitar penggalian-penggalian arkeologis,atau kalau-kalau petunjuk
itu tidak terperhatikan ada di bawah telapak kaki kita, karena kita tidak
mengetahui apa yang harus kita perbuat dengan itu. Itu satu-satunya alasan bagi saya, mengapa saya
menyarankan suatu “Tahun arkeologis utopia”. Demikian pula alasannya, karena saya tak mampu
mempercayai kebijaksanaan pola pemikiran kuno, maka saya tidak meminta siapa pun untuk “mempercayai”
hipotesa saya. Namun demikian, saya mengharapkan dan berdoa, bahwa waktu segera akan matang untuk
menyerang teka-teki tentang masa silam tanpa prasangka, dengan memanfaatkan sepenuhnya segala
teknologi yang sudah diperhalus. Bukanlah kesalahan kita, bila di alam semesta ini terdapat jutaan planetplanet
lain. Bukan pula kesalahan kita, kalau patung To komai di Jepang yang sudah beribu-ribu tahun tuanya
itu,
mempunyai kancing-kancing modern dan lubang-lubang mata itik di helmnya. Bukan kesalahan kita, jika di
Palaque
terdapat relief batu. Bukan pula kesalahan kita, bila Laksamana Piri Reis tidak membakar peta-peta
kunonya.
Bukan pula kesalahan kita, kalau buku-buku dan tradisi-tradisi kuno dari sejarah manusia, memperlihatkan
begitu banyak hal-hal yang menggelikan.Tetapi adalah mutlak kesalahan kita, apabila kita mengetahui semua
itu, tetapi tidak memperhatikannya dan menolak untuk menganggapnya serius. Manusia menghadapi masa
depan yang hebat, masa depan yang akan melebihi kehebatan masa silamnya. Kita membutuhkan penelitian
ruang angkasa, penelitian masa depan, dan keberanian untuk menangani proyek-proyek yang sekarang
kelihatannya mustahil. Misalnya, proyek penelitian bersama mengenai masa silam yang mendatangkan kesankesan
berharga tentang masa mendatang. Kesan-kesan yang kemudian akan dibuktikan dan akan menerangi
sejarah
umat manusia demi keuntungan generasi-generasi penerus.
TAMAT

tq da berkunjung